Laporkan Masalah

KELAYAKAN FINANSIAL AGROFORESTRI KAYU DAN EMPON-EMPON DI HUTAN RAKYAT DESA GIRITIRTO KECAMATAN PURWOSARI KABUPATEN GUNUNGKIDUL

Sheli Widya Rahmawati, Agus Affianto, S.Hut., M.Si.

2025 | Skripsi | KEHUTANAN

Agroforestri merupakan bentuk pengelolaan lahan yang mengkombinasikan antara tanaman kehutanan dan pertanian. Salah satu wilayah yang menerapkan sistem ini adalah hutan rakyat di Desa Giritirto, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Gunungkidul, khususnya melalui pengusahaan agroforestri kayu dan empon-empon. Sistem ini diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi dan efisiensi pemanfaatan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengidentifikasi pola agroforestri. 2) mengestimasi biaya dan pendapatan. 3) menghitung kelayakan finansial pengusahaan agroforestri kayu dan empon-empon pada lahan hutan rakyat di Desa Giritirto.

Populasi dalam penelitian ini adalah petani yang mengusahakan agroforestri kayu dan empon-empon di Desa Giritirto sebanyak 216 petani. Sampel diambil menggunakan rumus Taro Yamane (1967) sehingga diperoleh jumlah sampel sebanyak 69 responden dengan IS sebesar 31%. Sampel tersebut terbagi secara proporsional pada 7 dusun sesuai jumlah populasi pada masing-masing dusun. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara menggunakan interview guide. Pola agroforestri dianalisis secara kualitatif, sementara estimasi biaya dan pendapatan serta analisis kelayakan finansial menggunakan analisis kuantitatif. Indikator kelayakan finansial yang digunakan adalah Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR), dan Internal Rate of Return (IRR).

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa 1) pola tanam agroforestri yang diterapkan secara umum adalah random mixture. 2) pendapatan yang diterima petani lebih besar dibandingkan biaya yang dikeluarkan petani. 3) pengusahaan agroforestri kayu dan empon-empon secara keseluruhan layak dilakukan berdasarkan perhitungan kelayakan finansial dengan indikator NPV, BCR, dan IRR. Berdasarkan hasil tersebut keuntungan tertinggi diperoleh pada strata III dengan nilai (NPV=Rp249.666.230,99; BCR=5,61; dan IRR=26%)

Agroforestry is a form of land management that combines forestry and agricultural crops. One area implementing this system is the community forest in Giritirto Village, Purwosari Subdistrict, GunungkidulRegency, particularly through the practice of timber and medicinal plant (empon-empon) agroforestry. This system is expected to provide economic benefits and improve land-use efficiency. This study aims to: (1) identify agroforestry patterns, (2) estimate costs and revenues, and (3) assess the financial feasibility of timber and empon-empon agroforestry in the community forest of Giritirto Village.

The population in this study consists of 216 farmers managing timber and empon-empon agroforestry in Giritirto Village. The sample size was determined using the Taro Yamane formula (1967), resulting in 69 respondents with a sampling intensity of 31%. The sample was proportionally distributed across 7 hamlets according to the population in each. Data were collected through observation and interviews using an interview guide. Agroforestry patterns were analyzed qualitatively, while cost and revenue estimates, as well as financial feasibility analysis, were conducted using quantitative methods. The financial feasibility indicators used were Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR), and Internal Rate of Return (IRR).

Based on the results of the study: (1) the agroforestry planting pattern commonly applied is a random mixture; (2) farmers' income exceeds their expenditures; (3) the timber and empon-empon agroforestry system is generally financially feasible based on the indicators NPV, BCR, and IRR. The highest revenue is generated in level III (NPV=Rp249.666.230,99; BCR=5,61; and IRR=26%).

Kata Kunci : Kata Kunci: Hutan Rakyat, Agroforestri, Kelayakan Finansial

  1. S1-2025-482034-abstract.pdf  
  2. S1-2025-482034-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-482034-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-482034-title.pdf