Pemodelan Spasial Lahan Kritis DAS Juwana Jawa Tengah
Petra Ihsan Wicaksana, Dr. Ir. Emma Soraya, S.Hut., M.For., IPU.
2025 | Skripsi | KEHUTANAN
Lahan kritis merupakan lahan yang kehilangan fungsinya dalam mengatur tata air dan mendukung produktivitas, sehingga mengganggu ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS). Secara global dan di Indonesia, lahan kritis tersebar sangat luas serta memerlukan penanganan. Penyebab lahan kritis yaitu topologi curam, erosi tanah, dan minimnya tutupan vegetasi. Salah satu wilayah terdampak lahan kritis adalah DAS Juwana yang memiliki luas 130.328 ha. Penelitian sebelumnya hanya mencakup wilayah Hulu Muria dan sudah lama dilakukan, diperlukan pemetaan lahan kritis terkini untuk menentukan prioritas penanganan. Penelitian ini bertujuan membuat model spasial untuk memetakan lahan kritis terkini di DAS Juwana.
Metode penelitian menggunakan pendekatan pemodelan spasial skoring. Data yang digunakan meliputi peta tutupan lahan dan kelerengan, jenis tanah, curah hujan, serta DEM SRTM. Tingkat Bahaya Erosi (TBE) dikelaskan dari hasil perhitungan erosi model RUSLE. Faktor LS didapat dari data DEM, faktor R dengan interpolasi IDW, faktor K dan CP dengan skoring. Tutupan lahan, kelerengan dan TBE diolah berdasarkan Perdirjen PDASHL No. P.3/2018 untuk menghasilkan peta lahan kritis DAS Juwana.
Hasil penelitian menunjukkan lahan sangat kritis dan kritis di DAS Juwana seluas 30.826,72 ha (23,66%), yang sebagian besar tersebar di tutupan lahan pertanian lahan kering campur dengan kelerengan curam dan tingkat bahaya erosi sedang hingga berat. Lahan agak kritis (6,99%), potensial kritis (12,22%), dan tidak kritis (57,14%). Lahan sangat kritis dan kritis menjadi prioritas utama pemulihan fungsi lahan, lahan agak kritis dan potensial kritis menjadi prioritas kedua pencegahan penurunan fungsi lahan, lahan tidak kritis menjadi prioritas ketiga yang dipertahankan fungsi lahannya.
Kata Kunci : Lahan Kritis, DAS Juwana, SIG, Skoring, RUSLE