The Influence of American Rock and Roll on The Hybridity of Rhoma Irama's Dangdut Music
Ahdi Sakha Hamidan, Dr. Aris Munandar, M.Hum.
2025 | Tesis | MAGISTER PENGKAJIAN AMERIKA
Rock and roll berkembang sebagai representasi budaya populer global yang tidak hanya menawarkan musik sebagai hiburan, tetapi juga sebagai simbol modernitas, kebebasan, dan perlawanan terhadap nilai-nilai konservatif. Di Indonesia, musik ini berinteraksi dengan budaya lokal melalui proses adopsi dan adaptasi yang menghasilkan bentuk-bentuk ekspresi baru. Rhoma Irama, ikon musik dangdut, memainkan peran penting dalam menggabungkan unsur-unsur rock and roll, seperti penggunaan instrumen listrik dan estetika visual, ke dalam identitas musik yang ia bangun.
Penelitian kualitatif ini menekankan pemahaman mendalam tentang makna budaya yang muncul dalam representasi musik dan visual Rhoma Irama. Studi ini menggunakan analisis konten pada data primer: majalah, sampul album, lirik lagu, dan film, serta data sekunder berupa artikel jurnal dan buku akademik yang relevan dengan topik penelitian. Penelitian ini menerapkan teori hibriditas Homi K. Bhabha melalui perspektif transnasional studi Amerika. Dengan demikian, teori hibriditas tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk memahami dinamika budaya lokal dan global, tetapi juga membuka pemahaman tentang strategi-strategi tersembunyi resistensi budaya dalam musik populer Indonesia.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa identitas musik Rhoma Irama terbentuk melalui negosiasi budaya antara nilai-nilai lokal dan global. Dangdut tidak hanya mencerminkan estetika hibrida tetapi juga berfungsi sebagai strategi untuk menentang dominasi budaya Barat. Oleh karena itu, musik Rhoma Irama bukan hanya hasil dari campuran budaya, tetapi juga berfungsi sebagai sarana untuk mengekspresikan identitas dan perlawanan budaya di tengah gelombang globalisasi budaya populer Amerika.
Rock and roll developed as a representation of global popular culture that not only offered music as entertainment but also as a symbol of modernity, freedom, and resistance to conservative values. In Indonesia, this music encountered local culture through a process of adoption and adaptation that produced new forms of expression. Rhoma Irama, an icon of dangdut music, played an important role in combining elements of rock and roll, such as the use of electric instruments and visual aesthetics, into the musical identity he built.
This qualitative research emphasizes a deep understanding of the cultural meanings that emerge in Rhoma Irama's musical and visual representations. The study uses content analysis on primary data: magazines, album covers, song lyrics, and films, as well as secondary data in the form of journal articles and academic books relevant to the research topic. This study applies Homi K. Bhabha's theory of hybridity through the transnational perspective of American studies. Thus, the theory of hybridity not only serves as a tool for understanding the dynamics of local and global cultures but also opens up an understanding of the hidden strategies of cultural resistance in Indonesian popular music.
The results of this study show that Rhoma Irama's musical identity is formed through cultural negotiations between local and global values. Dangdut not only reflects hybrid aesthetics but also functions as a strategy to resist Western cultural dominance. Thus, Rhoma Irama's music is not merely the result of cultural mixing but also serves as a means of articulating identity and cultural resistance amid the tide of American popular cultural globalization.
Kata Kunci : Rock and roll, Dangdut, Rhoma Irama, Hybridity