The translation strategies of phatic utterances in the novel Pride & Prejudice by Jane Austen and their implications for pragmatic equivalence
Alimah Nur Kasanah, Prof. Dr. Sajarwa, M.Hum.
2025 | Tesis | S2 Linguistik
Penelitian ini menganalisis strategi penerjemahan ungkapan fatis dalam novel Pride and Prejudice karya Jane Austen ke dalam bahasa Indonesia, serta implikasinya terhadap pencapaian kesepadanan pragmatik. Ungkapan fatis, yang berfungsi untuk membangun dan memelihara hubungan sosial, menghadirkan tantangan penerjemahan yang signifikan karena sifatnya yang terikat konteks dan spesifik budaya.
Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini menganalisis 258 ungkapan fatis yang diidentifikasi dari studi populasi penuh terhadap novel sumber dan terjemahannya. Analisis dilakukan dalam tiga tahap: (1) mengidentifikasi bentuk dan fungsi ungkapan fatis berdasarkan kerangka sintesis dari Malinowski (1923), Jakobson (1960), dan para ahli lainnya; (2) mengklasifikasikan strategi penerjemahan menggunakan taksonomi Mona Baker (1992); dan (3) mengevaluasi tingkat kesepadanan pragmatik.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa fungsi fatis yang paling dominan adalah Maintaining Interactional Flow(mempertahankan kelancaran interaksi), yang mengindikasikan bahwa ungkapan-ungkapan ini paling sering digunakan untuk menjaga kelancaran percakapan dan memastikan saluran komunikasi tetap terbuka. Hal ini menyoroti peran ungkapan fatis sebagai “pelumas” penting bagi dialog. Dari segi bentuk, frasa (phrase) merupakan bentuk linguistik yang paling sering digunakan. Dalam proses penerjemahan, strategi yang paling banyak digunakan adalah parafrasa, diikuti oleh established equivalence (kesepadanan lazim). Dominasi parafrasa menunjukkan pendekatan domestikasi yang berorientasi pada pembaca, di mana penerjemah secara aktif membangun ulang makna untuk mencapai kealamian dalam bahasa sasaran.
Akibatnya, tingkat kesepadanan pragmatik yang dicapai tergolong sangat tinggi, dengan sebagian besar data mencapai Full Equivalence (kesepadanan penuh) atau Partial Equivalence (kesepadanan sebagian). Kesepadanan sebagian merupakan hasil yang paling umum, yang disebabkan oleh pergeseran pragmatik. Pergeseran ini, yang sering kali mengakibatkan hilangnya nuansa ilokusi atau makna implisit, dilakukan penerjemah untuk mempertahankan koherensi dan kealamian dialog bagi pembaca sasaran. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan penerjemahan teks sastra yang kaya interaksi sosial sangat bergantung pada peran penerjemah sebagai mediator pragmatik, yang mampu menyeimbangkan kesetiaan fungsi dengan kealamian ekspresi dalam budaya sasaran.
This study analyses the translation strategies of phatic utterances in Jane Austen’s novel Pride and Prejudice into Indonesian, as well as their implications for the achievement of pragmatic equivalence. Phatic utterances, which function to establish and maintain social relationships, present significant translation challenges due to their context-bound and culture-specific nature.
Using a descriptive qualitative approach, this research analyses 258 phatic utterances identified from a full population study of the source novel and its translation. The analysis is conducted in three stages: (1) identifying the forms and functions of phatic utterances based on a synthesized framework from Malinowski (1923), Jakobson (1960), and other scholars; (2) classifying translation strategies using Mona Baker’s (1992) taxonomy; and (3) evaluating the level of pragmatic equivalence.
The findings reveal that the most dominant phatic function is Maintaining Interactional Flow, indicating that these utterances are most often used to keep conversations running smoothly and ensure the communication channel remains open. This highlights their role as a crucial 'lubricant' for dialogue. In terms of form, the Phrase is the most frequently used linguistic form. In the translation process, the most employed strategy was Paraphrase, followed by Established Equivalence. The dominance of paraphrase indicates a reader-oriented, domesticating approach, where the translator actively reconstructs meaning to achieve naturalness in the target language.
Consequently, the level of pragmatic equivalence achieved is remarkably high, with the vast majority of data achieving either Full Equivalence or Partial Equivalence. Partial Equivalence was the most common outcome, resulting from pragmatic shifts. These shifts, which often revealed a loss of illocutionary nuance or implied meaning, were made by the translator to maintain the coherence and naturalness of the dialogue for the target audience. This study affirms that the successful translation of literary texts rich in social interaction is highly dependent on the translator's role as a pragmatic mediator, capable of balancing functional fidelity with expressive naturalness in the target culture.
Kata Kunci : phatic utterance, Pride and Prejudice, pragmatic equivalence, translation, translation strategies.