Evaluasi Implementasi Program Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer di Kabupaten Klaten
Nur Syamsiah Awuni, Prof.Dra.Yayi Suryo Prabandari,M.Si.,Ph.D ; Dr.Daniel,M.Sc
2025 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Latar Belakang: Pelayanan kesehatan primer penting untuk mencapai UHC dan SDGs, namun masih menghadapi tantangan akses, regulasi, dan infrastruktur. Sebagai upaya perbaikan, Kementerian Kesehatan meluncurkan Program Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer pada 2023. Kabupaten Klaten memilih 34 desa untuk menjadi lokasi percontohan dengan 99,26% posyandu aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi terkait implementasi Program Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer di Kabupaten Klaten.
Metode: Penelitian ini merupakan riset implementasi dengan pendekatan kualitatif dan desain studi kasus, dilaksanakan di lima lokasi puskesmas wilayah Kabupaten Klaten. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus, studi dokumen, serta observasi lapangan, kemudian dianalisis menggunakan kerangka RE-AIM yang mencakup lima dimensi: reach, effectiveness, adoption, implementation, dan maintenance. Analisis dilakukan secara tematik melalui proses pengkodean, interpretasi, verifikasi, dan penyajian naratif.
Hasil: Implementasi Program Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP) di Kabupaten Klaten menunjukkan variasi capaian pada tiga tingkat pelayanan. Puskesmas menghadapi resistensi masyarakat terhadap skrining dan keterbatasan waktu, namun menguatkan efektivitas melalui pelayanan lima klaster dan SOP terstandar. Pustu didukung kontribusi desa dan peran aktif bidan, sementara posyandu mengintegrasikan layanan dengan dukungan kader dan kohesi sosial, meski terkendala kapasitas SDM dan anggaran. Program menunjukkan dampak positif berupa peningkatan pengetahuan kesehatan dan deteksi dini, dengan keberlanjutan diarahkan pada penguatan sarana, regulasi, dan kolaborasi lintas sektor.
Kesimpulan: Program ILP di Kabupaten Klaten telah diimplementasikan dengan capaian dan efektivitas yang bervariasi. Meskipun terdapat hambatan, program ini meningkatkan layanan dan literasi kesehatan. Keberlanjutan bergantung pada penguatan sarana, regulasi, dan dukungan lintas sektor.
Background: Primary healthcare services are crucial for achieving UHC and SDGs but face access, regulatory, and infrastructure challenges. The Ministry of Health launched the Primary Healthcare Services Integration Program in 2023, with Klaten Regency implementing it across 34 pilot villages achieving 99.26?tive posyandu coverage. This study examines stakeholder perceptions of program implementation in Klaten Regency.
Methods: This qualitative implementation research employed a case study design across five puskesmas locations in Klaten Regency. Data collection utilized in depth interviews, focus group discussions, document review, and field observations. Analysis applied the RE-AIM framework (reach, effectiveness, adoption, implementation, maintenance) through thematic coding and narrative interpretation.
Results: Program implementation showed varied outcomes across three service levels. Puskesmas encountered community screening resistance and time constraints while strengthening effectiveness through five-cluster services and standardized procedures. Pustu benefited from village support and midwife engagement, while posyandu integrated services through community health worker support and social cohesion, despite human resource and budget limitations. The program yielded positive impacts including improved health literacy and early detection, with sustainability contingent on enhanced infrastructure, regulation, and cross-sectoral collaboration.
Conclusion: The ILP program in Klaten Regency demonstrated variable implementation effectiveness. Despite challenges, it improved healthcare delivery and health literacy. Program sustainability requires strengthened infrastructure, regulatory frameworks, and cross-sectoral support.
Kata Kunci : Program Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer, kerangka RE-AIM, implementasi program.