Laporkan Masalah

Kontestasi Politik Spasial Kota: Mekanisme Pengomunalan Ruang Swakelola Otonom KTS di Freiburg, Jerman

MUHAMMAD HARITS HIBATULLAH, Dr. Realisa Darathea Masardi, S.Ant., M.A.

2025 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA

Sejak Revolusi Industri, Kota Freiburg, Jerman mengalami komersialisasi masif sebagai kota wisata yang memicu masalah sosio-spasial seperti peningkatan biaya tempat tinggal dan hiburan serta privatisasi ruang kota demi mengakumulasi profit. Di tengah dominasi logika pasar, muncul ruang alternatif otonom bernama KTS yang diswakelola sebagai sumber daya komunal oleh kelompok dengan spektrum ideologi otonomi atau anarkisme. KTS menyediakan ruang untuk berbagai kegiatan yang berimplikasi sebagai alternatif atas struktur politik, ekonomi, sosial, dan budaya dominan di perkotaan. Sebagai ruang alternatif komunal, KTS telah melewati tantangan yang mengancam eksistensinya dari waktu ke waktu—mulai dari penggusuran pemerintah hingga konflik internal terkait pengelolaannya. Dalam hal ini, kota telah menjadi arena kontestasi politik di mana makna, fungsi, serta pengelolaan ruangnya selalu diperebutkan. Setelah melewati terpaan tantangan selama mengarungi arena kontestasi politik spasial tersebut, keberlanjutan KTS menimbulkan pertanyaan: mengapa KTS dapat bertahan sebagai ruang alternatif komunal yang swakelola dan otonom selama mengarungi kontestasi politik spasial Kota Freiburg?

Penelitian etnografis ini menggunakan tiga metode pengumpulan data: (1) partisipasi dan observasi kegiatan KTS; (2) wawancara informal dengan para partisipan; dan (3) penelusuran arsip digital (situs KTS dan Kota Freiburg) serta koleksi fisik di Staatsarchiv Freiburg, Stadtbibliothek Freiburg, Archiv Soziale Bewegungen, dan Infoladen KTS. Penelitian berlangsung selama 59 hari, dari 3 Desember 2023 hingga 31 Januari 2024 di wilayah Kota Freiburg dan dengan fokus khusus pada komunitas KTS.

Analisis menunjukkan bahwa keberlanjutan KTS ditopang oleh mekanisme pengomunalan (commoning) yang diwujudkan melalui struktur pengorganisasian dan pengelolaan kolektif. Tiga elemen penting—House Structure, Hausplenum, dan Awareness Team—berfungsi sinergis untuk mendistribusikan wewenang, memelihara solidaritas, dan merespons tantangan eksternal maupun internal. Mekanisme pengomunalan itu dipengaruhi oleh kompleksitas dinamika politik ruang baik di Freiburg secara umum, maupun di KTS secara khusus dalam alur sejarah yang panjang. Penyesuaian mekanisme ini dalam konteks yang menyejarah lantas memperkuat kohesi internal dan legitimasi sosial KTS. Ia mampu bertahan sebagai ruang alternatif yang swakelola dan otonom karena proses pengomunalan yang terstruktur sekaligus kontinu, di mana House Structure, Hausplenum, dan Awareness Team saling melengkapi dalam pengorganisasian dan pengelolaan. Kompleksitas dan keterhubungan mekanisme ini mengokohkan KTS sebagai infrastruktur penting bagi praktik dan mobilisasi politik, ekonomi, sosial, dan budaya alternatif di Freiburg.

Since the Industrial Revolution, the city of Freiburg, Germany, has experienced massive commercialization as a tourist destination, triggering socio?spatial problems such as rising housing and entertainment costs and the privatization of urban areas to accumulate profits. Amid the dominance of market logic, an autonomous alternative space called KTS emerged, self?managed as a common resource by autonomous or anarchist groups. KTS provides space for various activities that offer alternatives to dominant political, economic, social, and cultural structures. As a communal hub outside the mainstream, KTS has faced challenges that threaten its existence—from government evictions to internal conflicts. The city thus becomes an arena of political contestation where the meaning, function, and control of urban space are continually negotiated. Having overcome these challenges in Freiburg’s ongoing political struggle over its spaces, one must ask: why has KTS persisted as a self?managed, autonomous communal alternative?

This ethnographic study employed three data?collection methods: (1) participant observation of KTS activities; (2) informal interviews with KTS participants; and (3) archival research of digital (KTS and city of Freiburg websites) and physical collections (Staatsarchiv Freiburg, Stadtbibliothek Freiburg, Archiv Soziale Bewegungen, and Infoladen KTS). The study spanned 59 days, from December 3, 2023, to January 31, 2024, in the city of Freiburg, with a special focus on the KTS.

The analysis shows that the continuity of KTS is underpinned by a commoning mechanism manifested through a collective organizing and management structure. Three important elements—House Structure, Hausplenum, and Awareness Team—function synergistically to distribute authority, maintain solidarity, and respond to external and internal challenges. These commoning mechanisms have been shaped by the complex spatial political dynamics of Freiburg—both broadly and, more specifically, within KTS—over an extended historical trajectory. Adjustments made to these mechanisms have further bolstered KTS’s internal cohesion and social legitimacy. KTS survives as an autonomous self-managed alternative space thanks to its structured, ongoing commoning process, in which these mechanisms complement one another. This complexity and interconnectedness cement KTS as a vital infrastructure for alternative political, economic, social, and cultural practices and mobilizations in Freiburg.

Kata Kunci : commoning, urban commons, ruang swakelola, politik spasial, politik ekonomi perkotaan

  1. S1-2025-459928-abstract.pdf  
  2. S1-2025-459928-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-459928-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-459928-title.pdf