Revitalisasi Kawasan Solo Technopark Terhadap Tingkat Kesejahteraan Pelaku UMKM Kota Surakarta
Elma Fadhilah Nurmaghfiroh, Dr. Nunuk Dwi Retnandari, MSi.
2025 | Tesis | S2 Administrasi Publik
Untuk mengatasi permasalahan di perkotaan, muncul konsep tata kelola perkotaan yang disebut Smart City. Salah satu pilar smart city yang menangani persoalan sektor ekonomi yakni Smart Economy. Kota Surakarta menjadi kota yang mengadopsi Smart Economy setelah dikeluarkannya Peraturan Walikota No. 8.6 Tahun 2022 tentang Masterplan Smart City Kota Surakarta. Program revitalisasi kawasan Solo Technopark menjadi salah satu program Pemkot Surakarta untuk pelaku UMKM dengan melibatkan teknologi dalam penerapannya. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis bentuk inovasi dan dampak dari revitalisasi STP terhadap tingkat kesejahteraan pelaku UMKM Kota Surakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan metode thick description. Sumber data yang digunakan berupa data primer dari hasil wawancara mendalam dan data sekunder yang diperoleh dari dokumentasi dan arsip. Adapun teknik analisis data menggunakan analisis tematik dengan meninjau ulang data, melakukan pengkodean dan pencarian tema kemudian dianalisis menggunakan software Nvivo (Woolf & Silver, 2018) yaitu: mengimpor data, melakukan pengkodean, visualisasi hasil coding, penyajian hasil analisis dan penarikan kesimpulan.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa program revitalisasi kawasan Solo Technopark berdampak pada kesejahteraan pelaku UMKM. Berdasarkan hasil analisis pada lima dimensi menurut Thomas (2002) mengenai dampak program, revitalisasi ini berkontribusi pada peningkatan keterampilan manajerial, digitalisasi dan perluasan jejaring pasar bagi pelaku UMKM. Upaya tersebut terbukti mendorong transformasi bagi UMKM dari yang awalnya konvensional kemudian menuju model bisnis yang lebih adaptif terhadap teknologi digital. Selain itu, revitalisasi ini memberikan dampak positif pada perbaikan kinerja usaha dan dapat dilihat dari peningkatan omzet. Pelaku UMKM sebelumnya berada pada kategori usaha mikro dengan hasil penjualan tahunan maksimal Rp300 juta dan saat ini mulai menunjukkan pergeseran ke kategori usaha kecil dengan hasil Rp300 juta – Rp2,5 miliar yang dapat diartikan sebagai indikasi awal peningkatan kesejahteraan bagi pelaku usaha tersebut. Peningkatan omzet ini tentu didorong oleh akses terhadap teknologi seperti pelatihan digital marketing, pendampingan dalam penyusunan business plan serta kemampuan dalam memanfaatkan marketplace untuk memperluas jaringan pasar.
To overcome the problems in urban areas, the concept of urban governance called Smart City emerged. One of the pillars of a smart city that handles economic sector issues is the Smart Economy. Surakarta City became a city that adopted Smart Economy after the issuance of Mayor Regulation No. 8.6 of 2022 concerning Smart City Masterplan of Surakarta City. The Solo Technopark area revitalization program is one of the Surakarta City Government programs for MSME players by involving technology in its application. The purpose of this study is to analyze the form of innovation and the impact of STP revitalization on the welfare of MSME players in Surakarta City. The method used in this research is descriptive qualitative with a thick description method. The data sources used are primary data from in-depth interviews and secondary data obtained from documentation and archives. The data analysis technique uses thematic analysis by reviewing the data, coding and searching for themes and then analyzing using Nvivo software (Woolf & Silver, 2018), namely: importing data, coding, visualizing coding results, presenting analysis results and drawing conclusions.
The results showed that the revitalization program of the Solo Technopark area had an impact on the welfare of MSME actors. Based on the analysis of the five dimensions according to Thomas (2002) regarding the impact of the program, this revitalization contributes to improving managerial skills, digitalization and expanding market networks for MSME actors. These efforts are proven to encourage the transformation of MSMEs from conventional to business models that are more adaptive to digital technology. In addition, this revitalization has a positive impact on improving business performance and can be seen from the increase in turnover. MSME players were previously in the micro business category with maximum annual sales of Rp300 million and are now starting to show a shift to the small business category with results of Rp300 million - Rp2.5 billion, which can be interpreted as an early indication of increased welfare for these business actors. This increase in turnover is certainly driven by access to technology such as digital marketing training, assistance in preparing business plans and the ability to utilize marketplaces to expand market networks.
Kata Kunci : Revitalisasi, Solo Technopark, Dampak, Kesejahteraan UMKM