Analisis Persepsi dan Kerentanan Rumah Tangga Perempuan Petambak Akibat Banjir Rob di Desa Kalanganyar Kecamatan Sedati Kabupaten Sidoarjo
Dinda Laksmi Paramitha, Prof. Suadi, S.Pi., M.Agr.Sc., Ph.D ; Dr. Ir. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si.
2025 | Tesis | S2 ILMU PERIKANAN
Penelitian ini bertujuan untuk (1) menganalisis persepsi dan pengetahuan perempuan petambak mengenai penyebab, ancaman, dan dampak banjir rob; (2) menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kerentanan perempuan menggunakan kerangka kerja Sustainable Livelihoods Analysis (SLA); dan (3) mengukur tingkat kerentanan perempuan menggunakan Livelihood Vulnerability Index (LVI). Penelitian menggunakan pendekatan mixed-methods, menggabungkan data kualitatif dari wawancara mendalam semi-terstruktur dan observasi dengan data kuantitatif melalui survei. Penelitian melibatkan 21 responden rumah tangga perempuan petambak yang terdampak banjir rob di Desa Kalanganyar, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, dipilih melalui teknik snowball sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan perempuan tentang keterkaitan antara aktivitas manusia, degradasi ekosistem pesisir, dan risiko bencana masih terbatas, sehingga upaya adaptasi yang dilakukan bersifat reaktif dan jangka pendek menjadikan banjir rob sebagai masalah yang mendesak di Desa Kalanganyar. Analisis SLA mengungkap ketahanan perempuan relatif lebih baik pada modal fisik (0,75), didukung ketersediaan infrastruktur dasar. Namun, hambatan struktural dalam modal manusia (0,61), kerusakan lahan yang membatasi modal alam (0,55), keterbatasan akses terhadap layanan keuangan formal yang aman dalam modal finansial (0,49), serta minimnya dukungan kelembagaan formal yang melemahkan modal sosial (0,46) telah memperkuat kerentanan perempuan pasca banjir rob. Skor LVI (0,44) dan LVI-IPCC (0,14) menunjukkan perempuan berada pada kondisi kerentanan yang tinggi akibat dampak banjir rob. Paparan terhadap variabilitas iklim (0,71), ditandai dengan meningkatnya intensitas dan frekuensi banjir rob menjadi kontributor utama kerentanan perempuan. Kondisi ini diperparah dengan tingginya sensitivitas (0,44) terhadap kondisi lingkungan dan sosial-ekonomi serta rendahnya kapasitas adaptif mereka (0,38). Temuan ini menunjukkan perlunya perancangan strategi adaptasi yang responsif gender dengan meningkatkan keterlibatan perempuan dalam forum pengambilan keputusan terkait pengelolaan sumber daya dan mitigasi bencana.
This study aims to (1) analyze women fish farmers’ perceptions and knowledge regarding the causes, threats, and impacts of tidal flooding in Kalanganyar Village; (2) analyze women’s vulnerability factors using the Sustainable Livelihoods Analysis (SLA) framework; and (3) measure vulnerability levels with the Livelihood Vulnerability Index (LVI). Using a mixed-methods approach, the research surveyed 21 women from affected households, incorporating in-depth interviews, observations, and surveys. Key findings reveal that limited understanding of the interconnection between human activities, ecosystem degradation, and disaster risk leads women to adopt mostly short-term and reactive responses to tidal flooding, highlighting the urgency of addressing tidal flood impacts. The SLA indicated that women are relatively resilient in terms of physical capital (0,75), primarily due to the availability of basic infrastructure. In contrast, structural barriers in human capital (0,61), land degradation that restricts natural capital (0,55), limited access to formal financial services within financial capital (0,49), and inadequate formal institutional support that undermines social capital (0,46) have collectively increased women's vulnerability. The LVI (0,44) and LVI-IPCC (0,14) indicate high vulnerability, primarily driven by high exposure to climate variability (0,71) characterized by an increasing frequency and intensity of tidal floods. High sensitivity (0,44) to post-disaster socio-economic and environmental pressures, combined with low adaptive capacity (0,38), further exacerbate women’s vulnerability. These findings support the need for gender-responsive adaptation strategies that strengthen women’s participation in decision-making forums related to resource management and disaster mitigation.
Kata Kunci : Perempuan, kerentanan, modal penghidupan, banjir rob, Kabupaten Sidoarjo / Women, vulnerability, livelihoods sustainability, tidal flooding, Sidoarjo Regency