Hubungan Masalah Kecemasan dengan Lingkungan Pertemanan pada Remaja Usia 10-17 tahun di Indonesia: Analisis Data Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS)
Nurendah Ratri Azhar Rusprayunita, Prof. Dra. Yayi Suryo Prabandari, M.Si, Ph.D; dr. Amirah Ellyza Wahdi, MSPH
2025 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Latar belakang: Masa remaja ditandai dengan
meningkatnya kebutuhan akan dukungan sosial dari teman sebaya.
Ketidakseimbangan dalam hubungan ini dapat menjadi sumber stres psikologis,
termasuk kecemasan. Namun, pengaruh kualitas pertemanan terhadap kesehatan
mental remaja masih jarang menjadi fokus kajian. Tujuan: Mengidentifikasi
hubungan antara lingkungan pertemanan dan masalah kecemasan pada remaja usia
10–17 tahun, serta menganalisis perbedaan lingkungan pertemanan dan perannya
terhadap kecemasan pada remaja perempuan dan laki-laki. Metodologi: Studi
ini merupakan penelitian cross-sectional menggunakan data Indonesia
National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) dengan sampel 5.664 remaja
usia 10–17 tahun di Indonesia. Variabel independen adalah lingkungan pertemanan
yang dikategorikan menjadi positif, negatif, dan ambivalen berdasarkan
kuesioner. Masalah kecemasan diklasifikasikan menjadi dua kategori: tidak
memiliki dan memiliki masalah kecemasan. Analisis bivariabel menggunakan uji
chi-square, dilanjutkan analisis multivariabel dengan regresi logistik untuk
mengidentifikasi hubungan antara kecemasan dan variabel yang dipilih secara a
priori. Analisis dilakukan menggunakan STATA/MP 17.0 dengan p < 0>. Hasil: Sebanyak 26,74% remaja mengalami kecemasan, dengan
prevalensi lebih tinggi pada perempuan (13.82%) dibanding laki-laki (12.92%). Lingkungan
negatif lebih banyak dialami laki-laki (8.93%). Analisis bivariabel menunjukkan
lingkungan pertemanan, tempat tinggal, status sosioekonomi orang tua, tekanan
akademik, self-rated health, dan riwayat ACEs berasosiasi signifikan
dengan kecemasan. Analisis multivariabel, lingkungan pertemanan tetap menjadi
faktor signifikan terhadap kecemasan remaja meskipun telah dikontrol dengan
variabel lain. Kesimpulan: Lingkungan pertemanan, khususnya lingkungan yang
bersifat negatif, tetap berasosiasi signifikan dengan kecemasan remaja meskipun
telah dikontrol oleh variabel lain.
Background: Adolescence
is characterized by an increasing need for social support from peers.
Imbalances in these relationships can become sources of psychological distress,
including anxiety. However, the impact of peer relationship quality on
adolescent mental health remains underexplored. Objectives: This study
aims to examine the association between peer support and anxiety among
adolescents aged 10–17 years and to analyze gender differences in peer support
and its role in anxiety. Methods: This cross-sectional study utilized
data from the Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS),
involving 5.664 adolescents aged 10–17 across Indonesia. The independent
variable was peer environment, categorized as positive, negative, or ambivalent
based on questionnaire responses. Anxiety was classified into two categories:
no anxiety and having anxiety. Bivariable analysis was conducted using
chi-square tests, followed by multivariable logistic regression to assess the
relationship between anxiety and predetermined variables. All analyses were
performed using STATA/MP 17.0, with p < 0>Results: Overall, 26.74% of adolescents experienced anxiety,
with prevalence higher among females (13.82%) than males (12.92%). Negative
peer environment was more commonly reported by males (8.93%). Bivariable
analysis revealed significant associations between anxiety and several
variables, including peer environment, residential setting, parental
socioeconomic status, academic pressure, self-rated health, and adverse
childhood experiences. Peer environment remained a significant factor even
after adjusting for other variables. Conclusion: Negative peer
relationships are significantly associated with adolescent anxiety, even after
controlling for other factors.
Kata Kunci : Adolescent, Friendship, Anxiety, Mental Health, Indonesia