Ekspresi Gen EgPTI1 terhadap Perlakuan Fosfat pada Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Progeni 'Dumpy' dan 'Yangambi'
Laksita Chesarina, Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc.
2025 | Skripsi | BIOLOGI
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan komoditas ekspor terbesar Indonesia dengan kontribusi signifikan terhadap produk minyak nabati global. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola ekspresi gen EgPTI1 pada dua progeni kelapa sawit, ‘Dumpy’ dan ‘Yangambi’, serta memeriksa pengaruh perlakuan dosis fosfat dan kaitannya dengan karakter morfologis. Ekspresi gen diukur menggunakan RT-qPCR dan dianalisis dengan metode 2^–??Ct. Hasil menunjukkan bahwa pola ekspresi gen EgPTI1 pada dua progeni kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) ‘Dumpy’ dan ‘Yangambi’ di bawah tiga perlakuan fosfat: (P1), (P2), dan (P3). Pada P2, ekspresi distandarisasi menjadi 1,0 untuk kedua progeni, namun ‘Yangambi’ menunjukkan ekspresi relatif dan fluktuasi respons yang lebih tinggi dibanding ‘Dumpy’. Ekspresi gen relatif menunjukkan adanya perbedaan pada kedua progeni yang diperkirakan akibat karakter adaptasi yang berbeda. Karakter morfologis (tinggi tanaman, luas daun, dan diameter batang) meningkat sejalan dengan dosis fosfat, sedangkan jumlah daun, pelepah, panjang akar primer, dan biomassa total tidak berubah signifikan. Korelasi Pearson menunjukkan hubungan negatif sangat kuat antara ekspresi EgPTI1 dan panjang akar pada ‘Dumpy’ (R²=0,996) dan positif sedang pada ‘Yangambi’ (R²=0,525). yang dapat dijadikan referensi seleksi kultivar dan penyesuaian dosis fosfat pada budidaya kelapa sawit.
Oil palm (Elaeis guineensis Jacq.) is Indonesia’s foremost export commodity, making a substantial contribution to the global vegetable oil market. This study aimed to characterize the expression pattern of the EgPTI1 gene in two oil palm progenies (‘Dumpy’ and ‘Yangambi’) and to evaluate the impact of three phosphate treatments (P1; P2; P3) on both gene expression and morphological traits. Gene expression was quantified by RT-qPCR and analyzed using the 2^–??Ct method. Under P2, expression was normalized to 1.0 in both progenies; however, ‘Yangambi’ exhibited higher relative expression levels and greater response variability than ‘Dumpy.’ Differences in relative gene expression between progenies likely reflect distinct adaptive strategies. Morphologically, plant height, leaf area, and stem diameter increased with phosphate dosage, whereas leaf count, frond number, primary root length, and total biomass remained statistically unchanged. Pearson’s correlation analysis revealed a very strong negative relation between EgPTI1 expression and root length in ‘Dumpy’ (R² = 0.996) and a moderate positive relation in ‘Yangambi’ (R² = 0.525). These findings provide a basis for cultivar selection and phosphate management optimization in oil palm cultivation.
Kata Kunci : ekspresi gen, EgPTI1, sawit, RT-qPCR