Evaluasi Kriteria Penilaian Kota Layak Huni Kasus Kota Surakarta
Muhammad Farid Anshori, Dr. Yori Herwangi, S.T., M.URP
2025 | Tesis | S2 Magist.Prnc.Kota & Daerah
Kota Surakarta memperoleh predikat sebagai kota paling
layak huni di Indonesia versi Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) tahun
2022 dengan nilai indeks kelayakan mencapai 77 persen. Namun, pencapaian ini
perlu ditinjau lebih lanjut karena masih terdapat berbagai persoalan mendasar
yang belum tertangani secara optimal, seperti keberadaan kawasan permukiman
kumuh, ketimpangan akses terhadap fasilitas dasar, dan sistem transportasi yang
belum inklusif. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan kritis mengenai sejauh
mana penilaian kota layak huni mencerminkan realitas yang ada di lapangan. Oleh
karena itu, penting untuk mengevaluasi kesesuaian antara indikator penilaian
kota layak huni dan kondisi aktual di Kota Surakarta guna memperoleh gambaran
yang lebih objektif dan komprehensif.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif
kualitatif untuk mengevaluasi kesesuaian kondisi eksisting Kota Surakarta
dengan indikator penilaian kota layak huni dari IAP. Teknik pengumpulan data
dilakukan melalui studi dokumentasi, observasi lapangan, dan wawancara mendalam
dengan informan kunci yang terdiri dari perencana kota, akademisi, dan
perwakilan pemerintah daerah. Analisis data dilakukan dengan metode triangulasi
untuk memastikan validitas dan reliabilitas temuan, serta mengidentifikasi
kesenjangan antara indikator ideal dan implementasi aktual di lapangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat
kesenjangan nyata antara penilaian formal Kota Surakarta sebagai kota paling
layak huni secara nasional dengan kondisi faktual di lapangan. Meskipun
penyederhanaan indikator dalam kriteria penilaian Livable City Index memberikan
kemudahan dalam analisis dan pengambilan kebijakan, integrasi sejumlah
indikator berisiko mengaburkan kompleksitas persoalan kota yang sesungguhnya.
Temuan utama menunjukkan bahwa aspek Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan
keterjangkauan hunian menjadi dua titik lemah utama dalam pencapaian kelayakan
huni Kota Surakarta. Proporsi RTH yang baru mencapai 9% serta keterbatasan
akses masyarakat berpenghasilan rendah terhadap rumah layak huni menunjukkan
bahwa belum semua kelompok masyarakat merasakan manfaat dari status “layak
huni” yang disematkan kepada kota ini. Oleh karena itu, penilaian kota layak
huni ke depan perlu mempertimbangkan pendekatan yang lebih mendalam dan kontekstual,
serta menyesuaikan indikator agar mencerminkan kebutuhan riil masyarakat secara
lebih adil dan inklusif.
Surakarta City received the title
of the most livable city in Indonesia according to the Indonesian Association
of Planners (IAP) in 2022, with a livability index score reaching 77 percent.
However, this achievement requires further scrutiny as there are still
fundamental issues that remain inadequately addressed, such as the existence of
slum settlements, unequal access to basic facilities, and a transportation
system that lacks inclusivity. These conditions raise critical questions about
the extent to which the livable city assessment reflects the actual reality on
the ground. Therefore, it is important to evaluate the alignment between the
livable city assessment indicators and the actual conditions in Surakarta to
obtain a more objective and comprehensive picture.
This study employs a qualitative
descriptive approach to evaluate the conformity between Surakarta's existing
conditions and the livable city indicators issued by IAP. Data collection
techniques include document analysis, field observation, and in-depth
interviews with key informants comprising urban planners, academics, and
representatives of the local government. Data were analyzed using triangulation
methods to ensure the validity and reliability of the findings, and to identify
the gaps between ideal indicators and actual implementation in the field.
The results indicate a clear
discrepancy between the formal designation of Surakarta as the most livable
city nationally and the factual conditions on the ground. While the
simplification of indicators in the Livable City Index facilitates analysis and
policymaking, the integration of several indicators risks obscuring the
complexity of actual urban problems. The key findings reveal that Green Open
Space (GOS) and housing affordability are the two major weaknesses in
Surakarta’s livability achievement. With GOS coverage only reaching 9% and
limited access to adequate housing for low-income communities, it is evident
that not all societal groups benefit from the city's "livable"
status. Therefore, future livable city assessments should adopt a more in-depth
and contextual approach, with indicators that better reflect the real needs of
the population in a fair and inclusive manner.
Kata Kunci : Ikatan Ahli Perencanaan, Kota Surakarta dan Livable City Indeks