Laporkan Masalah

Pengelolaan Mangrove Wana Tirta Berbasis Kerja Sama di Padukuhan Pasir Mendit Kalurahan Jangkaran Kapanewon Temon Kabupaten Kulon Progo

Nurafifah Asri Pratiwi Putri, Ir. Hery Saksono, M.A.

2025 | Skripsi | MANAJ. SUMBER DAYA PERIKANAN

Penelitian bertujuan untuk: 1) Menganalisis pemangku kepentingan dan perannya dalam pengelolaan mangrove, dan 2) Mengetahui permasalahan dalam pengelolaan mangrove Wana Tirta. Pengumpulan data lapangan dilakukan pada bulan Desember 2024-Januari 2025. Data primer diperoleh dari wawancara dengan 20 orang pemangku kepentingan, yang dipilih menggunakan metode purposive sampling, yaitu dua orang pengurus kelompok tani mangrove “Wana Tirta”, tiga orang dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), satu orang dari PT. PNM DIY (CSR), dua orang dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi DIY, satu orang dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kulon Progo, dua orang dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi DIY, satu orang dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo, satu orang dari Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Serayu Opak Progo, satu orang dari Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Kulon Progo, Kepala Dukuh Pasir Mendit, satu orang Aparatur Kalurahan Jangkaran, dua orang masyarakat lokal pemanfaat mangrove, satu orang pencari kepiting, dan satu orang petambak. Data sekunder dikumpulkan dari dokumen kelompok dan dinas terkait. Analisis data menggunakan statistik deskriptif dan deskripsi kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran pemerintah provinsi dan kabupaten berperan penting dalam pembentukan regulasi dan pendampingan teknis dalam pengelolaan mangrove. Peran LSM dan CSR mendampingi kegiatan dan memberikan pendanaan kegiatan konservasi. Pemerintah Kalurahan Jangkaran menjadi penghubung antar pemerintah provinsi dan kabupaten dengan masyarakat. Kurangnya partisipasi generasi muda dalam pengelolaan mangrove Wana Tirta menjadi tantangan dalam pengelolaan mangrove yang berkelanjutan. 

The research aims to: 1) Analyze stakeholders and their roles in mangrove management, and 2) Identify problems in Wana Tirta mangrove management. Field data collection was conducted in December 2024-January 2025. Primary data were obtained from interviews with 20 stakeholders, selected using a purposive sampling method, including two administrators of the "Wana Tirta" mangrove farmer group, three people from Non-Governmental Organizations (NGOs), one person from PT. PNM DIY (CSR), two officials from the Environmental and Forestry Office of DIY, one official from the Environmental Office of Kulon Progo Regency, two officials from the Marine and Fisheries Office of DIY, one official from the Marine and Fisheries Office of Kulon Progo, one representative from the Serayu Opak Progo Watershed Management Agency (BPDAS), one representative from the Regional Development Planning, Research, and Innovation Agency of Kulon Progo (Bapperida), the Head of Pasir Mendit Hamlet, one official from the Jangkaran Village Government, two local community members who utilize mangrove resources, one crab collector, and one shrimp farmer. Secondary data were collected from group documents and agencies. Data analysis used descriptive statistics and qualitative descriptions. The results of the study indicate that the role of the provincial and regency government plays an important role in the formation of regulations and technical assistance in mangrove management. The role of NGOs and CSR is to accompany activities and provide funding for conservation activities. The Jangkaran Village Government acts as a liaison between the provincial and regency government and the community. The lack of participation of the younger generation in Wana Tirta mangrove management is a challenge to sustainable mangrove management.

Kata Kunci : kerja sama, pengelolaan mangrove, pemangku kepentingan, Wana Tirta.

  1. S1-2025-481543-abstract.pdf  
  2. S1-2025-481543-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-481543-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-481543-title.pdf