Struktur penyerapan angkatan kerja berdasrakan pemanfaatan jam kerja di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta : Analisis data susenas kor 2002
Ratna Suminar, Prof. Drs. Kasto, M.A.; Rr. Wiwik Puji Mulyani, S.Si., M.Si.
2004 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGANTerbatasnya kesempatan kerja di negara berkembang merupakan salah satu permasalahan ketenagakerjaan yang semakin lama cenderung semakin kompleks. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi sebelum krisis moneter masih belum mampu menciptakan lapangan kerja yang memadai, yang memunculkan suatu fenomena ketidakmampuan memperoleh lapangan pekerjaan yang layak dengan indikasi pendeknya jam kerja. Hal ini dapat dicermati dari banyaknya tenaga kerja yang belum termanfaatkan sepenuhnya dari segi jam kerja. Berdasar logika semacam ini kemudian muncul konsep pemanfaatan tidak penuh (under employment) dan pemanfaatan penuh (full employment). Pada prinsipnya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur penyerapan angkatan kerja berdasarkan pemanfaatan jam kerja yang dikaitkan dengan karakteristik angkatan kerja dengan distribusi menurut kabupaten dan kota. Penelitian ini menggunakan Data Susenas Kor Prop. D.I. Yogyakarta tahun 2002, dengan variabel sosial demografi (umur, jenis kelamin, pendidikan) serta variabel ketenagakerjaan (lapangan pekerjaan dan status pekerjaan). Penggunaan data ini didasarkan pada kekuatan estimasinya yang tidak hanya pada tingkat nasional dan propinsi namun juga pada tingkat kabupaten dan kota. Tehnik analisis yang digunakan adalah analisis tabel frekuensi dan analisis tabel silang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum kesempatan kerja didominasi oleh kelompok laki-laki berumur potensial (25-49), dengan tingkat pendidikan SMU untuk Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman serta tingkat pendidikan SD untuk Kabupaten Kulonprogo, Bantul dan Gunungkidul. Dari segi pemanfaatan jam kerja, secara umum persentase pemanfaatan tidak penuh angkatan kerja yang berada di daerah kabupaten cenderung berada pada lapangan pekerjaan sektor A (Agriculture) dengan status informal, sedangkan di kota cenderung berada pada lapangan pekerjaan sektor S (Services) dengan status yang sama, selanjutnya pemanfaatan penuh angkatan kerja yang berada di daerah kota yang terserap pada lapangan pekerjaan sektor M (Manufacture) dan S dengan status pekerjaan formal cenderung lebih tinggi jika dibandingkan dengan kabupaten. Tingginya persentase pemanfaatan tidak penuh pada sektor A dan S jika dibandingkan pemanfaatan penuh dapat disebabkan oleh beberapa hal pertama, daerah tersebut memang bercirikan rural dimana kegiatan pertanian dengan jam kerja yang longgar lebih mendominasi. Kedua, adanya aliran angkatan kerja yang keluar dari sektor A relatif besar dan mereka cenderung memasuki sektor S berstatus informal yang dalam banyak hal mempunyai kemiripan dengan sektor A. Gejala ini cukup menonjol terutama di wilayah peralihan yang mengalami perubahan pemanfaatan lahan dari sektor pertanian ke non pertanian, seperti yang terjadi di Kabupaten Sleman dan juga Bantul yang merupakan wilayah peralihan dan juga pemekaran dari Kota Yogyakarta.
-
Kata Kunci : Penyerapan angkatan kerja,Pemanfaatan jam kerja,Daerah Istimewa Yogyakarta,DIY