Laporkan Masalah

"Ini adalah perjalanan bersama": Pengalaman posttraumatuic growth penyintas kekerasan seksual yang menjadi pemimpin gerakan pemberdayaan

Fitria, Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog

2025 | Tesis | S2 Psikologi

Fenomena penyintas kekerasan seksual yang kemudian menjadi pemimpin gerakan pemberdayaan merupakan wujud dari perjalanan individu dalam menemukan makna setelah melalui penderitaan, yang dapat dilihat sebagai pertumbuhan pascatrauma. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana penyintas kekerasan seksual yang menjadi pemimpin gerakan pemberdayaan memaknai pengalaman pertumbuhan pascatrauma mereka. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif pendekatan fenomenologi dan proses pengambilan data dilakukan dengan wawancara mendalam melalui luring maupun daring. Proses analisis data dilakukan dengan menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perjalanan pertumbuhan pascatrauma tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan personal, tetapi juga sebagai perjalanan kolektif bersama sesama penyintas, anggota komunitas, dan kelompok yang mereka dampingi. Secara lebih spesifik, penelitian ini menghasilkan 3 tema utama, yaitu: 1) Pertumbuhan pascatrauma sebagai perjalanan pemulihan: Sebuah proses dalam menghadapi luka, tantangan, dan dukungan; 2) Pertumbuhan pascatrauma sebagai proses menemukan diri yang baru; 3) Pertumbuhan pascatrauma sebagai perjalanan bermakna menuju pemberdayaan, kepemimpinan, dan keterhubungan. Implikasi dari temuan ini adalah mendorong pemerintah dalam menjamin akses pendidikan yang aman dan suportif bagi penyintas kekerasan seksual; perlunya pengembangan kurikulum di institusi pendidikan formal maupun di komunitas yang dapat mendukung keberdayaan penyintas; serta menjadi dasar pengembangan intervensi pemulihan yang melibatkan penyintas.

The phenomenon of sexual violence survivors who later become leaders of empowerment movements reflects an individual journey of meaning-making following suffering, which can be understood as posttraumatic growth (PTG). This study aims to explore how survivors of sexual violence who have become leaders of empowerment movements make sense of their posttraumatic growth experiences. The research employed a qualitative method with a phenomenological approach, and data were collected through in-depth interviews conducted both online and offline. Data analysis was carried out using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). The findings reveal that the process of posttraumatic growth is understood not only as a personal journey but also as a collective one, shared with fellow survivors, community members, and the groups they support. More specifically, the study identified three main themes: (1) Posttraumatic growth as a journey of healing: A process of confronting wounds, challenges, and sources of support; (2) Posttraumatic growth as a process of discovering a new self; and (3) Posttraumatic growth as a meaningful journey toward empowerment, leadership, and connection. The implications of these findings include encouraging the government to ensure safe and supportive access to education for survivors of sexual violence; the need to develop curricula within both formal educational institutions and community settings that promote survivor empowerment; and providing a foundation for the development of recovery interventions that involve survivors.

Kata Kunci : posttraumatic growth, penyintas kekerasan seksual, pemimpin, pemberdayaan, fenomenologi

  1. S2-2025-525241-abstract.pdf  
  2. S2-2025-525241-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-525241-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-525241-title.pdf