Laporkan Masalah

Saluran Irigasi Van der Wijck di Magelang-Yogyakarta, 1909-1931

Uly Fatul Romadoni, Nur Aini Setiawati, Ph.D.

2025 | Skripsi | ILMU SEJARAH

Politik etis awal abad XX membawa banyak perubahan terutama dalam bidang irigasi. Irigasi pada dasarnya dibutuhkan oleh sektor perkebunan dan pertanian,termasuk di wilayah Yogyakarta sebagai daerah yang memiliki perkebunan komersial banyak. Sebagai upaya pemenuhan kebutuhan irigasi tersebut diperlukan upaya pembangunan saluran irigasi yang mampu mencukupi segala kebutuhan air untuk tanaman budidaya. Pembangunan saluran irigasi Van der Wijck sebagai alternatif pengadaan irigasi berskala besar. Penelitian ini penting sebab dalam tujuannya yaitu untuk mengetahui perkembangan pembangunan saluran irigasi Van der Wijck di Magelang-Yogyakarta pada tahun 1909-1931. Dalam proses penelitiannya, dilakukan penelusuran dengan sumber-sumber primer dan sekunder. Selanjutnya, data-data yang ditemukan dibandingkan untuk kemudian diinterpretasikan menjadi tulisan sejarah.

Dalam penelitian ini menunjukan bahwa saluran irigasi Van der Wijck  yang dibangun atas kerjasama dari Cultuur Maatschappij der Vorstenlanden dengan Klattensche Cultuur Maatschappij sangat bermanfaat bagi sektor perkebunan dan pertanian. Akan tetapi, selama beroperasionalnya saluran irigasi sejak 1909-1931 terdapat beberapa permasalahan diantaranya pengelolaan distribusi air yang dirasa tidak adil dan hanya menguntungkan salah satu pihak. Selain itu, saat terjadinya letusan Merapi akhir tahun 1930 menyebabkan beberapa jalur yang dilalui saluran irigasi Van der Wijck menjadi rusak dan beberapa perkebunan mengalami penurunan hasil panen. Hingga pada tahun 1931 muncul satu tindakan untuk memperbaiki saluran yang mengalami kerusakan. Dengan demikian, secara tidak langsung keberadaan saluran irigasi Van der Wijck menjadi urat nadi bagi perkebunan dan pertanian sekitar sebab dengan keberadaan irigasi dapat terlihat adanya suatu perkembangan dan perubahan yang terjadi selama 1909-1931.  

In the early 20th century, the Ethical Policy brought many changes, particularly in the field of irrigation. Irrigation was essentially needed by the plantation and agricultural sectors, including in Yogyakarta, a region with numerous commercial plantations. To meet irrigation demands, it was necessary to develop irrigation channels capable of supplying sufficient water for cultivated crops. The construction of the Van der Wijck Canal was undertaken as an alternative for large-scale irrigation provision. This research is important as it aims to examine the development of the Van der Wijck irrigation canal in the Magelang–Yogyakarta area from  1909 to 1931. The research process involved tracing both primary and secondary sources. The collected data were then compared and interpreted to produce a historical narrative.
This study shows that the Van der Wijck irrigation canal, built through the cooperation between the Cultuur Maatschappij der Vorstenlanden and the Klattensche Cultuur Maatschappij, was highly beneficial to the plantation and agricultural sectors. However, during its operation from 1909 to 1931, several problems arose, including perceptions of unfair water distribution management, which was seen as benefiting only one party. In addition, the eruption of Mount Merapi in late 1930 damaged several sections of the canal’s route, resulting in reduced harvest yields in some plantations. By 1931, efforts were undertaken to repair the damaged sections. Thus, the Van der Wijck irrigation canal indirectly became the lifeline for surrounding plantations and agricultural areas, as its existence marked the development and changes that occurred between 1909 and 1931. 

Kata Kunci : Politik etis, Saluran irigasi Van der Wijck, Pengaruh irigasi

  1. S1-2025-480250-abstract.pdf  
  2. S1-2025-480250-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-480250-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-480250-title.pdf