Laporkan Masalah

Determinan Keberhasilan Program Pengendalian Campak Melalui Implementasi CBMS (Case Based Measles Surveillance) di Kabupaten Kebumen Tahun 2025

Tumiat, dr. Vicka Oktaria, MPH, Ph.D ; dr. Ahmad Watsiq Maula, MPH

2025 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar belakang: Pandemi COVID-19 menyebabkan kemunduran dalam upaya pengawasan dan imunisasi. Pada Tahun 2023 di Kabupaten Kebumen terjadi satu Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak. Terdapat 107 sampel suspek campak yang berhasil dilakukan pemeriksaan dengan hasil 39 sampel terkonfirmasi campak positif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk Mengevaluasi implementasi program surveilans campak serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi tenaga kesehatan dalam deteksi dini dan tatalaksana suspek campak di Kabupaten Kebumen Tahun 2024. Metode: Penelitian ini terdiri dari tiga sub-studi penelitian. Sub-studi evaluasi sistem surveilans campak dilakukan dengan metode deskriptif. Sub-studi evaluasi program jejaring dan kerjasama CBMS menggunakan metode deskriptif. Sedangkan sub-studi analitik terkait pengetahuan, sikap, dan perilaku tenaga kesehatan dalam deteksi dini dan tata laksana suspek campak menggunakan desain cross sectional. Kemudian dilakukan analisis univariat, analisis bivariat menggunakan Chi-Square dan regresi logistik sederhana, serta analisis multivariabel menggunakan regresi multivariat. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan observasi. Data sekunder didapatkan dari laporan SKDR Hasil: Total responden 369 orang dari 35 puskesmas, 11 rumah sakit dan 1 orang pemegang surveilans PD3I. Pada sub-studi evaluasi program jejaring dan kerjasama CBMS ditemukan kelemahan yaitu 12,77% pelaksana bukan petugas surveilans; 48,3?lum pernah mengikuti pelatihan surveilans campak; 19,15?lum mempunyai anggaran khusus terkait program jejaring dan kerjasama CBMS; 31,91?lum ada kegiatan advokasi jejaring dan kerjasama CBMS; 48,94% suspek campak tidak dilaporkan ke laporan SKDR. Pada sub-studi evaluasi sistem surveilans campak ditemukan kelemahan: 100 ?lum ada regulasi/ peraturan daerah yang mengatur tentang pencegahan dan pengendalian campak; 31,91?lum mempunyai dokumen yang mengatur jejaring dan kerja sama CBMS; 25,54% petugas surveilans mempunyai kendala dalam pengambilan sampel; 12,77% petugas surveilans mengalami kendala terkait proses pencatatan dan pelaporan suspek campak; 44,68% petugas surveilans tidak dapat mengkategorikan KLB suspek campak; 40,43% tidak terdapat kegiatan dalam rangka kewaspadaan kejadian KLB campak. Pada sub-studi analitik, ditemukan bahwa tingkat pengetahuan tenaga kesehatan dipengaruhi oleh profesi, status kepegawaian, dan pelatihan. Sementara itu, sikap tenaga kesehatan berhubungan dengan profesi, status kepegawaian, keberadaan pedoman, dan keikutsertaan dalam pertemuan surveilans campak. Perawat memiliki perilaku lebih baik dalam deteksi dini dan tata laksana suspek campak (aOR=1,8; 95% CI: 1,06–3,06), responden yang bekerja di RSUD memiliki perilaku yang lebih baik dibanding puskesmas (aOR=6,95; 95% CI: 1,53–23,63), responden yang pernah mengikuti pertemuan surveilans mempunyai perilaku yang lebih baik (aOR=2,6; 95% CI: 1,57–4,32), dan responden yang pernah mendapatkan supervisi mempunyai perilaku yang lebih baik (aOR=3,6; 95% CI: 1,68–7,91).


Background: The COVID-19 pandemic has caused setbacks in surveillance and immunization efforts. In 2023, Kebumen Regency experienced an outbreak of measles, with 107 suspected measles cases examined, resulting in 39 confirmed positive cases. Objective: This study aims to evaluate the implementation of the measles surveillance program and identify factors influencing healthcare workers in the early detection and management of suspected measles cases in Kebumen District in 2024. Methods: This study consists of three sub-studies. The sub-study evaluating the measles surveillance system was conducted using a descriptive method. The sub-study evaluating the CBMS network and cooperation program used a descriptive method. Meanwhile, the analytical sub-study related to the knowledge, attitudes, and behaviors of health workers in the early detection and management of suspected measles cases used a cross-sectional design. Univariate analysis, bivariate analysis using Chi-Square and simple logistic regression, and multmultivariat regression were then performed. Data were collected using questionnaires and observations. Secondary data were obtained from SKDR reports. Results: A total of 47 PD3I surveillance officers responded, consisting of 35 community health centers, 11 hospitals, and 1 PD3I surveillance officer. In the sub-study evaluating the CBMS network and cooperation program, weaknesses were found: 12.77% of implementers were not surveillance officers; 48.3% had never attended measles surveillance training; 19.15% did not have a specific budget for the CBMS network and cooperation program; 31.91% had no advocacy activities for the CBMS network and cooperation program; 48.94% of measles suspects were not reported to the SKDR report. In the sub-study evaluating the measles surveillance system, weaknesses were identified: 100% had no local regulations/rules governing measles prevention and control; 31.91% did not have documents regulating CBMS networking and cooperation; 25.54% of surveillance officers faced challenges in sampleaOR=1.8; 95% CI: 1.06–3.06), public hospital employees behaved better than community health center employees (aOR=6.95; 95% CI: 1.53–23.63), those who attended surveillance meetings behaved better (aOR=2.6; 95% CI: 1.57–4.32), and those who received supervision behaved better (aOR=3.6; 95% CI: 1.68–7.91).

Kata Kunci : Pengetahuan, Sikap, Perilaku, Campak, Tenaga kesehatan

  1. S2-2025-527604-abstract.pdf  
  2. S2-2025-527604-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-527604-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-527604-title.pdf