Penemuan Faktor Risiko Anak Berkelainan di SLB Latihan SGPLB Negeri Yogyakarta
Qomarul Islamiyati, dr. Sunartini Iman, DSAK, Ph.D
1994 | Skripsi | S1 KEDOKTERANTelah dilakukan penelitian di SLB Latihan SGPLB Negeri Yogyakarta pada bulan Oktober 1993. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan faktor-faktor risiko anak berkelainan di SLB Latihan SGPLB Negeri Yogyakarta.Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat sebagai masukan dalam upaya pencegahan dan penanganan anak berkelainan, Subyek penelitian adalah orang tua dari siswa/siswi SLB latihan SGPLB Negeri Yogyakarta tahun ajaran 1993/1994 yang memenuhi kriteria subyek. Terdapat 135 subyek yang memenuhi syarat tetapi 16 subyek di antaranya dinyatakan gugur karena data yang diisi tidak lengkap, sehingga tinggal 116 subyek. Penelitian ini termasuk penelitian cross sectional dengan menggunakan instrumen berupa kuesioner. Hasil penelitian di atas dibahas secara deskriptif. Dari hasil penelitian diatas diperoleh 61 anak (51,3%) pria dan 58 anak (48,7 %) wanita, 48 anak (40,3 %) merupakan anak nomor 1 dalam keluarganya dan 71 anak (59,7 %) merupakan anak nomor 2 atau lebih. Pendidikan ayah mayoritas adalah SLTA (27,6 %) sedangkan pendidikan ibu mayoritas adalah SD dan SLTP masing-masing 26,1 %. Pekerjaan ayah yang terbanyak adalah PN/ABRI, pekerjaan ibu yang terbanyak adalah ibu rumah tangga. Sesuai dengan pekerjaan ibu yang terbanyak, maka tempat bekerja ibu yang terbanyak adalah di rumah (68,1 %). Para ibu umumnya melahirkan anak berkelainan pada usia 20-35 tahun dengan berat badan lahir mayoritas 2.500-4.000 gram. Penghasilan keluarga sebagian besar adalah kurang dari Rp.l00.000. Usia kehamilan mayoritas adalah cukup bulan (84,1 %) dengan letak janin umumnya letak normal (94,9 %). Jenis persalinan spontan terdapat pada sebagian besar ibu (91,6 %). 72 anak (60,5 %) diketahui kecacatannya pada usia lebih dari 1 tahun. Tempat bersalin umumnya di klinik bersalin/RS dengan penolong persalinan bidan. 86,6 % tidak ada riwayat kecacatan pada keluarganya dan 94,1 % tidak ada hubungan keluarga antara ayah dan ibu. Riwayat pada ibu kebanyakan adalah jatuh saat hamil (24 subyek), demikian pula riwayat pada anak yang terbanyak adalah riwayat jatuh pada masa bayi/kanak-kanak (33 anak). Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah adanya faktor risiko yang menonjol pada anak tuna netra berupa pendidikan ibu yang rendah dan dugaan adanya faktor genetik. Pada anak tuna rungu/wicara faktor risiko yang menonjol adalah riwayat ibu jatuh saat hamil dan panas yang disertai kejang pada anak. Penghasilan keluarga yang rendah, ibu bekerja di luar rumah, jatuh pada saat hamil dan riwayat jatuh pada anak merupakan faktor risiko yang menonjol pada anak tuna mental. Sedangkan faktor risiko yang menonjol pada anak tuna daksa adalah penghasilan keluarga yang rendah, riwayat minum obat/jamu saat ibu hamil serta jatuh dan panas yang disertai kejang pada anak.
Kata Kunci : faktor resiko, Anak Berkelainan, SLB, pencegahan dan penanganan