ASN Muda Komnas HAM: Menjadi Subjek di Tengah Kuasa Tak Kasat Mata Birokrasi
Sri Rahayu, Prof. DR. Sugeng Bayu Wahyono, M.Si
2025 | Tesis | S2 Kajian Budaya dan Media
Penelitian ini mengkaji negosiasi yang dilakukan oleh lima orang ASN Muda di Komnas HAM dalam menghadapi kuasa tak kasat mata birokrasi yang sarat dengan mekanisme governmentality. Berangkat dari asumsi bahwa birokrasi modern bekerja sebagai instrumen kuasa melalui disiplin, hierarki, dan aturan yang membentuk subjek secara halus, penelitian ini menyoroti bagaimana ASN Muda tidak sepenuhnya terserap dalam logika tersebut. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologi kritis dan kerangka teoritik governmentality dan teknologi diri dari Michel Foucault, penelitian ini menunjukkan bahwa agensi tetap dimungkinkan bahkan di dalam ruang yang sangat dikontrol. Temuan ini menegaskan bahwa meskipun birokrasi di Komnas HAM beroperasi sebagai instrumen kuasa modern yang mendisiplinkan melalui mekanisme governmentality, hal tersebut tidak serta-merta meruntuhkan keberadaan subjek sepenuhnya. Sebaliknya, justru dalam keseharian yang tampak patuh dan biasa itulah, ASN Muda mempraktikkan strategi negosiasi, mempertahankan nilai, dan memproduksi ruang bagi otonomi diri mereka. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya mengungkap dinamika kuasa di institusi negara, tetapi juga menawarkan pembacaan ulang atas kemungkinan agensi di tengah kontrol struktural.
This study examines the negotiation practices of five young civil servants (ASN Muda) at the Indonesian National Commission on Human Rights (Komnas HAM) in navigating the invisible power of bureaucracy, which operates through mechanisms of governmentality. Starting from the premise that modern bureaucracy functions as a disciplinary apparatus shaping subjects through hierarchy, regulation, and subtle control, this research highlights how these young bureaucrats are not entirely absorbed into that logic. Utilizing a critical phenomenological approach and drawing upon Michel Foucault’s concepts of governmentality and technologies of the self, the study reveals that agency remains possible—even within highly regulated institutional spaces. The findings affirm that although the bureaucratic system at Komnas HAM acts as a modern power apparatus that disciplines through governmentality, it does not fully erase subjectivity. It is precisely within the seemingly obedient and mundane everyday practices that these young civil servants negotiate, uphold values, and carve out spaces for self-autonomy. Thus, this research not only sheds light on the dynamics of power within a state institution, but also offers a re-reading of the possibilities of agency under structural control.
Kata Kunci : Governmentality, Teknologi Diri, Negosiasi, Birokrasi, Komnas HAM