Laporkan Masalah

MENCARI RUANG HIDUP DI BATAS PAGAR BANDARA : STRATEGI PENGELOLAAN DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN PETANI LAHAN BERPASIR DI PAKU ALAMAN GROUND, KULON PROGO

Yeny Prameswari, Porf. Dr. Pujo Semedi Hargo Yuwono, M.A.

2025 | Tesis | S2 Antropologi

Ketika masyarakat Palihan berhenti menanam padi, keberkahan Dewi Sri seakan hilang. Nilai kesuburan yang dahulu menyatu dengan tanah dan laku bertani tergeser oleh logika pasar pembangunan bandara YIA—sebuah bentuk kapitalisme negara dan modernitas yang meretakkan kosmologi lokal. Setelah terusir pada 2017, sebagian warga pada 2024 kembali membuka lahan yang secara resmi dilarang PT Angkasa Pura, meski sebelumnya beradaptasi dengan pekerjaan non-pertanian seperti driver online, pegawai koperasi, tukang parkir, atau membuka warung. Langkah ini memunculkan pertanyaan: mengapa mereka kembali dengan risiko pengusiran ulang, dan bagaimana mereka menavigasi strategi pengelolaan lahan?

Tesis ini menjawabnya melalui pendekatan politik-ekonomi dan sekaligus menelusuri hubungan sakral antara masyarakat, tanah, padi, serta kekuatan tak kasat mata yang diwariskan lewat ingatan kolektif dan praktik ritual berkelindan dengan Islam dan kebudayaan Jawa sebagai bahan diskusinya. Penelitian dilakukan dengan observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi literatur, melibatkan enam warga Palihan yang pertama membuka lahan greenbelt serta enam narasumber tambahan dari desa sekitar (Jangkaran, Sindutan, Glagah).

Hasil studi menunjukkan bahwa kembalinya masyarakat ke lahan bukan semata dorongan ekonomi atau bentuk perlawanan, melainkan usaha mempertahankan logika hidup yang tercerabut. Meski kapitalisme mengubah sebagian interaksi sakral dengan tanah, bertani tetap menjadi cara paling akrab untuk bertahan. 


Kata kunci : Pembangunan bandara, Yogyakarta International Airport, kapitalisme negara, retakan kosmologi, kembali bertani.


When the people of Palihan stopped planting rice, it seemed that the blessings of Dewi Sri vanished. The value of fertility, once inseparable from the land and agricultural practices, was displaced by the market logic of the Yogyakarta International Airport (YIA) development—a form of state capitalism and modernity that fractured the local cosmology. After being displaced in 2017, some residents in 2024 returned to cultivate land officially prohibited by PT Angkasa Pura, even though they had previously adapted to non-agricultural work such as online driving, cooperative employment, parking attendants, or running small stalls. This raises the question: why did they return despite the risk of eviction, and how did they navigate land management strategies?

This thesis answers these questions using a political-economic approach while also exploring the sacred relationship between the community, land, rice, and unseen forces transmitted through collective memory and ritual practices intertwined with Islam and Javanese culture. The study was conducted through participatory observation, in-depth interviews, and literature review, involving six Palihan residents who first reclaimed greenbelt land and six additional informants from neighboring villages (Jangkaran, Sindutan, Glagah).

The findings indicate that the community’s return to the land was not solely driven by economic motives or resistance, but by the effort to maintain a life logic that had been uprooted. Although capitalism altered some sacred interactions with the land, farming remains the most intimate way to survive.

Keywords: Airport development, Yogyakarta International Airport, state capitalism, cosmological rift, return to farming.


Kata Kunci : Pembangunan bandara, Yogyakarta International Airport, kapitalisme negara, retakan kosmologi, kembali bertani.

  1. S2-2025-527281-abstract.pdf  
  2. S2-2025-527281-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-527281-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-527281-title.pdf