Eksplorasi Konten Video Edukasi Antibiotik di Media Sosial TikTok: Analisis Konten Kualitatif
Fauziah Nurhasanah, Prof. Dr. apt. Susi Ari Kristina, S.Farm., M.Kes; Aditya Lia Ramadona, S.Si., M.Sc., Ph.D
2025 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Latar belakang: TikTok telah menjadi media sosial yang populer untuk menyampaikan informasi terkait antibiotik. Resistensi antibiotik menjadi ancaman global yang membutuhkan perhatian serius, terutama di Indonesia, dimana kesadaran tentang antibiotik masih belum merata. Fenomena ini semakin parah dengan adanya pandemi COVID-19, kurangnya pengetahuan dan kesadaran serta ketidakpastian informasi yang beredar berimplikasi pada perilaku penggunaan antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengeksplorasi lebih dalam karakteristik, respon, hingga tema yang muncul pada video edukasi antibiotik di media sosial TikTok selama dan setelah pandemi melalui analisis konten kualitatif. Metode: Subjek penelitian berupa 25 video TikTok teratas yang muncul dengan kata kunci "antibiotik" dan disesuaikan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Analisis dilakukan secara deskriptif berdasarkan kerangka Visual-Verbal Video Analysis (VVVA). Analisis dilakukan pada karakteristik, respon, dan tema-tema yang muncul. Hasil: Video yang diunggah selama pandemi berdurasi lebih dingkat, menggunakan kombinasi background music + voiceover, didominasi tenaga kesehatan, dan menampilkan karakter dengan visual yang lebih formal. Video yang diunggah setelah pandemi berdurasi lebih panjang, menggunakan narasi tanpa background music, dengan pengunggah beragam dan karakter yang lebih kasual, serta menempatkan berita viral sebagai hook di awal video. Video yang diunggah selama pandemi memiliki median jumlah suka yang lebih tinggi, namun video yang diunggah setelah pandemi memiliki komentar, sebar, dan favorit lebih tinggi. Terdapat 7 tema yang teridentifikasi dalam video meliputi akses regulasi, ancaman resistensi antibiotik, dampak ekologi, kekeliruan di masyarakat, pemahaman dasar antibiotik, pengaruh penggunaan antibiotik, dan prinsip penggunaan antibiotik. Kesimpulan: Video edukasi antibiotik memiliki durasi yang tidak terlalu panjang, menggunakan voiceover dan teks penjelasan, dan elemen visual menarik. Penting untuk mempertimbangkan penggunaan hook untuk menarik minat audiens dan pola penyampaian pesan yang dinamis sesuai dengan tren komunikasi digital.
Background: TikTok has emerged as a widely utilized platform for disseminating public health messages, including antibiotic-related content. In Indonesia, where awareness and literacy regarding antibiotics remain uneven, the COVID-19 pandemic further intensified misinformation and public uncertainty. This study explores how antibiotics are communicated through TikTok videos, focusing on differences between the pandemic and post-pandemic periods. Methods: A qualitative content analysis was conducted on 25 TikTok videos identified using the keyword “antibiotic” and selected based on defined inclusion and exclusion criteria. The Visual-Verbal Video Analysis (VVVA) framework was applied to examine video duration, audio and visual elements, character, audience engagement (likes, comments, shares, saves), and emergent thematic content. Results: Videos uploaded during the pandemic tended to be shorter, used a combination of background music and voiceover, and were predominantly delivered by healthcare professionals using professional visual cues. Post-pandemic videos were comparatively longer, employed voiceover without background music, and featured more diverse presenters with casual and relatable visual styles. The use of viral narratives/visuals as ‘hooks’ was more prevalent in the post-pandemic period. While videos from the pandemic period showed higher median likes, videos posted after the pandemic generated more comments, shares, and favorites. Seven thematic categories identified in the videos: access and regulation; threat of antibiotic resistance; ecological impact; misconceptions in society; basic knowledge of antibiotics; sociocultural influences on antibiotic use; and rational use of antibiotic. Conclusion: The findings highlight a shift in the communicative style and framing of antibiotic education content across the pandemic timeline. The integration of moderate-length videos, voiceover narration, supportive visual elements, and narrative hooks reflects an increasingly adaptive, audience-oriented approach to digital health communication. It is important to consider the use of dynamic message delivery patterns in accordance with digital communication trends.
Kata Kunci : analisis konten kualitatif, video, TikTok, antibiotik