Desain Pola Operasi Sistem Kelistrikan Terintegrasi VRE Tinggi : Kasus Sistem Ambon
Hafizh Hardika Kurniawan, Ir. Lesnanto Multa Putranto, S.T., M.Eng., Ph.D.,IPM., SMIEEE. ; Dr. Ir. Yusuf Susilo Wijoyo, S.T., M.Eng
2025 | Tesis | S2 Teknik Elektro
Pengoperasian
pembangkit listrik energi terbarukan (Variable Renewable Energy/VRE)
mempengaruhi stabilitas sistem tenaga listrik. Dampak terhadap sta bilitas
sistem tenaga listrik sebanding dengan proporsi pembangkitan VRE dalam sistem.
Oleh karena itu, evaluasi stabilitas diperlukan untuk menilai tingkat inte
grasi VRE yang dapat diterima. Metode evaluasi didasarkan pada kriteria
stabilitas sistem tenaga listrik, terutama stabilitas frekuensi dan stabilitas
sudut rotor. Studi di ini berfokus pada sistem tenaga listrik Ambon pada tahun
2030, di mana beban sistem diproyeksikan mencapai 88 MW dengan integrasi
pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 50 MW. Evaluasi yang dilakukan
berbasis simulasi domain waktu untuk menilai stabilitas frekuensi selama
kejadian N-1 pada unit pembang kit, yang dalam studi ini disimulasikan dengan
gangguan lepasnya unit pembangkit sebesar 10 MW. Hasil simulasi menunjukkan
bahwa frekuensi sistem relatif stabil dengan integrasi PLTS 50 MW. Namun, dalam
beberapa kasus, frekuensi tidak da pat pulih ke nilai yang diizinkan, yang
menunjukkan adanya tantangan dalam mem pertahankan stabilitas sistem. Selain
itu, dalam analisis stabilitas transien, Critical Clearing Time (CCT) menjadi
parameter penting dalam menentukan batas waktu maksimal pemutusan gangguan
sebelum sistem kehilangan stabilitas. CCT meng gambarkan durasi maksimum
gangguan sebelum sistem mengalami ketidakstabilan sudut rotor. Dalam studi ini,
perhitungan CCT dilakukan untuk menilai ketahanan sistem terhadap gangguan.
The
operation of renewable energy power plants Variable Renewable Energy (VRE)
affects the stability of the power system. The impact on power system stability
is proportional to the share of VRE generation within the system. Therefore,
stability assessment is necessary to evaluate the acceptable level of VRE
integration. The evaluation method is based on power system stability criteria,
particularly frequency stability and rotor angle stability. This study focuses
on the Ambon power system in 2030, where the system load is projected to reach
88 MW with the integration of a 50 MW solar power plant (SPP). The assessment
is conducted using time-domain simulation to evaluate frequency stability
during an N-1 contingency event, which, in this study, is simulated as the
outage of 9,7 MW generating unit. The simulation results indicate that the
system frequency remains relatively stable with 50 MW SPP integration. However,
in certain cases, the frequency fails to recover to a permissible value,
highlighting challenges in maintaining system stability. Additionally, in
transient stability analysis, the Critical Clearing Time (CCT) is a crucial
parameter in determining the maximum fault-clearing time before the system
loses stability. CCT represents the maximum duration of a disturbance before
the system experiences rotor angle instability. In this study, CCT calculations
are performed to assess the system’s resilience to disturbances.
Kata Kunci : Sistem kelistrikan Ambon, Stabilitas sistem tenaga, Simulasi domain waktu