Translanguaging among Indonesian EFL Learners: A Critical Examination of Language Practices and Their Relation to Language Identity and Investment
Nur Nabilah Fauziyah, Dr. Merry Andriani, S.S., M.L.C.S.
2025 | Tesis | S2 Linguistik
Gagasan translanguaging telah menarik perhatian dalam beberapa dekade terakhir. Translanguaging berbeda dari alih kode, sebab merupakan bagian dari perspektif pascastrukturalis yang memandang penggunaan bahasa sebagai sesuatu yang dinamis dan agensi individu dapat dijalankan dalam dinamika kekuasaan. Namun, praktik ini seringkali bertentangan dengan ideologi dominan. Penelitian ini berupaya meneliti cara pembelajar bahasa Inggris di Indonesia dalam mempraktikkan dan melihat translanguaging. Selain itu, penelitian ini berupaya untuk meneliti cara praktik translanguaging yang berkaitan dengan konstruksi identitas dan investasi bahasa. Penelitian ini dilakukan terhadap mahasiswa semester lima yang terdaftar pada mata kuliah Interculturality in Language Studies di sebuah universitas di Malang. Peneliti mengumpulkan data dari berbagai sumber, seperti: (1) observasi kelas, (2) wawancara semi-terstruktur dengan enam partisipan terpilih, dan (3) analisis esai mahasiswa. Peneliti mengadopsi kerangka kerja Garcia dan Wei (2014) tentang translanguaging, Pennycook (2000) tentang posisi global bahasa Inggris, dan Darvin dan Norton (2015) tentang investasi bahasa untuk analisis data.
Temuan studi ini menunjukkan bahwa translanguaging telah digunakan secara aktif oleh pembelajar bahasa Inggris, baik dalam interaksi lisan maupun tulis. Mereka menggunakan translanguaging untuk berbagai tujuan, termasuk untuk: (1) meningkatkan pemahaman, (2) mengatasi hambatan bahasa, (3) menarik minat pendengar, (4) mengurangi kecemasan berbahasa, (5) membangun hubungan baik dengan lawan bicara, dan (6) mengembangkan identitas mereka. Walaupun translanguaging sangat umum digunakan, perbedaan signifikan antara partisipan penelitian Kelas A dan Kelas B masih ditemukan. Studi ini menunjukkan bahwa pembelajar dari Kelas B lebih aktif dalam memobilisasi repertoar linguistik mereka. Salah satu penyebabnya adalah adanya upaya dosen di Kelas B untuk mendukung penggunaan bahasa nasional dan bahasa daerah di kelas Bahasa Inggris. Studi ini juga menunjukkan bahwa pembelajar di Kelas B membangun identitas yang lebih luas dibandingkan dengan pembelajar di Kelas A. Penelitian ini menemukan bahwa peserta dari Kelas A cenderung membentuk identitas colonial celebration dan laissez-faire liberalism. Sementara itu, peserta dari Kelas B menunjukkan identitas baru, seperti: (1) language rights, (2) postcolonial performativity, dan (3) glocal identity. Identitas-identitas ini sebagian besar dipengaruhi oleh kebijakan bahasa, bahasa ibu, dan interaksi sosial pembelajar. Dalam konteks investasi bahasa, studi ini juga menunjukkan dinamika investasi bahasa dari pembelajar bahasa Inggris. Secara spesifik, wacana plurilingualisme dan hak bahasa mendorong keterlibatan pembelajar dalam translanguaging, tetapi ideologi dominan, seperti bahasa baku dan neoliberalisme, juga memberikan tekanan pada pembelajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma bahasa yang dominan
The notion of translanguaging has gained interest over the past few decades. Conceptually, translanguaging differs from code-switching, as it is part of the post-structuralist perspective that views language use as dynamic, which individual agency may be exercised in power dynamics. Translanguaging, however, often faces struggles due to prevailing ideologies that continue to assign higher value to certain languages over others. Given this ambivalence, this study sought to explore how Indonesian EFL learners practice and perceive translanguaging, and how their translanguaging practices relate to the constructions of language identity and investment. This study was conducted at a university in Malang, involving fifth-semester students enrolled in the Interculturality in Language Studies course. The researcher collected data from multiple sources, including 1) classroom observations, 2) semi-structured interviews with six selected participants, and 3) analysis of students’ written works. The researcher adopted frameworks by Garcia and Wei (2014) on translanguaging, Pennycook (2000) on English global positioning, and Darvin and Norton (2015) on language investment for data analysis.
The findings of this study suggest that translanguaging has been actively used by Indonesian EFL learners in both oral interactions and written works. They use translanguaging for multiple purposes, including (1) to enhance understanding, (2) break language barriers, (3) gain audience interest, (4) reduce language anxiety, (5) build rapport with interlocutors, and (6) develop their identities. While translanguaging is commonly used, notable differences emerge between participants in Class A and Class B. This study indicates that learners from Class B are more active in mobilizing their full linguistic repertoires, including local languages. This may result from the lecturer’s effort in Class B to endorse the use of national and local languages in the English classroom. In terms of identity construction, this study unveils that learners in Class B construct a broader range of identities compared to those in Class A. The researcher finds that participants from Class A tend to shape colonial-celebration and laissez-faire liberalism identities. Meanwhile, participants from Class B not only shape those identities but also present agentive identities, such as language rights, postcolonial performativity, and glocal identity. These identities are likely influenced by language policy, participants’ mother tongue, and their social interactions. In terms of language investment, this study also demonstrates that while learners recognize the value of translanguaging, their full investment in it remains constrained by ideological expectations and socio-economic aspirations. In this context, plurilingualism and language rights discourses may influence the way Indonesian EFL learners engage with translanguaging, yet competing ideologies, such as standard language and neoliberalism, impose pressure on learners to conform to dominant norms of language.
Kata Kunci : identity construction, ideology, language investment, translanguaging, Indonesian EFL learners