Representasi Hewan dalam al-Amsal al-‘Amiyah Mesir: Analisis Ekolinguistik
Rosiana Arieffah, Dr. Mahmudah, M.Hum.
2025 | Tesis | S2 Sastra/Kajian Timur Tengah
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis hewan yang digunakan dalam peribahasa Mesir dan menganalisis peran serta representasinya dalam masyarakat pada buku al-Amsal al-‘Amiyah karya Ahmad Taymur Pasha (2014). Teori yang digunakan dalam peneliatan yaitu teori Ekolinguistik menurut Stibbe (2015). Dengan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan dari buku kemudian dianalisis menggunakan metode simak catat dan hasil data disajikan secara deskriptif melalui metode informal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peribahasa Mesir dari buku al-Amsal al-‘Amiyah mencakup hewan seperti unta (11 peribahasa), anjing (10 peribahasa), keledai (7 peribahasa), kucing (3 peribahasa), kambing/domba (1 peribahasa), ular (2 peribahasa), ikan (2 peribahasa), kuda (1 peribahasa), burung gagak (1 peribahasa), burung hantu (1 peribahasa), lebah (1 peribahasa), dan semut (1 peribahasa). Pemilihan hewan di dalam peribahasa ini tidak lepas dari konteks sejarah, geografi, dan kehidupan sehari-hari masyarakat Mesir yang bergantung pada pertanian dan peternakan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa representasi hewan dalam peribahasa Mesir bersifat antroposentris dan memperkuat dominasi manusia atas hewan. Evaluasi ekologis menunjukkan bahwa hewan dinilai semata-mata dari manfaatnya bagi manusia. Reinterpretasi kultural diperlukan untuk membaca ulang simbol hewan secara lebih adil dan ekologis. Dampak ideologis dari representasi ini adalah penguatan ideologi budaya yang menormalisasi superioritas manusia dan mengabaikan nilai intrinsik hewan. Pendekatan ekolinguistik membantu mengarahkan narasi budaya ke arah yang lebih setara dan berkelanjutan.
This study aims to describe the types of animals used in Egyptian proverbs and analyze their roles and representations in society as found in al-Amsal al-‘Amiyah by Ahmad Taymur Pasha (2014). The theoretical framework employed is Ecolinguistics, as proposed by Stibbe (2015). Using a qualitative approach, the data were collected from the book, analyzed through note-taking and observation methods, and presented descriptively using an informal method.
The findings reveal that the Egyptian proverbs in al-Amsal al-‘Amiyah include references to animals such as camels (11 proverbs), dogs (10), donkeys (7), cats (3), goats/sheep (2), snakes (2), fish (2), horses (1), crows (1), owls (1), bees (1), and ants (1). The choice of animals in these proverbs is closely tied to the historical, geographical, and everyday life contexts of Egyptian society, which relies heavily on agriculture and animal husbandry. The study concludes that animal representations in Egyptian proverbs are anthropocentric and reinforce human dominance over animals. Ecological evaluation reveals that animals are valued solely for their utility to humans. Cultural reinterpretation is necessary to reframe animal symbols in a more just and ecological light. The ideological impact of these representations lies in reinforcing cultural ideologies that normalize human superiority and marginalize the intrinsic value of animals. Ecolinguistic perspectives help redirect cultural narratives toward greater equity and sustainability. Ecolinguistic perspectives help redirect cultural narratives toward greater sustainability.
Kata Kunci : ekolinguistik, peribahasa Mesir, representasi hewan