PERBANDINGAN HASIL PERHITUNGAN VOLUME MENGGUNAKAN FOTOGRAMETRI SUDUT TEGAK DAN SUDUT MIRING (STUDI KASUS : DOME NIKEL PT WEDA BAY NICKEL)
Ahmad Husni Haris Ramadhan, Ir. Erlyna Nour Arrofiqoh, S.T., M.Eng.
2025 | Tugas Akhir | D4 TEKNOLOGI SURVEI DAN PEMETAAN DASAR
PT Weda Bay Nickel (WBN) merupakan salah satu perusahaan pertambangan
nikel yang melakukan pemantauan produksi dengan menghitung volume tumpukan
material (dome). PT WBN menggunakan fotogrametri sudut tegak yang dinilai
efisien untuk banyak dome, sedangkan perusahaan mitra menggunakan metode
terestrial GNSS karena keterbatasan alat. Nilai volume dari setiap perusahaan
dievaluasi nilai densitasnya dengan Interval Densitas Material (IDM) untuk
menentukan data volume yang digunakan dalam catatan stock opname. Jika densitas
dari PT WBN lebih mendekati IDM, maka volume dari PT WBN digunakan dan
sebaliknya. Akibatnya terjadi masalah inkonsistensi data volume yang digunakan
dalam catatan stock opname. Kajian ini membandingkan dan menguji salah satu
metode alternatif untuk meminimalisir permasalahan tersebut, yaitu fotogrametri
metode sudut miring, yang andal dalam akuisisi data objek kompleks.
Kegiatan ini berlokasi di tempat penyimpanan
material tambang nikel, yaitu Permanent Ore Stationary (POS) 12 PT WBN,
Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, Indonesia. Objek
yang digunakan adalah dome nikel sebanyak 5 buah. metode yang digunakan untuk akuisisi
fotogrametri yaitu metode sudut tegak dan fotogrametri sudut miring 45° , 60°, dan 75° dengan
menggunakan mode Post Processing Kinematik (PPK), serta menggunakan
metode terestrial dengan GNSS sebagai pembanding. Kajian ini juga membahas
mengenai uji akurasi horizontal dan vertikal, uji volume serta uji densitas.
Berdasarkan hasil perhitungan RMSE
volume dan RMSE densitas pada lima buah dome, metode sudut 75° menunjukan nilai terkecil yaitu
secara berurutan 461,836 m3 dan 0,080 ton/m3. Menunjukan
keakuratan dan kedekatan terhadap data terrestrialnya, sementara itu nilai RMSE
volume dan RMSE densitas terbesar berada pada sudut 60° dengan nilai berurutan
yaitu 597,217 m3 dan 0,121 ton/m3. Hal ini memperkuat
fakta bahwa data citra sudut miring mampu meningkatkan ketepatan model 3D, baik
dari segi volume maupun segi kepadatan materialnya serta dapat direkomendasikan
untuk meminimalisir terjadinya inkonsistensi perhitungan volume dome nikel.
The
research was conducted at the nickel ore storage facility, Permanent Ore
Stationary (POS) 12 of PT WBN, located in Central Halmahera Regency, North
Maluku, Indonesia. The objects of study consisted of five nickel domes. The
photogrammetry data acquisition was conducted using nadir and oblique angles of
45°, 60°, and 75° with the Post-Processing Kinematic (PPK) mode, while a
terrestrial GNSS method was used as a comparison. The study also includes
horizontal and vertical accuracy tests, volume tests, and density tests.
Based on the RMSE calculation results for both volume and density across
the five domes, the 75° oblique angle method yielded the smallest errors 461.836
m³ for volume and 0.080 ton/m³ for density indicating the highest accuracy and
closest agreement with terrestrial data. In contrast, the largest RMSE values
were observed at the 60° angle, with 597.217 m³ for volume and 0.121 ton/m³ for
density. These findings support the conclusion that oblique photogrammetry can
improve the precision of 3D models in terms of both volumetric and density
measurements, and it can be recommended as a method to reduce inconsistencies
in nickel dome volume calculations.
Kata Kunci : Fotogrametri, Sudut Tegak, Sudut Miring, Volume, Densitas.