Konsep Rasa Rumangsa dan Kaitannya dengan Beban Subjektif Keluarga yang Merawat Individu dengan Skizofrenia
Sheilla Varadhila Peristianto, Prof. Drs. Subandi, M.A., Ph.D., Psikolog; Dra. Muhana Sofiati Utami, M.S., Ph.D., Psikolog
2025 | Disertasi | S3 Psikologi
Keluarga yang merawat individu dengan skizofrenia memiliki tugas utama sebagai pendamping. Kemampuan untuk mengelola diri berdasar konteks budaya setempat diperlukan keluarga selama pendampingan. Rasa rumangsa merupakan nilai budaya Jawa yang membentuk perilaku keluarga untuk mengelola diri menghadapi situasi perawatan. Meskipun kajian teoretis mengenai rasa rumangsa telah ada, penelitian ini menambahkan dimensi empiris, menjadikannya kontribusi menarik untuk ditelaah lebih mendalam. Penelitian bertujuan untuk mengembangkan konsep dan alat ukur rasa rumangsa, serta menguji perannya terhadap beban subjektif melalui dukungan sosial. Kebaruan penelitian yaitu mengintegrasikan rasa rumangsa sebagai konstruk psikologis secara sistematis. Studi empiris berurutan dilakukan dengan kerangka kerja mixed method exploratory sequential untuk mencapai tujuan penelitian. Penggunaan kerangka kerja diawali dengan tahap pengumpulan data kualitatif yaitu memperoleh gambaran konsep rasa rumangsa pada tokoh budaya Jawa, ahli psikologi Jawa, dan masyarakat umum di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Tahap selanjutnya dengan pengumpulan data kuantitatif untuk mengembangkan alat ukur rasa rumangsa pada masyarakat umum di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Tahap akhir berupa pengujian peran rasa rumangsa terhadap beban subjektif, melalui dukungan sosial, pada keluarga yang merawat individu dengan skizofrenia di DI Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) rasa rumangsa adalah memahami diri secara lebih mendalam yang menjadikan individu berperilaku menempatkan diri, menjaga hubungan baik, harmonis, damai, dan sejahtera secara sosial. 2) alat ukur rasa rumangsa terdiri 30 aitem dengan loading factor berkisar 0,39 – 0,75, reliabilitas Cronbach’s Alpha sebesar 0,934, validitas kriteria 0,705 (p < 0>rasa rumangsa berperan terhadap beban subjektif keluarga yang merawat individu dengan skizofrenia, melalui dukungan sosial. Rasa rumangsa menjadi coping adaptif meningkatkan pencarian dan persepsi penyediaan dukungan sosial berupa bantuan informasi atau praktis lainnya. Hal tersebut selanjutnya menurunkan tekanan keluarga selama perawatan. Implikasi studi sebagai rujukan referensi bahwa rasa rumangsa merupakan strategi coping nilai budaya Jawa dapat dikembangkan sebagai konstruk intervensi meningkatkan dukungan sosial dan selanjutnya menurunkan beban subjektif keluarga selama perawatan.
Families caring for individuals with schizophrenia carry the primary responsibility as caregivers. The ability to regulate oneself based on local cultural contexts is essential throughout the caregiving process. Rasa rumangsa, a Javanese cultural value, shapes family behavior when facing caregiving situations. Although theoretical discussions about rasa rumangsa have previously emerged, this study contributes an empirical dimension, making it a valuable subject for further academic exploration. This research aims to develop the concept and measurement scale of rasa rumangsa and examine its role in reducing subjective burden through social support. The novelty of this study lies in presenting rasa rumangsa as a psychological construct in a systematic and measurable form. An exploratory sequential mixed-methods design was employed. The first stage involved collecting qualitative data to explore the rasa rumangsa concept from cultural figures, Javanese psychologists, and the general public in Central Java and the Yogyakarta Special Region (DI Yogyakarta). The second stage involved collecting quantitative data to develop a measurement scale of rasa rumangsa with samples from the general public in Central Java and DI Yogyakarta. The final stage tested the role of rasa rumangsa in influencing the subjective burden of families caring for individuals with schizophrenia in DI Yogyakarta through social support. Findings reveal that: (1) rasa rumangsa reflects a profound self-awareness that leads individuals to behave with social appropriateness, maintaining harmony, peace, and relational well-being; (2) the developed scale consists of 30 items, with factor loadings ranging from .39 to .75, Cronbach’s alpha of .934, criterion validity of r = .705 (p < .05), and inter-item correlations between .80 < rxy xss=removed xss=removed>rasa rumangsa plays a role in reducing the subjective burden of caregiving through social support. As an adaptive cultural coping mechanism, rasa rumangsa enhances help-seeking behaviors and the perception of social support, both informational and practical, ultimately reducing caregiving-related stress. The study implies that rasa rumangsa may serve as a culturally grounded coping strategy and be further developed as a psychological construct in interventions to strengthen social support and alleviate the subjective burden of families providing care.
Kata Kunci : beban subjektif, caregiver, Jawa, mixed method exploratory sequential, rasa rumangsa