Ketahanan Pesisir di Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap
Dylan Safarian Intoro, Prof. Dr. Djati Mardiatno, S.Si., M.Si.
2025 | Skripsi | GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN
Wilayah pesisir Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana pesisir seperti tsunami dan abrasi akibat lokasinya yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia dan berada pada zona subduksi aktif. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat ketahanan wilayah pesisir di empat desa pesisir, yaitu Bunton, Karangbenda, Glempangpasir, dan Welahan Wetan, melalui pendekatan integratif yang mencakup dimensi kerentanan, kondisi eksisting, dan kapasitas adaptif. Enam variabel dianalisis: luas bangunan pesisir, potensi bencana, kerapatan vegetasi, biodiversitas flora, fasilitas mitigasi, dan ketangguhan desa.
Metode penelitian
melibatkan pengolahan citra Sentinel-2A, survei biodiversitas vegetasi, data
sekunder dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Pusat
Statistik (BPS), serta pembobotan menggunakan literature-based weighting
dan skoring SAW. Hasil penelitian menunjukkan variasi ketahanan pesisir
antar desa, dengan Karangbenda memiliki ketahanan tertinggi dan Bunton terendah
. Temuan ini mengindikasikan pentingnya intervensi spesifik berbasis
karakteristik lokal. Strategi peningkatan ketahanan disusun melalui peta
rekomendasi penanaman mangrove dengan pendekatan weighted overlay yang
mempertimbangkan kerapatan vegetasi, jarak ke badan air, akses jalan, dan
elevasi. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar kebijakan mitigasi dan
adaptasi bencana pesisir berkelanjutan di Kabupaten Cilacap.
The coastal area of Adipala Subdistrict, Cilacap Regency, is highly vulnerable to coastal hazards such as tsunamis and abrasion due to its proximity to the Indian Ocean and its position within an active subduction zone. This study aims to assess the coastal area resilience of four coastal villages Bunton, Karangbenda, Glempangpasir, and Welahan Wetan using an integrative approach encompassing vulnerability, current condition, and adaptive capacity. Six variables were analyzed: coastal building area, disaster potential, vegetation density, floral biodiversity, availability of disaster mitigation facilities, and village disaster preparedness (Destana).
The methodology includes processing Sentinel-2A imagery, conducting biodiversity surveys, analyzing secondary data from Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) and Badan Pusat Statistik (BPS), and applying literature-based weighting for weighting and Simple Additive Weighting (SAW) for scoring. The results reveal significant variation in coastal resilience, with Karangbenda classified as highly resilient and Bunton as low. These findings highlight the need for tailored interventions based on local characteristics. A mangrove planting recommendation map was developed using a weighted overlay approach, incorporating vegetation density, proximity to water bodies, road accessibility, and elevation. This research is expected to inform sustainable coastal disaster mitigation and adaptation policies in Cilacap Regency.
Kata Kunci : Abrasi, Kecamatan Adipala, Ketahanan pesisir, mangrove, mitigasi bencana, tsunami