Mortalitas dan Status Resistensi Nyamuk Aedes aegypti (Linnaeus, 1762) dari Kebumen terhadap Insektisida Alpha-cypermethrin dan Deltamethrin
Dian Sofiana, Dr. Dra. Raden Roro Upiek Ngesti Wibawaning Astuti, B.Sc., DAP&E. M. Biomed
2025 | Tesis | S2 Biologi
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit DBD menyebabkan masalah kesehatan di Indonesia karena telah menjadi penyakit endemik dengan kasus yang terus mengalami peningkatan. Di Kabupaten Kebumen dilaporkan pada tahun 2023 ditemukan 81 kasus dan meningkat sampai 254 kasus di 13 Desember 2024. Salah satu upaya pengendalian vektor yang dapat dilakukan secara kimiawi adalah menggunakan insektisida alpha-cypermethrin dan deltamethrin. Kedua insektisida tersebut dapat mengganggu sistem saraf nyamuk sehingga menyebabkan nyamuk mati. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kepadatan larva dan telur, mortalitas dan status resistensi nyamuk Ae. aegypti terhadap insektisida alpha-cypermethrin dan deltamethrin serta tingkat pemahaman responden tentang penyakit DB, kebersihan terkait keberadaan kontainer bekas dan frekuensi penggunaan obat anti nyamuk. Metode penelitian meliputi survei kepadatan larva, kepadatan telur, pengujian resistensi dengan CDC bottle bioassay dan kuesioner kepada responden. Hasil pengukuran survei kepadatan larva Aedes spp. di Desa Sarwogadung dan Karangsambung berdasarkan parameter HI, CI, dan BI masih dalam kategori sedang serta ABJ < 95>Ae. aegypti berdasarkan parameter OI dikategorikan kepadatan sedang di dalam rumah dan kepadatan tinggi di sekitar rumah. Mortalitas 95%-100% ditunjukkan pada uji insektisida alpha-cypermethrin, sehingga nyamuk dengan status rentan menuju resisten. Mortalitas nyamuk Ae. aegypti terhadap insektisida deltamethrin adalah 98,7%-100%, maka berstatus rentan. Hasil kuesioner menunjukkan responden telah memiliki pengetahuan yang cukup tentang DB, namun ditemukan banyak kontainer bekas dan sering menggunakan obat nyamuk.
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a disease caused by dengue virus, which is transmitted to humans through the bite of Aedes aegypti. DHF causes health problems in Indonesia because it has become an endemic disease with cases continuing to increase. In Kebumen Regency, 81 cases were reported in 2023, increasing to 254 cases by December 13, 2024. Once chemical vector control method that can be implemented is the use of alpha-cypermethrin and deltamethrin insecticides. These insecticides disrupt the mosquito's nervous system, leading to its death. The objective of this study was to analyze the larval density and eggs, mortality and resistance status of Ae. aegypti to alpha-cypermethrin and deltamethrin insecticides, as well as respondents' understanding of dengue fever, hygiene related to the presence of used containers, and frequency of anti-mosquito use. The research methods included surveys of larval density, egg density, resistance testing using CDC bottle bioassay, and questionnaires administered to respondents. The result of Aedes spp. larval density survey in Sarwogadung dan Karangsambung Villages based on HI, CI, BI parameters was categorized as moderate, and LFI below 95%. The Ae. aegypti egg density survey based on the OI parameter is categorized as moderate density indoors and high density outdoors. Mortality rates of 95%-100% were observed in alpha-cypermethrin insecticide test, showed that mosquitoes with a developing resistance. The mortality rate of Ae. aegypti to deltamethrin insecticide was 98,7%-100%, showed a susceptible status. Quetionnaire results showed that respondents had sufficient knowledge about DF, but many used containers and frequently used anti-mosquito.
Kata Kunci : Aedes aegypti, Alpha-cypermethrin, CDC Bottle Bioassay, Deltamethrin, Resistensi