Makna hidup manusia: Studi komparasi pemikiran Marcus Aurelius dan St. Ignatius Loyola
Thomas Rosario Babtista, Dr. Septiana Dwiputri Maharani, S.S., M.Hum.; Dr. Drs. Mustofa Anshori Lidinillah, M.Hum.
2025 | Tesis | S2 Ilmu Filsafat
Dewasa ini teknologi berkembang sangat masif. Perkembangan ini seperti pisau bermata dua yang bisa membuat peradaban manusia berkembang pesat tetapi di sisi lain membawa krisis identitas. Krisis identitas ini bisa diselesaikan saat manusia mengetahui makna hidupnya sebagai manusia yang terwujud dalam bentuk konsep hidup manusia, tujuan hidup manusia dan bagaimana manusia mengaktualisasikannya. Marcus Aurelius dan St. Ignatius Loyola memberikan dua cara pandang yang unik dan mendalam mengenai makna hidup manusia.
Penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif yang mengacu pada sumber kepustakaan pada jurnal, buku, dan berbagai macam artikel. Pendekatan yang digunakan adalah model komparasi. Model penelitian ini akan menunjukkan kesamaan dan perbedaan mendasar dari pemikiran Aurelius dan pemikiran Loyola demi menemukan konsep fundamental akan makna hidup manusia. Metode yang digunakan adalah metode hermeneutik filosofis dengan menggunakan unsur metodis deskripsi, komparasi, analisis, integrasi, dan kesinambungan historis.
Hasil penelitian ini adalah: terdapat persamaan dan perbedaan pemikiran antara Marcus Aurelius dan St. Ignatius Loyola mengenai makna hidup. Perbedaan keduanya tampak pada fundamen ontologi makna hidup. Aurelius menempatkan rasionalitas sebagai fundamen ontologi makna hidup manusia, rasio menjadi sarana bagi manusia untuk menyelaraskan diri dengan logos. Aurelius berfokus pada pengendalian rasio dalam sisi internal diri. Sementara, Loyola menempatkan cinta sebagai fundamen ontologi makna hidup manusia. Cinta itu disadari dan diberikan pada sesama demi keselamatan manusia. Loyola berfokus pada penyadaran cinta Allah dalam berbagai peristiwa diri manusia. Persamaan pemikiran keduanya mengenai makna hidup tampak pada aspek epistemologi dan aksiologi. Keduanya sepakat bahwa secara epistemologis, makna hidup manusia ditemukan dalam meditasi; dan secara aksiologis direalisasikan dalam realitas sosial. Untuk membantu mengatasi krisis identitas modern, rasio dan cinta perlu diintegrasikan sebagai fondasi makna hidup manusia, sehingga melalui kesadaran diri, keterbukaan terhadap realitas, dan hidup yang relasional dapat ditemukan makna hidup manusia yang lebih utuh dan bonum commune.
Today, technology is developing at an extraordinary pace. This development acts as a double-edged sword: while it propels human civilization forward, it also brings about a crisis of identity. This identity crisis can be addressed when humans discover the meaning of their existence—reflected in their concept of life, life purpose, and its actualization. Marcus Aurelius and St. Ignatius Loyola offer two unique and profound perspectives on the meaning of human life.
This research is a qualitative study based on library sources such as journals, books, and various articles, using a comparative approach. This model highlights the fundamental similarities and differences between Aurelius’s and Loyola’s thoughts in order to uncover the essential concept of human life's meaning. The method employed is philosophical hermeneutics, incorporating descriptive, comparative, analytical, integrative, and historical-continuity elements.
The results of this research show that there are both similarities and differences between the thoughts of Marcus Aurelius and St. Ignatius Loyola regarding the meaning of life. The difference lies in the ontological foundation of life’s meaning. Aurelius places rationality as the ontological foundation of human life’s meaning, with reason serving as the means by which humans align themselves with the logos. He focuses on the internal control of reason. Meanwhile, Loyola places love as the ontological foundation of life’s meaning. This love is realized and shared with others for the sake of human salvation. Loyola emphasizes the awareness of God’s love as it is experienced in various events of one’s personal life. The similarity in their thoughts is found in epistemological and axiological aspects: both agree that epistemologically, the meaning of life is discovered through meditation, and axiologically, it is realized in social reality. To help overcome the modern crisis of identity, reason and love must be integrated as the foundation of human life’s meaning, so that through self-awareness, openness to reality, and relational living, a more holistic meaning of life and the bonum commune may be found.
Kata Kunci : Filsafat Manusia, Makna Hidup, Krisis Identitas, Rasionalitas, Cinta