Implementasi Kebijakan Prioritas Dana Desa Melalui Pemberdayaan Masyarakat Untuk Program Penurunan Stunting Di Kampung Sawar Dan Bagaiserwar I Distrik Sarmi Kabupaten Sarmi Provinsi Papua
Erny Riana Wafumilena, dr. Likke Prawidya Putri, MPH, Ph.D; Dr. Fitrina M. Kusumaningrum, SKM., MPH
2025 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Implementasi
Kebijakan Prioritas Dana Desa Melalui Pemberdayaan Masyarakat Untuk Program
Penurunan Stunting
Di
Kampung Sawar Dan Bagaiserwar I
Distrik
Sarmi Kabupaten Sarmi
Provinsi
Papua
Latar Belakang: Penelitian
ini menyoroti bagaimana implementasi kebijakan prioritas dana desa melalui pemberdayaan masyarakat belum optimal untuk program stunting di Kampung Sawar dan Bagaiserwar I.
Meskipun Permendesa Nomor 8 Tahun 2022 mendukung kegiatan penurunan stunting
melalui pemberdayaan, prevalensi stunting di Sarmi masih tinggi 25,6% (SSGI, 2022),
kasus terbanyak di Kampung Sawar (15 balita), Bagaiserwar I (8 balita), dan minimnya partisipasi masyarakat saat Musrenbang kampung.
Metode: Penelitian
ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus melalui wawancara mendalam,
observasi, dan studi dokumentasi, dengan analisis berkesinambungan berdasarkan
kerangka pemberdayaan Laverack dan Labonte (2000) sejak pengumpulan data hingga
pelaporan.
Hasil: Tantangan implementasi
kebijakan belum optimal yaitu adanya sentralisasi kebijakan pusat, keputusan program diambil alih
oleh pemerintah kampung dan mitra. Dana stunting hanya dialokasikan
untuk PMT dan honor kader Posyandu. Tantangan pemberdayaan masyarakat belum optimal yaitu rendahnya kepercayaan masyarakat pada pemerintah kampung yang dipicu kebijakan tidak
disosialisasikan baik, sehingga
timbul sikap apatis pada
program pemerintah. Musrenbang cenderung
dianggap formalitas karena
aspirasi masyarakat tidak
ditindaklanjuti, sementara akses pemerintah kampung untuk menyampaikan langsung
usulan masyarakat ke pemerintah pusat terbatas. Ada penolakan label stunting, karena menganggap stunting
disebabkan gen bukan pengakit. Di sisi lain, kader
Posyandu belum menerima pelatihan memadai. Namun, masih ada upaya
kolaborasi antara pemerintah kampung dan mitra pemerintah dalam menyusun
dokumen program sebagai salah satu
bentuk luaran dari implementasi kebijakan.
Kesimpulan: Implementasi
kebijakan melalui pemberdayaan untuk
program stunting belum optimal karena ketergantungan kebijakan pusat,
rendahnya kepercayaan masyarakat, penolakan label stunting, serta kader tidak diberdayakan optimal. Namun, ada
upaya kolaborasi pemerintah kampung dengan mitra menghasilkan luaran dokumen program.
Implementation Of The Village Fund
Priority Policy Through
Community Empowerment For The Stunting Reduction Program In
Kampung Sawar And Bagaiserwar I
Sarmi District Sarmi Regency
Papua Province
Background: This study highlights how the
implementation of the village fund priority policy through community
empowerment has not been optimal for the stunting reduction program in Kampung
Sawar and Bagaiserwar I. Although Ministerial Regulation No. 8 of 2022 supports
stunting reduction activities through empowerment, the stunting prevalence in
Sarmi remains high at 25.6% (SSGI, 2022), with the highest number of cases
found in Kampung Sawar (15 under-five children) and Bagaiserwar I (8 under-five
children), and low community participation during village development planning
meetings (Musrenbang).
Method: This is a qualitative case study using
in-depth interviews, observations, and document analysis. The data were analyzed
continuously throughout the data collection and report writing process, based
on the empowerment framework of Laverack and Labonte (2000).
Results: Challenges to policy implementation
include centralization of decision-making by the central government, with
village governments and their partners taking over program decisions. Stunting
funds were only allocated for supplementary feeding (PMT) and Posyandu cadre
honorariums. Community empowerment was also suboptimal due to low trust in the
village government, triggered by poor policy dissemination, which led to apathy
toward government programs. The Musrenbang process was often seen as a
formality, as community aspirations were not followed up, while village
governments had limited access to directly convey proposals to the central
government. There was also rejection of the "stunting" label, as it
was perceived to be caused by genetics rather than disease. Furthermore,
Posyandu cadres had not received adequate training. Nonetheless, there were
collaborative efforts between village governments and government partners in
drafting program documents as an output of policy implementation.
Conclusion: The implementation of the policy
through empowerment for the stunting program remains suboptimal due to dependence
on central policies, low community trust, rejection of the stunting label, and
insufficient empowerment of cadres. However, there have been collaborative
efforts between village governments and partners that resulted in program
documents as outputs.
Kata Kunci : Pemberdayaan Masyarakat, Pertumbuhan Terhambat, Kebijakan Kesehatan, Implementasi Program, Penduduk Pedesaan, Papua/ Community Empowerment, Stunted Growth, Health Policy, Program Implementation, Rural Population, Papua.