Laporkan Masalah

Analisis kinerja dan perkembangan Bank Pembangunan Irian Jaya dengan menggunakan analisa CAMEL

RETNANINGSIH, Dyah Astuti, Dr. Indra Wijaya Kusuma, MBA

2004 | Tesis | S2 Akuntansi

Perkembangan industri perbankan Indonesia yang sangat pesat mengakibatkan persaingan antar bank semakin ketat. Menurut Sutojo persaingan tersebut membawa dampak positif bagi perbankan maupun bagi nasabahnya. Persaingan yang cukup ketat antara bank-bank yang ada di Indonesia cukup menarik untuk menilai perkembangan kinerja bank. Undang-undang RI No. 10 tahun 1998 tentang Perbankan Pasal 29 ayat 2 menyebutkan bahwa setiap bank wajib memelihara tingkat kesehatan bank sesuai dengan ketentuan tentang kecukupan modal, kualitas aset, kualitas manajemen, likuiditas, solvabilitas, dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank, dan wajib melakukan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian. Agar dapat dijadikan ukuran dalam mengungkapkan kinerja serta kondisi keuangan bank, maka penilaian kinerja bank harus mengikuti ketentuan-ketentuan bank yang berlaku. Ketentuan tersebut adalah Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 30/11/KEP/DIR tanggal 30 April 1997 tentang Tata cara Penilaian Kesehatan Bank yang dikenal dengan metoda CAMEL. Analisa CAMEL akan menyediakan berbagai alat ukur yang sangat dibutuhkan oleh manajemen. Kinerja suatu perusahaan/bank adalah suatu gambaran mengenai seberapa jauh hasil ekonomi yang mampu diraih oleh suatu perusahaan/bank. Berdasarkan analisa CAMEL dapat diketahui bahwa kinerja BPD Irian Jaya selama periode 1998-2003 dinilai baik atau sehat. Hal ini ditunjukkan dengan diperolehnya peringkat sehat selama 6 tahun tersebut dan memiliki nilai di atas 81 dan selalu berada pada peringkat 20 besar pada rating tingkat kesehatan bank di Indonesia. Berdasarkan Analisa Rasio Keuangan di luar CAMEL disimpulkan bahwa kinerja BPD Irian Jaya selama periode 1998-2003 dinilai belum begitu baik. Hal ini dapat dilihat dari sisi likuiditas dimana BPD belum mampu dalam membayar kembali simpanan para deposannya dengan menggunakan kas yang ada yang ditunjukkan oleh nilai Quick Rationya yang dibawah rule of thumb yaitu 100% (Munawir,2002), sisi profitabilitas dimana BPD belum mampu menghasilkan laba dari kegiatan usaha murrni yang ditunjukkan oleh nilai Gross Profit Margin tahun 1998-2000 yang berada dibawah nilai Trendnya yaitu 20% (hasil perhitungan), dan sisi rentabilitas dimana manajemen BPD belum dapat mengelola dengan baik asset yang dipercayakan kepadanya yang ditunjukkan oleh nilai Asset Utilization tahun 2000-2003 yang berada dibawah nilai Trendnya yang sebesar 17% (hasil perhitungan). Adanya faktor-faktor penghambat perkembangan BPD Irian Jaya yaitu: kemampuan menghimpun dana non Pemda belum maksimal sebab produk-produk yang ditawarkan masih kalah bersaing dengan bank lain, dalam pelaksanaan jasa bank seperti transfer keluar Irian Jaya masih kalah bersaing dengan bank lain karena belum tersedianya fasilitas online antar BPD seluruh Indonesia, tingkat pertumbuhan kapasitas usaha yang lebih rendah dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan perbankan regional, dan infrastruktur Irian Jaya yang belum memadai untuk melakukan kontrol terhadap operasional kantor yang berada di daerah terpencil

The developing of Indonesia banking that very faster make the competition between the bank more tight. According to Sutojo, the competition bring positive impact for banking and the customer. The tight competition between the bank in Indonesia is more interesting to evaluate the bank working and development. Undang-undang RI No. 10 Tahun 1998 about Banking, section 29 verse 2 say that every bank must take care of the bank healthy storey agree with the rule of capital adequacy, asset quality, management quality, liquidity, solvability, and other aspect that have correlation with bank exertion, and obligatory to do the exertion appropriate with carefully principle. In order to be a measurement in disclosure of a working with bank financial condition, so valuation of bank working must following the bank rules. The rule is Surat Keputusan Direksi Bnk Indonesia No. 30/II/KEP/DIR date April 30, 1997 about mien arrangement of Bank Healthy Valuation which is known as CAMEL method. CAMEL analysis will willing a kind of measure instrument that very needed by management. The bank working is a certain description about how far the economic result can be get hold by the bank. According to CAMEL analysis, the conclusion is that the working of BPD Irian Jaya during 1998-2003 is health and good. This is show by the health rating during 6 year, have value upon 81, and always on 20 big rating at bank health storey rating in Indonesia. According to another financial ratio analysis outside of CAMEL conclude that the working of BPD Irian Jaya during 1998-2003 is not health. This is show by the liquidity side that BPD cannot payback the deposit of the customer with they cash, which is show by the Quick ratio value that lower than the rule of thumb 100%, from profitability side BPD cannot proceed profit from the pure effort that showing by Gross Profit margin value at 1998-2000 that lower than the Trend value that is 20%, and management of BPD cannot carry out the asset that show by Asset utilization value that lower than the Trend value that is 17%. There is a few factor that impede the developing of BPD Irian Jaya, which is: capability of assemble fund from non Pemda not yet maximal cause the product that offer is still defeated to compete with other bank, in transfer money out of Irian Jaya BPD still defeated to compete with other bank cause unavailable online facility between BPD in all over Indonesia, the growth storey of exertion capacity that lower than the regional banking growth, and un sufficient infrastructure of Irian Jaya for control the office operational in isolated district

Kata Kunci : Kinerja Bank,Perkembangan,Analisis CAMEL


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.