Diagnosis Klinis Versus Diagnosis Laboratoris Kasus Demam TifoidDi RSUP Dr. Sardjito
Yodi Mahendradhata, dr. Iwan Dwiprahasto, M.Med.Sc. ; dr. Adi Utarini, M.Sc.
1996 | Skripsi | S1 KEDOKTERANPenatalaksanaan yang baik pada kasus demam tifoid harus dimulai dengan pemeriksaan dan penegakkan diagnosis yang tepat. Denagan diagnosis yang tepat akan menghasilkan keputusan dan tidakan terapi yang rasional Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran klinis kasus demam tifoid di bangsal Penyakit Dalam RSUP Dr. Sardjito selama tahun 1994 dan menetapkan validitas kriteria diagnosis klinis demam tifoid. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan jenis rancangan penelitian cross-sectional. Subyek penelitian adalah penderita demam tifoid yang dirawat inap di bangsal Penyakit Dalam RSUP Dr. Sardjito selama tahun 1994 dan mendapatkan pemeriksaan kultur empedu yang datanya terdapat di Bagian Catatan Medik. Hasil penelitian didapatkan: 43 kasus demam tifoid yang mendapat pemeriksaan kultur empedu, terdiri dari 28 laki-laki (63,1%) dan 15 perempuan (34,9%) dengan rerata umur (±SD) 31,19±13.34. Demam, nausea dan lidah kotor didapatkan sebagai gejala yang dominan pada kasus demam tifoid. Analisis dengan kurva Receiver Operating Characteristic menghasilkan kriteria diagnosis klinis sebagai berikut: demam ?3 hari dengan gangguan Traktus Gastro Intestinal dan lidah tifoidstelah hari-3 demam. Kriteria tersebut memiliki sensitifitas tinggi (75%), spesifitas sedang (52%), nilai ramal positif rendah (48%) dan nilai ramal negatif tinggi (78%). Disimpulkan bahwa kriteria tersebut tidak dapat digunakan sebagai diagnosis tunggal namun cukup berharga sebagai alat bantu penemuan adanya demam tifoid.
Kata Kunci : demam tifoid, diagnosis klinis, diagnosis laboratoris