Analisis Pengaruh Transformasi Digital terhadap Kinerja Keselamatan dan Kesehatan Konstruksi di Indonesia
Zahrotul Mufidah, Ir. Tantri Nastiti Handayani, S.T., M.Eng., Ph.D.IPM.;Ir. Ashar Saputra, S.T., M.T., Ph.D., IPM., ASEAN.Eng.
2025 | Tesis | S2 Teknik Sipil
Rendahnya penerapan teknologi dalam manajemen keselamatan konstruksi
di Indonesia menjadi tantangan tersendiri di tengah tuntutan peningkatan
kinerja keselamatan. Meskipun transformasi digital telah berkembang pesat di
sektor konstruksi global dan terbukti mendukung efektivitas pengelolaan keselamatan,
penerapannya di Indonesia masih terbatas dan belum terintegrasi secara optimal.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menelaah teknologi digital keselamatan
kerja yang paling potensial diadopsi pada industri konstruksi di Indonesia; (2)
menelaah manfaat implementasi teknologi digital terhadap kinerja keselamatan
konstruksi; (3) menelaah faktor penghambat dalam penerapannya; (4) mengevaluasi
strategi implementasi yang paling relevan untuk meningkatkan keselamatan
konstruksi; dan (5) mendeteksi perbedaan persepsi antara perusahaan BUMN dan
swasta, serta antara responden bersertifikat dan tidak bersertifikat, terhadap
faktor-faktor yang memengaruhi transformasi digital keselamatan.
Survei kuantitatif dilakukan menggunakan kuesioner kepada pemangku kepentingan
konstruksi yang memahami isu keselamatan dan adopsi teknologi digital. Sebanyak
123 tanggapan profesional dinyatakan valid untuk dianalisis menggunakan teknik
pemeringakatn skor rata-rata (mean score ranking) serta Uji Mann-Whitney
untuk menilai perbedaan persepsi kelompok responden. Instrumen disusun
berdasarkan kajian pustaka yang mendalam dan divalidasi melalui wawancara
dengan lima ahli.
Hasil studi menunjukkan bahwa CCTV,BIM, dan aplikasi keselamatan merupakan teknologi yang paling menonjol dalam penerapan. Tiga manfaat utama yang dirasakan mencakup peningkatan pelaporan dan pengawasan, visualisasi kondisi lapangan, serta efektivitas pelatihan. Hambatan utama meliputi tingginya biaya, keterbatasan pelatihan SDM, dan kurangnya pengetahuan terkait teknologi. Adapun strategi yang dianggap paling efektif mencakup peningkatan pelatihan, pembagian tim tersegmentasi berbasis teknologi, dan penguatan regulasi. Selain itu, hasil analisis menunjukkan bahwa faktor utama dinilai serupa oleh semua kelompok responden, baik ditinjau dari jenis perusahaan (BUMN dan swasta) maupun kualifikasi profesional (bersertifikat atau tidak), meskipun terdapat variasi penilaian pada papan informasi digital, GIS, dan fotogrametri yang lebih diapresiasi BUMN, serta hambatan dukungan teknis dan ketersediaan staf terampil yang lebih dikhawatirkan oleh perusahaan swasta. Implikasi dari temuan ini diharapkan dapat memberikan dasar bagi perumusan strategi adopsi teknologi keselamatan yang lebih terarah bagi pembuat kebijakan, asosiasi industri konstruksi, dan pelaksana proyek, guna mendorong penerapan yang lebih efektif dan berkelanjutan di sektor konstruksi Indonesia.
The low adoption of technology in construction safety management in
Indonesia poses a unique challenge amid demands for improved safety
performance. Although digital transformation has developed rapidly in the
global construction sector and has been proven to support effective safety
management, its implementation in Indonesia remains limited and has not been
optimally integrated. This study aims to: (1) examine the most promising
digital safety technologies for adoption in the construction industry in Indonesia;
(2) examine the benefits of digital technology implementation on construction
safety performance; (3) examine the barriers to its implementation; (4)
evaluate the most relevant implementation strategies to improve construction
safety; and (5) detect differences in perception between state-owned and
private companies, as well as between certified and non-certified respondents,
regarding factors influencing digital safety transformation.
A quantitative survey was conducted using a questionnaire targeting
construction stakeholders who understand safety issues and digital technology
adoption. A total of 123 professional responses were deemed valid for analysis
using the mean score ranking technique and the Mann-Whitney test to assess
differences in respondent group perceptions. The instrument was developed based
on an in-depth literature review and validated through interviews with five
experts.
The study results indicate that CCTV, BIM, and safety applications are the most prominent technologies in implementation. The three main benefits perceived include improved reporting and monitoring, visualization of field conditions, and training effectiveness. The main barriers include high costs, limited human resource training, and lack of knowledge related to technology. The strategies considered most effective include enhancing training, forming technology-based segmented teams, and strengthening regulations. Additionally, the analysis revealed that the primary factors were similarly evaluated by all respondent groups, regardless of company type (state-owned or private) or professional qualifications (certified or uncertified), although there are variations in assessments regarding digital information boards, GIS, and photogrammetry, which are more appreciated by SOEs, and technical support challenges and the availability of skilled staff, which are more concerning for private companies. The implications of these findings are expected to provide a basis for formulating more targeted safety technology adoption strategies for policymakers, construction industry associations, and project implementers, to promote more effective and sustainable implementation in Indonesia's construction sector.
Kata Kunci : Manajemen risiko kerja, teknologi digital konstruksi, strategi adopsi teknologi, mean score ranking, industri konstruksi indonesia