Laporkan Masalah

Preservasi Koleksi Antiquariat di Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

Irfan Suhendra, Prof. Dr. Partini, S.U.

2025 | Tesis | S2 Kajian Budaya dan Media

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kegiatan preservasi koleksi antiquariat di Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian dan mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dalam implementasi kegiatan preservasi koleksi antiquariat. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi, dan studi dokumen. Hasil analisis menunjukkan bahwa komunikasi memegang peranan sentral dalam menjaga kesinambungan pelestarian, baik melalui mekanisme formal seperti rapat kerja, pelaporan, dan integrasi ke dalam SKP, maupun komunikasi informal antar staf yang memperkuat kolaborasi dan pemahaman teknis. Disposisi pelaksana, yang mencakup motivasi dan sikap terhadap pelaksanaan kebijakan, terbukti menjadi faktor krusial dalam mendukung efektivitas preservasi. Motivasi muncul dari kesadaran profesional sebagai pustakawan, kepedulian terhadap nilai informasi koleksi, serta dukungan dari lingkungan kerja seperti fasilitas dan perhatian pimpinan. Selain itu, inisiatif pribadi para pelaksana dalam mengatasi keterbatasan sumber daya, memperbaiki prosedur teknis, dan melakukan inovasi menjadi indikator penting dari disposisi positif yang mendukung keberlanjutan kebijakan. Keberhasilan implementasi preservasi tidak hanya bergantung pada instrumen kebijakan formal, tetapi juga pada kapasitas adaptif dan sikap proaktif para pelaksana di tingkat operasional.

Salah satu tantangan dalam preservasi koleksi antiquariat adalah pola komunikasi internal yang masih bersifat satu arah, sehingga menghambat koordinasi, partisipasi, dan efektivitas pengambilan keputusan. Tantangan lain yang diidentifikasi adalah ketiadaan program pelatihan berkelanjutan yang berdampak langsung pada menurunnya motivasi, profesionalisme, dan loyalitas pelaksana. Pelatihan yang terstruktur tidak hanya diperlukan untuk meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga untuk membangun kesadaran akan makna kerja dan kontribusi terhadap pelestarian warisan budaya. Selain itu, keterbatasan sumber daya seperti tenaga kerja, alat, anggaran, dan ruang kerja menuntut adanya sikap proaktif dari pelaksana. Namun, proaktivitas ini membutuhkan dukungan kelembagaan agar tidak menjadi beban individu semata. Oleh karena itu, dibutuhkan penguatan sistem manajemen yang bersifat kolaboratif, adaptif, dan partisipatif sebagai fondasi dalam membangun program preservasi yang berkelanjutan.

This study analyzes the implementation of antiquarian collection preservation at the Center for Agricultural Library and Literacy and identifies of challenges in the process. Using a qualitative case study approach, data were collected through interviews, observations, and document analysis. The findings show that effective communication both formal (e.g., meetings, reporting, performance evaluations) and informal among staff plays a central role in maintaining the continuity and effectiveness of preservation efforts. Equally important is the disposition of implementers, particularly their motivation and attitudes toward policy implementation. This motivation stems from professional identity, a sense of responsibility toward the informational value of the collections, and a supportive institutional environment. Additionally, individual initiatives to address resource shortages, refine procedures, and innovate highlight a proactive mindset that contributes to the sustainability of preservation practices.

However, several challenges hinder implementation. One major issue is the one-way internal communication structure, which limits participation, coordination, and responsiveness in decision-making. Another challenge is the lack of structured, ongoing training, which negatively impacts staff motivation, professionalism, and long-term commitment. Training is not only essential for developing technical skills but also for fostering awareness of the broader cultural value of preservation work. Resource constraints including limited staff, equipment, funding, and workspace require implementers to adopt proactive approaches. Yet, without institutional support, such proactivity risks becoming burdensome and unsustainable. As a result, the study underscores the need to strengthen collaborative, adaptive, and participatory management systems to support a long-term, resilient preservation program.

Kata Kunci : preservasi, koleksi antiquriat, komunikasi, motivasi, inisiatif

  1. S2-2025-476200-abstract.pdf  
  2. S2-2025-476200-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-476200-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-476200-title.pdf