Pengaruh Bentuk Breakwater dan Aliran Sungai Terhadap Reduksi Gelombang di Pelabuhan Perikanan Tanjung Adikarto
Anqori Shofia Alfariza Baroroh, Ir. Abdul Basith, S.T., M.Si., Ph.D.
2025 | Skripsi | TEKNIK GEODESI
Pelabuhan Perikanan Tanjung Adikarto merupakan pelabuhan yang terletak di area Pantai Glagah yang terhubung dengan Muara Sungai Serang. Pelabuhan ini mengalami permasalahan berupa terhentinya operasional akibat dari gelombang ekstrem yang belum tereduksi dengan baik. Penyebab dari permasalahan ini adalah bentuk dari breakwater pelabuhan tersebut yang memiliki bentuk mengarah kepada laut bebas. Gelombang ekstrem ini dapat membahayakan keselamatan pelayaran di area breakwater tersebut apabila tidak direduksi dengan baik. Selain dari permasalahan gelombang ekstrem, pelabuhan ini berhenti beroperasi karena adanya pendangkalan di area muara Sungai Serang. Aliran Sungai Serang ini dapat berpotensi membawa sedimentasi yang dapat menyebabkan pendangkalan. Oleh karena itu, diperlukan skenario bentuk breakwater yang dapat mereduksi gelombang ekstrem dengan mempertimbangkan aliran debit Sungai Serang.
Data yang digunakan adalah data batimetri dan topografi dari BATNAS dan DEMNAS, data pasang surut selama 29 piantan, data gelombang selama 10 tahun yang diprediksi selama 100 tahun, data angin selama 10 tahun, dan data debit air yang diambil dari penelitian terdahulu. Analisis dilakukan dengan pemodelan numerik musim barat dan musim timur untuk membandingkan nilai reduksi gelombang yang dihasilkan dari perubahan bentuk breakwater dan perubahan variasi nilai debit air. Pemodelan diawali dengan pemodelan numerik gelombang untuk kondisi breakwater awal. Model awal ini digunakan sebagai validasi dan kontrol kualitas parameter pemodelan numerik gelombang. Adapun data pembanding yang digunakan sebagai validasi adalah tinggi gelombang signifikan data satelit altimetri Sentinel-3A. Skenario breakwater dibuat menjadi empat skenario dengan spesifikasi: skenario I mengikuti bentuk yang ada pada penelitian sebelumnya sebagai acuan nilai reduksi gelombang, skenario II merupakan perpanjangan lengan timur yang mengarah ke barat sejajar dengan garis pantai; skenario III merupakan perpanjangan lengan barat mengarah ke timur sejajar dengan garis pantai; dan skenario IV merupakan perpanjangan lengan barat mengarah ke tenggara. Kemudian hasil perhitungan reduksi gelombang pada masing-masing skenario dianalisis untuk mendapatkan skenario breakwater terbaik hingga terburuk pada dua kondisi musim. Hasil dari penentuan skenario terbaik dan terburuk tersebut digunakan untuk mengidentifikasi pengaruh variasi debit air Sungai Serang terhadap gelombang tereduksi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa skenario II merupakan skenario yang paling baik untuk mereduksi gelombang. Besar reduksi yang dihasilkan jauh lebih besar dari kondisi breakwater kondisi awal, yaitu 61,23%. Didukung dengan nilai gelombang tereduksi pada kedua musim berada di bawah nilai rata-rata keseluruhan skenario, yaitu 1,73 m pada musim barat dan 1,12 m pada musim timur. Kemudian analisis juga menghasilkan skenario terburuk, yaitu skenario IV dengan nilai reduksi gelombang sebesar 20,89% pada musim barat dan 31,06% pada musim timur. Berdasarkan skenario terbaik dan terburuk, dihasilkan analisis pengaruh variasi debit Sungai Serang terhadap gelombang tereduksi. Hasil analisis menunjukkan bahwa aliran Sungai Serang memiliki pengaruh yang dapat berkontribusi mereduksi dan menarikkan tinggi gelombang pada kondisi musim barat. Pada musim timur, gelombang cenderung tidak mengalami perubahan yang drastis akibat variasi debit. Dihasilkan bahwa skenario IV memiliki penurunan tinggi gelombang yang drastis akibat adanya debit maksimum di musim barat. Sedangkan pada skenario II, tinggi gelombang cenderung naik, hal ini kemungkinan dikarenakan adanya turbulensi.
Tanjung Adikarto Fishery Port is situated in the Glagah Beach area, and it’s connected to the Serang River estuary, facing operational disruptions due to extreme waves. This problem is caused by the port’s breakwater design, which is exposed to the open sea. These extreme waves can endanger navigational safety in the breakwater area if not properly reduced. In addition to the extreme wave issues, the port’s operation is also halted by siltation at the mouth of the Serang River. The flow from the Serang River can potentially carry sediments, which may cause this siltation. Therefore, a breakwater design scenario is required that can reduce extreme waves while considering the discharge of the Serang River.
The data used in this study include bathymetry and topography data from BATNAS and DEMNAS, 29-day tidal cycles, 10-year wave data extrapolated to a 100-year, 10-year wind data, and river discharge data from previous research. The analysis is conducted using numerical modeling for the west and east monsoon seasons to compare the value of wave reduction resulting from changes in the breakwater’s shape and variations in water discharge values. Modeling begins with numerical wave modeling for the initial breakwater condition. This initial model is used as validation and quality control of the numerical wave modeling parameters. The comparative data used for validation is the significant wave height data from the Sentinel-3A altimetry satellite. The breakwater scenario is made into four scenarios with the following specifications: scenario I follows the shape in previous research as a reference for wave reduction values, scenario II is an extension of the east arm facing west parallel to the shoreline; scenario III is an extension of the west arm facing east parallel to the shore line; and scenario IV is an extension of the west arm facing southeast. Then the results of wave reduction calculations in each scenario are analyzed to get the best to worst breakwater scenarios in the two seasonal conditions. The results of determining the best and worst scenarios are used to identify the effect of variations in the Serang River discharge on the reduced waves.
The result of the research showed that scenario II is the best scenario for reducing waves. The amount of reduction produced is much greater than the initial breakwater condition, which is 61.23%. Supported by the value of reduced waves in both seasons being below the average value of all scenarios, namely 1.73 m in the west monsoon and 1.12 m in the east monsoon. The analysis also produces the worst scenario, namely scenario IV, with a wave reduction value of 20.89% in the west monsoon and 31.06% in the east monsoon. Based on the best and worst scenarios, an analysis of the effect of variations in the Serang River discharge on reduced waves was obtained. The results of the analysis showed that the flow of the Serang River has an influence that can contribute to reducing and pulling down wave heights in the west monsoon condition. In the east monsoon, the waves tend not to experience drastic changes due to variations in discharge. It was found that scenario IV had a drastic decrease in wave height due to maximum discharge during the west monsoon. In scenario II, wave height tended to rise, possibly due to turbulence.
Kata Kunci : gelombang ekstrem, breakwater, aliran sungai, reduksi gelombang, pemodelan numerik