Laporkan Masalah

Studi kecenderungan perubahan morfologi kawasan di Kampung Laweyan, Surakarta

PRIYATMONO, Alpha Febela, Ir. Ikaputra, M.Eng.,Ph.D

2004 | Tesis | S2 Teknik Arsitektur

Kampung Laweyan merupakan suatu kawasan yang unik, spesifik dan bersejarah. Dalam perkembangannya Laweyan mengalami beberapa perubahan fungsi kawasan dan permukiman. Perubahan fungsi tersebut akan berpengaruh terhadap perubahan morfologi kawasan dan permukimannya. Lebih lanjut perubahan morfologi suatu kawasan dan permukiman di samping disebabkan oleh adanya perubahan fungsi dapat juga disebabkan adanya perubahan jaringan jalan, massa bangunan dan kapling yang ada di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan faktor perubah fungsi kawasan dan permukiman yang semula didominasi kegiatan industri batik menjadi non batik terhadap perubahan morfologi ruang dan bangunan sebagai akibat dari adanya tuntutan kebutuhan hidup yang semakin berkembang. Metoda yang digunakan adalah metoda gabungan antara kualitatif dan kuantitatif. Landasan teori yang ada dipakai sebagai dasar untuk memetakan kondisi fisik permukiman dan kawasan dalam kurun waktu tertentu sebagai akibat dari adanya perubahan aktifitas atau fungsi yang ada di dalamnya. Semasa jaman kerajaan Pajang tahun 1546, Laweyan merupakan pusat perdagangan lawe atau bahan sandang dengan pasar Laweyan dan Bandar Kabanaran sebagai pusat kegiatannya. Pada waktu itu pola kawasan berbentuk memusat, pasar Laweyan dan Bandar Kabanaran sebagai pusat orientasi dan permukiman penduduk sebagai unsur pelingkupnya . Kondisi ini ditandai oleh kuatnya akses jalan yang menghubungkan antara pasar dan bandar dengan permukiman di sekitarnya. Sewaktu menjadi kawasan industri batik dengan masa kejayaan tahun 1960-an, pola kawasan berbentuk linier. Hal ini dicerminkan oleh adanya akses kuat yang secara linier menghubungkan jalan kota (jalan raya) dengan permukiman juragan batik, permukiman pekerja serta sungai (tempat mencuci dan menjemur batik) ke dalam satu kesatuan sistem produksi. Pada masa itu kawasan Laweyan terbagi dalam dua kelompok permukiman, yaitu permukiman juragan dan pekerja batik. Juragan batik banyak bermukim di bagian tengah dan utara kawasan dekat dengan jalan besar. Sedang pekerja batik banyak bermukim di sepanjang tepian sungai. Munculnya batik printing serta tidak baiknya sistem manajemen yang ada, mengakibatkan batik Laweyan kalah bersaing di pasaran. Kondisi ini menyebabkan sebagian besar pengusaha batik gulung tikar. Kawasan yang semula berfungsi sebagai kawasan industri batik berubah menjadi permukiman yang didominasi kegiatan selain batik. Berkurangnya industri batik ditambah dengan telah ditemukannya teknologi pengadaan air secara modern serta tersedianya loteng untuk tempat menjemur batik, mengakibatkan peran sungai sebagai salah satu area unit produksi menjadi hilang. Kondisi ini mengakibatkan akses menuju sungai banyak mengalami perubahan dan berkurang jumlahnya, sehingga akhirnya pola kawasan berubah menjadi cluster. Dalam perkembangannya permukiman yang berpola cluster dari tahun 1960 sampai dengan tahun 2003 juga mengalami perubahan morfologinya. Area yang terletak di tepi jalan kota, jalan utama kawasan dan di tepi sungai merupakan bagian yang paling banyak mengalami perubahan. Sedangkan area yang terletak di tengah permukiman, sedikit mengalami perubahan. Perubahan fungsi kawasan merupakan faktor utama yang menyebabkan terjadinya perubahan morfologi kawasan dan permukimannya. Perubahan tersebut berupa perubahan hirarkhi aksesbilitas dan pola kawasan serta seting permukimannya. Faktor kultur juga berperan sebagai faktor pendukung yang berpengaruh terhadap perubahan morfologi permukiman

The village of Laweyan constitutes a unique, specific and historical region. In its development Laweyan experiences some functional changes of region and settlement. The functional changes will be influential towards morphological change of its region and its settlement. Further more the morphological change of its region and settlement besides it is caused by the existance of highway network, building mass and parcel of land inside it. This research has something as a purpose to find variable factor of functional region and settlement from the beginning it is dominated by batik industry that becomes non batik towards morphological change of space and building consequently as a result of the existence of demand of the more developed life need. The method used is the consolidation method between qualitative and quantitative ones. The theoretical base available is used as the basis to outline the physical condition of settlement and region in a certain period of time as a result of the existance of activity changes or the available function inside it. During the time of Pajang Kingdom in 1546, Laweyan was the center of thread business or clothing material with Laweyan market and bandar Kabanaran as its activity center. At that time the regional pattern had the shape of centered, Laweyan market and bandar Kabanaran as orientation center and population settlement as range element. This condition is signified by the strength of access of road which connects between market and bandar with the settlement in its surrounding. When it was the batik industrial region with the supremacy period in nineteen sixtieth, the regional pattern had the shape of linear. This matter is reflected by the strong access existence in a linear manner that connects main street and the settlement of the owner of batik enterprise, the settlement of workers/labors and river (a place to wash and to dry batik in the sun) into one unit of production system. In that period the Laweyan region was divided into two groups of settlement, those are the settlement of batik owners and the labours many of the owners of batik enterprise settled in the central part and northern region near from the main street. While the batik labours, most of them settled along the river banks. The emerge of printing batik and the bad management system available, resulted Laweyan Batik lost in competing in market. This condition causes most of the batik businessmen go out of business. The region that used to function as batik industrial region changed into settlement dominated by other batik activities. The decrease of batik industry and discovery / finding of the modern technology of water supply and the availability of upper story to dry batik in the sun, result the role of river as one of production unit area get lost. This condition result the access that goes in the direction of the river experience a lot of changes and decreasing amount, so that finally the regional pattern changes into cluster. In its development the settlement has cluster patterned from 1960 until 2003 also experience morphological changes. The area which lies at the side of main street, the regional main street and river banks is the most parts that experience changes, While the area that lies in the central of settlement experience a few changes. The change of functional region is the main factor that cause the existence of the changes of morphological region and settlement. The change has the shape of the hierarchy of accessibility and regional pattern and the settlement setting. The cultural factor has the role as supporting which is influential towards the morphological change of settlement.

Kata Kunci : Morfologi Kawasan,Perubahan Fungsi,Kampung Laweyan, Region, settlement, morphology


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.