Resistensi Masyarakat Terhadap Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) untuk Menekan Kasus Pernikahan Usia Dini di Lini Lapangan : Studi Kasus di Desa Curahkalong, Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember
Fariz Risky Pradana, Dr. Lambang Trijono
2025 | Skripsi | Sosiologi
Praktik pernikahan dini masih menjadi persoalan yang lazim terjadi di Desa Curahkalong. Hal tersebut mendorong pemerintah untuk mengimplementasikan Program Bangga Kencana sebagai langkah pencegahan. Namun dalam praktiknya, program ini dihadapkan pada resistensi dari masyarakat setempat yang menghambat tercapainya tujuan program. Penelitian ini bertujuan untuk megeksplorasi bentuk bentuk resistensi, faktor faktor yang melatabelakanginya, serta strategi yang digunakan oleh pelaksana program dalam merespons resistensi tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus serta teknik pengumpulan data berupa wawancara, diskusi kelompok, dan dokumentasi. Analisis penelitian didasarkan pada teori resistensi dari James Scott dan konsep governmentality dari Michel Foucault. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa resistensi masyarakat yang terjadi terhadap Program Bangga Kencana untuk menekan kasus pernikahan dini di Desa Curahkalong cenderung berbentuk resistensi tersembunyi (hidden transcript), bukan dalam bentuk protes terbuka atau kolektif. Meskipun masyarakat tampak kooperatif di hadapan pelaksana program, resistensi masih tetap berlangsung secara terselubung melalui sindiran, pelaksanaan pernikahan dini melalui jalur dispensasi kawin, serta pernikahan siri. Adapun faktor faktor yang mendorong terjadinya resistensi masyarakat terhadap Program Bangga Kencana untuk menekan kasus pernikahan dini di Desa Curahkalong meliputi nilai nilai agama sebagai wacana tandingan , tekanan ekonomi, tekanan sosial budaya serta dorongan bagi orang tua untuk melindungi anak, dan juga disonansi kebijakan. Dalam merespons resistensi tersebut, pelakasana program menerapkan strategi seperti edukasi, intervensi kebikakan, dan kolaborasi dengan tokoh agama serta LSM. Dari perspektif governmentality, resistensi diposiskan sebagai bentuk problematisasi. Melalui produksi wacana dan proses subjektivikasi, aparatus governmentality berupaya membentuk individu sebagai subjek yang mampu mengatur diri sendiri sesuai dengan agenda pemerintah dalam perlindungan anak dan penundaan usia perkawinan.
Early marriage remains a prevalent issue in Curahkalong Village. This situation has prompted the government to implement the Bangga Kencana Program as a preventive measure. However, in practice, the program faces resistance from the local community, which hinders the achievement of its objectives. This study aims to explore the forms of resistance, the underlying factors behind it, and the strategies employed by program implementers in responding to such resistance.This research uses a qualitative method with a case study approach and data collection techniques including interviews, focus group discussions, and documentation. The analysis is based on James Scott’s theory of resistance and Michel Foucault’s concept of governmentality.The findings indicate that community resistance toward the Bangga Kencana Program in its effort to reduce early marriage in Curahkalong Village tends to take the form of hidden transcripts, rather than open or collective protest. Although the community appears cooperative in front of program implementers, resistance continues covertly through indirect expressions such as sarcasm, the use of marriage dispensation as an official route, and unregistered (siri) marriages.The factors driving this resistance include religious values as counter-discourse, economic and social pressures, parental concerns for child protection, and policy dissonance. In response, program implementers employ strategies such as education, policy intervention, and collaboration with religious leaders and NGOs.From a governmentality perspective, resistance is positioned as a form of problematization. Through discourse production and subjectification processes, the apparatuses of governmentality seek to shape individuals into subjects capable of self-regulation in accordance with the government's agenda on child protection and delaying the age of marriage
Kata Kunci : Resistensi Masyarakat, Program Bangga Kencana, Pernikahan Dini, Desa Curahkalong