Komunikasi Pembangunan Kesehatan Dalam Krisis Pandemi Corona Virus Disease (Studi Koordinasi,Kolaborasi dan Komunikasi Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta
Ida Mardalena, Prof. Dr. Phil. Hermin Indah Wahyuni, M.Si, Dr. agr. Ir. Sri Peni Wastutiningsih
2025 | Disertasi | S3 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan
INTISARI
Komunikasi Pembangunan Kesehatan Dalam Krisis Pandemi Corona Virus Disease (Studi Koordinasi, Kolaborasi Dan Komunikasi Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta)
Ida Mardalena1,2, Hermin Indah Wahyuni1, Sri Peni Wastutiningsih1
1 Program Studi Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
2 Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Yogyakarta
Pandemi COVID-19 telah menjadi krisis multidimensi yang menuntut respons kebijakan dan komunikasi publik yang adaptif, terkoordinasi, dan kolaboratif. Dalam konteks ini, peran Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (Diskes DIY) menjadi strategis sebagai institusi kunci dalam membangun komunikasi pembangunan kesehatan di tengah ketidakpastian dan tingginya tekanan sosial. Namun, dinamika komunikasi yang berlangsung di lapangan menunjukkan adanya tantangan dalam koordinasi antar-aktor, sinkronisasi pesan, serta pelibatan masyarakat dalam strategi komunikasi
Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik komunikasi pembangunan saat krisis pandemi COVID-19 yang dijalankan oleh Diskes DIY, dengan fokus pada aspek koordinasi, kolaborasi, dan komunikasi risiko.
Partisipan & Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi dan teknik analisis data Colaizzi. Partisipan terdiri atas 17 informan kunci yang berasal dari unsur pimpinan, pelaksana teknis, mitra kerja, dan tokoh masyarakat yang relevan dengan konteks krisis kesehatan di DIY.
Temuan Hasil penelitian menunjukkan bahwa koordinasi lintas sektor memiliki peran sentral dalam merespons krisis, namun kerap terhambat oleh ketidaksinkronan alur informasi antara pusat dan daerah. Kolaborasi multipihak, termasuk dengan rumah sakit rujukan, media lokal, dan komunitas, mampu memperkuat respons, meskipun belum didukung dengan sistem komunikasi yang terstruktur dan partisipatif. Temuan penting lainnya adalah belum optimalnya pemanfaatan tokoh masyarakat sebagai agen komunikasi risiko berbasis kepercayaan dan budaya lokal
Kesimpulan Penelitian ini menghasilkan model komunikasi pembangunan saat krisis yang integratif, adaptif, dan dapat direplikasi untuk konteks emergensi lainnya. Secara teoretis, penelitian ini memperluas cakupan komunikasi pembangunan ke dalam ranah krisis kesehatan, sedangkan secara praktis memberikan rekomendasi kebijakan penguatan sistem komunikasi publik berbasis kolaborasi dan komunitas.
Kata kunci : komunikasi pembangunan, komunikasi risiko, kolaborasi, koordinasi, pandemi COVID-19, Dinas Kesehatan
ABSTRACT
Health Development Communication in the Corona Virus Disease Pandemic Crisis (Study of Coordination, Collaboration and Communication of the Provincial Health Service Daerah Istimewa Yogyakarta)
Ida Mardalena1,2, Hermin Indah Wahyuni1, Sri Peni Wastutiningsih1
1 Extension and Development Communication Study Program, Gadjah Mada University, Yogyakarta
2 Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Yogyakarta
The COVID-19 pandemic has emerged as a multidimensional crisis, demanding an adaptive, coordinated, and collaborative policy and public communication response. In this context, the Health Office of the Special Region of Yogyakarta (Diskes DIY) played a strategic role as a key institution in implementing health development communication amidst uncertainty and intense social pressure. However, field dynamics revealed challenges in inter-actor coordination, message synchronization, and community engagement in communication strategies..
Aims A qualitative approach with a phenomenological design and Colaizzi’s analysis method was employed. The participants included 17 key informants representing leadership, technical officers, partner institutions, and community figures involved in the regional health crisis response..
Participants & Methods A qualitative approach with a phenomenological design and Colaizzi’s analysis method was employed. The participants included 16 key informants representing leadership, technical officers, partner institutions, and community figures involved in the regional health crisis response..
Findings. The findings indicate that cross-sectoral coordination was essential in managing the crisis but was often hindered by inconsistencies in information flow between central and regional levels. Multi-stakeholder collaboration—such as with referral hospitals, local media, and community networks—strengthened the response, although it was not yet supported by a structured and participatory communication system. A notable finding is the underutilization of community leaders as trusted risk communication agents grounded in local culture
Conclusion This study produced a model of crisis communication for health development that is integrative, adaptive, and replicable in other emergency contexts. Theoretically, it contributes to expanding the domain of development communication into health crisis situations. Practically, the study offers policy recommendations for building inclusive, transparent, and community-based public communication systems for future multidimensional crises.
Keywords: development communication, risk communication, collaboration, coordination, COVID-19 pandemic, health governance
Kata Kunci : komunikasi pembangunan, komunikasi risiko, kolaborasi, koordinasi, pandemi COVID-19, Dinas Kesehatan