Laporkan Masalah

Analisis Dampak Subsidi Pendidikan dari PKH dan PIP terhadap Partisipasi Sekolah: Studi Perbandingan Penerima Manfaat Tunggal dan Ganda

Vertue Volcano, Akhmad Akbar Susamto, S.E., M.Phil., Ph.D

2025 | Tesis | S2 Magister Ek.Pembangunan

Partisipasi sekolah pada jenjang menengah atas merupakan titik kritis dalam upaya membangun sumber daya manusia yang berkualitas, terutama di tengah tingginya angka putus sekolah pada kelompok usia 16–18 tahun yang erat kaitannya dengan kemiskinan. Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah mengimplementasikan berbagai program bantuan sosial, termasuk Program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Indonesia Pintar (PIP). Adanya tumpang tindih penerima manfaat di lapangan memunculkan pertanyaan penting mengenai efektivitas dan potensi sinergi dari penerimaan bantuan ganda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak dari penerimaan PKH, PIP, dan kombinasi keduanya terhadap partisipasi sekolah anak usia 16–18 tahun. Dengan menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2019 dan 2021, penelitian ini menerapkan metode propensity score matching (PSM) yang dikombinasikan dengan model probabilitas linear untuk mengestimasi dampak kausal dari setiap treatment.

Penelitian ini menghasilkan tiga temuan utama. Pertama, PIP memiliki dampak positif yang sangat signifikan, meningkatkan probabilitas partisipasi sekolah sebesar 17,7% hingga 19,6%. Kedua, PKH juga memiliki dampak positif yang signifikan, namun dengan dampak yang lebih kecil, meningkatkan partisipasi sekolah sebesar 1,2% hingga 4,7%. Ketiga, penerimaan manfaat bantuan ganda (PKH dan PIP) secara signifikan meningkatkan partisipasi sekolah sebesar 12,9% hingga 17,5%, meskipun dampak ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan bantuan tunggal PIP. Principal component analysis (PCA) lebih lanjut menunjukkan bahwa penerima PKH merupakan kelompok termiskin, yang menjelaskan dampak PKH yang lebih kecil dan mengapa manfaat ganda tidak menghasilkan efek sinergis yang aditif.

    Simpulan dari penelitian ini adalah hipotesis adanya efek sinergi yang bersifat aditif sederhana tidak dapat didukung. Sebaliknya, temuan ini mengindikasikan bahwa kedua program memainkan peran yang komplementer. PIP secara efektif mengatasi kendala biaya pendidikan langsung melalui mekanisme penurunan harga efektif dan akuntansi mental. Di sisi lain, PKH berfungsi sebagai jaring pengaman ekonomi fundamental bagi rumah tangga termiskin, di mana efek pendapatannya terserap untuk berbagai kebutuhan dasar yang juga mendesak. Nilai strategis dari kebijakan bantuan ganda tidak terletak pada penciptaan efek sinergi yang besar pada satu indikator, melainkan pada kemampuannya untuk mengatasi berbagai jenis kendala kemiskinan secara simultan.

Enhancing educational participation at the senior secondary level is a crucial challenge for Indonesia in its efforts to develop high-quality human capital, particularly given the high dropout rate among the 16–18 age group, which is closely linked to poverty. In response, the government has implemented two main cash transfer programs: the household-based Program Keluarga Harapan (PKH) and the student-targeted Program Indonesia Pintar (PIP). The reality on the ground reveals an overlap of beneficiaries, raising critical questions about the combined effectiveness and potential synergy of these programs. This study aims to analyze and compare the impact of receiving a single benefit (either PKH or PIP) versus dual benefits (both PKH and PIP) on the school participation of 16–18 year olds. Utilizing data from the 2019 and 2021 National Socio-Economic Survey (Susenas), this research employs a quantitative, causal-comparative method. A Propensity Score Matching (PSM) approach is used to address selection bias, combined with a Linear Probability Model to estimate causal impacts.

The research yields three main findings. First, PIP has a highly significant positive impact, increasing the probability of school participation by 17.7% to 19.6%. Second, PKH also has a significant positive impact, but with a smaller magnitude, increasing school participation by 1.2% to 4.7%. Third, receiving dual benefits (PKH and PIP) significantly increases school participation by 12.9% to 17.5%, although this impact is notably lower than that of PIP alone. Further Principal Component Analysis (PCA) indicates that PKH recipients constitute the poorest group, which explains the smaller impact of PKH and why dual benefits do not yield an additive synergistic effect.

    The policy implication of these findings is that PKH and PIP play crucial complementary roles. PIP effectively addresses the direct costs of education (acting on price effects), while PKH serves as a fundamental economic safety net for the poorest households (acting on income effects). Therefore, the dual-benefit strategy should be viewed not as a tool for simple additive impact but as a comprehensive approach to tackling multidimensional poverty. This strategy should be strengthened and supported by accurate targeting data to ensure program effectiveness and efficiency.

Kata Kunci : Partisipasi Sekolah, Bantuan Tunai Bersyarat, Program Keluarga Harapan (PKH), Program Indonesia Pintar (PIP), Evaluasi Dampak, Propensity Score Matching (PSM), Komplementaritas Program

  1. S2-2025-524675-abstract.pdf  
  2. S2-2025-524675-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-524675-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-524675-title.pdf