Pemanfaatan Citra Sentinel-1 dan Sentinel-2 untuk Estimasi Kerugian Akibat Banjir Berdasarkan Economic Exposure (Studi Kasus: Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak)
Bramudya Rizqi Alvianto, Dr. Ir. Catur Aries Rokhmana, S.T., M.T.
2025 | Skripsi | TEKNIK GEODESI
Banjir merupakan
bencana yang berdampak pada kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan. Kabupaten
Lebak di Provinsi Banten merupakan wilayah yang rentan terhadap banjir, dengan
frekuensi kejadian yang terus meningkat setiap tahun. Kondisi ini ditunjukan pada awal Desember 2024, yang menggenangi beberapa kecamatan,
salah satunya adalah Kecamatan Banjarsari yang terdampak paling parah dengan
total 11 desa tergenang. Banjir di wilayah ini tidak hanya menimbulkan kerugian
fisik, tetapi juga berdampak signifikan terhadap perekonomian masyarakat. Hingga
saat ini, informasi terkait mitigasi bencana banjir di Kabupaten Lebak,
khususnya di Kecamatan Banjarsari, masih terbatas, baik dalam bentuk peta
sebaran banjir maupun estimasi kerugian yang diperlukan sebagai dasar
antisipasi dan pengurangan risiko di masa mendatang. Seiring dengan
perkembangan teknologi, penginderaan jauh menjadi salah satu metode yang
efektif dalam upaya mitigasi bencana, baik menggunakan sensor aktif seperti
radar maupun sensor optis. Kombinasi kedua citra tersebut dapat dimanfaatkan memetakan
sebaran banjir dan mengestimasi kerugian banjir secara lebih komprehensif.
Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi kerugian
akibat banjir berdasarkan economic exposure dari sebaran genangan dan
tutupan lahan di Kecamatan Banjarsari.
Penelitian ini menggunakan citra Sentinel-1 GRD untuk mendeteksi sebaran banjir, citra Sentinel-2A untuk klasifikasi tutupan lahan, serta data lokasi banjir dari BNPB dan BPBD Lebak. Metode yang digunakan meliputi change detection dan thresholding pada citra Sentinel-1 untuk memetakan sebaran genangan banjir, yang kemudian divalidasi menggunakan data dari BNPB dan BPBD. Klasifikasi tutupan lahan dilakukan dengan algoritma random forest dan dievaluasi melalui uji akurasi menggunakan 200 titik sampel yang diambil secara acak (random sampling). Analisis overlay antara peta genangan dan peta tutupan lahan digunakan untuk menghitung estimasi kerugian ekonomi berdasarkan nilai economic exposure dari masing-masing jenis tutupan lahan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas genangan banjir di Kecamatan Banjarsari mencapai 582,009 hektare yang tersebar merata di seluruh wilayah kecamatan. Hasil sebaran genangan yang dibandingkan dengan data banjir dari BNPB dan BPBD menunjukkan tingkat kecocokan sebesar 70%, sedangkan 30% sisanya merupakan overestimasi yang disebabkan oleh keterbatasan resolusi citra. Klasifikasi tutupan lahan menunjukkan bahwa kelas hutan merupakan tutupan lahan terluas dibandingkan kelas lainnya, dengan nilai overall accuracy sebesar 94,4%. Banjir dengan dampak terbesar terjadi pada kelas sawah seluas 338,295 Ha, hutan seluas 223,265 Ha, dan pemukiman seluas 2,72 Ha. Estimasi total kerugian ekonomi akibat banjir sebesar Rp52.993.380.000,00. Kerugian ekonomi terbesar berasal dari kelas hutan dengan nilai sebesar Rp34.829.340.000,00, diikuti oleh pemukiman sebesar Rp10.044.960.000,00, dan sawah sebesar Rp8.119.080.000,00. Meskipun sawah merupakan tutupan lahan dengan luas genangan terbesar, nilai kerugian ekonominya paling rendah karena memiliki economic exposure yang kecil. Nilai ini umumnya hanya merepresentasikan potensi kehilangan hasil panen musiman, berbeda dengan hutan yang mencerminkan dampak ekologis jangka panjang, serta permukiman yang mengandung nilai aset ekonomi tinggi.
Floods are
disasters that affect social, economic, and environmental conditions. Lebak
Regency in Banten Province is a flood-prone area with a frequency of flood
events that continues to increase each year. This condition was evident in
early December 2024, when several sub-districts were inundated. Banjarsari
Sub-district was the most severely affected area, with a total of 11 villages
submerged. The flood in this region caused not only physical damage but also
significant economic disruption for the local community. However, information
related to flood disaster mitigation in Lebak Regency, particularly in
Banjarsari Sub-district, remains inadequate, both in terms of flood
distribution maps and economic loss estimations, which are essential for future
risk reduction and preparedness planning. Along with technological
advancements, remote sensing has become an effective tool for disaster
mitigation, utilizing both active sensors (such as radar) and optical sensors.
The combination of these data sources can be used to map flood distribution and
estimate flood-related losses more comprehensively.
This study aims to estimate economic losses caused by floods based on the
economic exposure of flood extent and land cover in the Banjarsari
Sub-district. Sentinel-1 GRD imagery was used to detect flood extent,
Sentinel-2A imagery for land cover classification, and flood location data were
obtained from BNPB and BPBD Lebak. The flood extent was mapped using change
detection and thresholding techniques applied to Sentinel-1 imagery, and the
results were validated with BNPB and BPBD data. Land cover classification was
performed using the random forest algorithm and evaluated using an accuracy
assessment based on 200 randomly sampled points. An overlay analysis between
the flood extent map and the land cover map was conducted to estimate economic
losses based on the economic exposure values of each land cover type.
The results show that the flood in Banjarsari Sub-district covered an area of
582.009 hectares, distributed across the entire region. Comparison with BNPB
and BPBD data showed a 70% match, while the remaining 30% was an overestimation
due to limitations in image resolution. The land cover classification
identified forest as the most dominant land cover type, achieving an overall
accuracy of 94.4%. The flood had the greatest impact on rice fields 338.295 ha,
forests 223.265 ha, and settlements 2.72 ha. The total estimated economic loss
reached Rp52,993,380,000.00, with the highest loss from forest areas
Rp34,829,340,000.00, followed by settlements Rp10,044,960,000.00, and rice
fields Rp8,119,080,000.00. Although rice fields had the largest flooded area,
their economic loss was the lowest due to relatively low economic exposure,
representing seasonal crop loss. In contrast, forests represent long-term
ecological impacts, while settlements carry high asset values.
Kata Kunci : Banjir, Penginderaan Jauh, Tutupan Lahan, Economic Exposure, Estimasi Kerugian Ekonomi