Laporkan Masalah

Tinjauan Manajemen Kasus Disentri Pada Anak Balita Di Puskesmas Juwiring Periode April 1991-Maret 1992

R. Joko Martono, dr. Suharyanto S., MPH, MSPH ; dr. Adi Utarini

1992 | Skripsi | S1 KEDOKTERAN

Disentri sebagai salah satu penyebab kepatian pada balita memerlukan perhatian yang lebih serius dalam penatalaksanaannya terutama di Puskesmas sebagai tempat pelayanan kesehatan masyarakat yang berada di garis depan, dalam upaya menurunkan angka kematian balita karena disentri dan komplikasinya. Penelitian retrospektif memakai Audit Medic ini bertujuan untuk mendiskripsikan penatalaksanaan kasus disentri di Puskesmas, dan mengevaluasi apakah penatalaksanaan kasus disentri di Puskesmas sudah sesuai dengan pedoman penatalaksanaan kasus disentri dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Penelitian dilakukan dengan mengambil data-data penderita disentri yang berusia dibawah lima tahun dan dinilai dari pernyataan diagnosis dan pengobatan oleh petugas kesehatan yang tercatat dalam buku register kunjungan Puskesmas Juwiring, Klaten, selama 1 tahun, tercatat antara 1 April 1991 sampai 31 Maret 1992. Hasil penelitian menunjukkan 147 anak balita penderita disentri yang memeriksakan ke Puskesmas juwiring, merupakan 38,89% dari seluruh kasus disentri, dengan kejadian tertinggi pada kelompok umur antara 13 bulan dan 24 bulan (31,97%). Status dehidrasi dan adanya darah dalam tinja tidak tercatat (0%), 12,25% disertai demam. Pengobatan yang diberikan adalah antibiotika yaitu cotrimoxazole selama 2-3 hari dengan dosis 3x1 tablet/hari dan oralit saat memeriksakan dan setiap sehabis buang air besar yang encer 1 bungkus/200cc, tidak diberikan cairan intravena, tindak lanjut dan rujukan ke rumah sakit karena tidak ada kasus disentri dengan status dehidrasi berat. Paracetamol 2-3 hari (3x1 tablet/hari atau 3x1 sendok teh/hari) diberikan pada penderita yang disertai demam. Disimpulkan bahwa penatalaksanaan kasus disentri pada anak balita di Puskesmas belum sesuai dengan pedoman penatalaksanaan kasus disentri dari Departemen Kesehatan R.I., dimana lama pemberian antibiotika (2-3 hari) tidak sesuai dengan yang dianjurkan (5 hari), dan tidak dapat dibuktikan efikasi penatalaksanaan kasus disentri pada anak balita di Puskesmas. Disarankan untuk diadakannya penelitian lebih lanjut dengan mengikutsertakan penelitian tentang proses diagnosis, pengendalian yang lebih ketat terhadap faktor-faktor luar yang mempengaruhi, serta “outcome” dari penatalaksanaan kasus disentri pada anak balita di Puskesmas.

-

Kata Kunci : Disentri, balita

  1. S1-FKU-1992-RJokoMartono-abstract.pdf  
  2. S1-FKU-1992-RJokoMartono-bibliography.pdf  
  3. S1-FKU-1992-RJokoMartono-tableofcontent.pdf  
  4. S1-FKU-1992-RJokoMartono-title.pdf