Laporkan Masalah

Penataan ruang jalan Sriwedani Yogyakarta :: Ditinjau dari kegiatan manusia terhadap pemanfaatan ruang

AYUWREDI, Aulia Lokita Wida, Ir. Laretna Trisnantari, M.Arch.,Ph.D

2004 | Tesis | S2 Teknik Arsitektur

Ruang terbuka publik bukan saja berupa ruang luar yang bersifat perancangan lansekap atau daerah hijau dalam kota tetapi lebih condong pada keterlibatan manusia di dalamnya (Eko Budiharjo, 1999). Pada kawasan komersial, fungsi ruang jalan sebagai ruang publik telah berkembang tidak hanya sebagai ruang pergerakan tetapi juga sebagai wadah untuk pertukaran aneka kegiatan, barang, jasa juga informasi bagi penggunanya (Ikaputra, 2001). Jalan Sriwedani merupakan salah satu akses pergerakan yang di dalamnya terjadi pemanfaatan ruang yang merupakan implikasi dari kawasan makro sekitarnya. Jalan Sriwedani merupakan kawasan perdagangan informal yang merupakan akibat dari magnet Pasar Beringharjo sebagai kompleks perdagangan, kawasan komersial di sekitar Loji Kecil, kawasan budaya Benteng Vredeburg, Senisono, dan taman budaya Societet Militer, kawasan perkantoran dan jasa di Jalan Senopati. Selain pemanfaatan ruang di Jalan Sriwedani sebagai kegiatan informal PKL dan pasar, fungsi pergerakan dan sirkulasi sebagai fisik sesungguhnya dari ruang terbuka yang bersifat street (yang pada dasarnya juga merupakan ruang terbuka yang mempunyai syarat dapat diakses publik) masih dilakukan meskipun bukan menjadi prioritas yang dominan lagi. Selain itu, kawasan Jalan Sriwedani dengan fungsi komersial informal terkait dengan konsep pemerintah pada kawasan tersebut sebagai kawasan budaya. Hal yang menjadi isu pada konteks ini adalah 1) aktivitas manusia menentukan pola kegiatan dalam memanfaatkan ruang, 2) implikasi pemanfaatan ruang sebagai akibat kegiatan kawasan sekitarnya, 3) penumpukan kepentingan pemanfaatan ruang dan 4) belum jelasnya segi ideal penggunaan ruang dilihat dari kawasan tersebut dilihat dari berbagai guna lahan. Cara penelitian dilakukan dengan melihat perbedaan karakter kegiatan melalui morfologi kawasan yang dibagi menjadi 5 penggal berdasar persimpangan dan berdasarkan waktu dilihat dari pelaku dan intensitas kegiatan. Penelitian dilakukan secara rasionalistik kualitatif yaitu menemukan permasalahan di lapangan, menyusun rangka penelitiannya, mengolah data secara kuantitatif untuk menentukan hasil yang kualitatif. Penelitian dilakukan dengan melihat langsung fenomena yang ada dan membandingkan dengan keadaan formal sesungguhnya. Dari penelitian tersebut diperoleh faktor yang mempengaruhi pemanfaatan ruang yaitu 1) setback bangunan 2) fungsi bangunan 3) fungsi dan jenis vegetasi 4) letak dan posisi street furniture 5) lebar pedestrian 6) aktivitas PKL yang paling dominan sebagai faktor pengaruh pemanfaatan ruang karena jumlah, dimensi yang digunakan, komoditas yang diperdagangkan, modul dan media yang dipakai serta orientasi PKL yang menentukan spatial ruang terpakai dan tipologi ruangnya. Hasil penelitian berupa arahan penataan ruang Jalan Sriwedani sebagai fungsi komersial, sirkulasi dan budaya yang dilakukan secara bergantian sesuai dengan pembagian waktu berdasarkan karakter kegiatan terhadap pemanfaatan ruang. Arahan penataan ruang Jalan Sriwedani juga dilakukan terhadap setting fisik dengan indikator bangunan, street furniture, pedestrian dan vegetasi, dan setting aktivitas dengan indikator PKL, parkir, sirkulasi dan pejalan kaki

Public open space is not merely an outdoor space such as landscape planning or greenbelt in a city, but a space involving human activities (Eko Budiharjo, 1999). In a commercial area, road space that serves as a public space has develop into not only as an area of movement but also an arena for exchange of different activities, goods, services and information among its users (Ikaputra, 2001). Sriwedani Street is one of the accesses of movement in which space utilization happens as an implication from macro area in its surrounding. This street becomes an informal shopping area, which result from the magnetic force of Beringharjo market as a shopping center, a commercial area around Loji Kecil, a cultural area of Vredeburg Fort, Senisono, Societet Militer cultural center, and office and service complex on Senopati Street. The principal space use of Sriwedani Street, besides the use of space for informal activities of vendors and market, that is, as a public space in the form of the street (which is an open space requiring public access) continues although it is no longer dominant. In addition, the area of Sriwedani Street with its informal commercial function is related with government’s concept designating this area as a cultural zone. The issues within this context are : 1) human activities determine the pattern of activities in utilizing a space, 2) implication of space utilization as a consequence from an activity in the surrounding areas, 3) accumulation of interests to use the area, and 4) lack of clarity about the ideal spatial use in this area viewed from various land uses. The research method was to see the difference of character of activities through the morphology of area that is divided into 5 sections based on intersection and time seen from the actor’s point of view and intensity of activity. The research was conducted rationalistically and qualitatively, i.e., identifying problems in the field, formulating research framework, processing data quantitatively to obtain qualitative result. It conducted direct observation on phenomena in the field and comparing them with the real formal situation. The research results identify the factors that affect space utilization, namely: 1) building setback, 2) building fuction, 3) vegetation type and function, 4) location and position of street furniture, 5) sidewalk width, 6) vendor’s activities as the most dominant factors that affect land use because of its number, dimension used, commodity being sold, module and medium used, and orientation that determine the spatial of used space and spatial typology. The research results are in fact recommendation for space arrangement in Sriwedani Street that its commercial, circulation and cultural functions be carried out alternately according to the time division based on the characteristic of activity toward space utilization. The recommendation is also proposed for physical setting using indicators of building, street furniture, pedestrian lane and vegetation, and for activity setting using the indicators of vendor, parking, circulation and pedestrian.

Kata Kunci : Arsitektur,Penataan Ruang,Pemanfaatan Ruang


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.