AN ANALYSIS OF DIRECT MEDICAL COSTS FOR HEART FAILURE TREATMENT AT RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA
Kana Mukti Nugroho, Prof. Dr. apt. Tri Murti Andayani, Sp.FRS
2025 | Tesis | Magister Manajemen Farmasi
Gagal jantung memberikan beban ekonomi yang besar bagi
sistem layanan kesehatan. Dalam sistem pembayaran berbasis INA-CBG di
Indonesia, ketidaksesuaian antara biaya riil rumah sakit dan tarif standar
masih menjadi tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya
medis langsung pengobatan gagal jantung di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, dengan
fokus pada komponen biaya, faktor yang memengaruhi, pengeluaran per episode dan
tahunan, serta kesesuaiannya dengan tarif INA-CBG.
Penelitian ini menggunakan desain observasional
analitik-deskriptif dari perspektif rumah sakit, dengan data retrospektif dari
81 pasien gagal jantung (165 kasus rawat inap dan 1.399 kunjungan rawat jalan)
yang dirawat selama Januari–Desember 2024. Komponen biaya mencakup obat,
prosedur, diagnostik, dan layanan pendukung.
Rata-rata biaya rawat inap per episode sebesar Rp39,1 juta ± Rp51,5 juta, dengan kontributor utama dari alat medis (33,95%) dan tindakan invasif (14,36%). Biaya rawat jalan per kunjungan rata-rata Rp605.843 ± Rp757.646, didominasi obat-obatan (35,50%) dan layanan pendukung (26,06%). Biaya tahunan rawat jalan per pasien mencapai Rp7,27 juta. Biaya meningkat signifikan pada pasien dengan tingkat keparahan (NYHA), komorbiditas (CCI >3), dan komplikasi (p<0>
Temuan ini menyoroti adanya under-reimbursement
sistemik dalam pembiayaan gagal jantung dan perlunya penyesuaian tarif agar
lebih mencerminkan biaya nyata layanan rumah sakit.
Heart failure imposes a significant economic burden on
healthcare systems. Under Indonesia’s case-based payment system using INA-CBG
tariffs, discrepancies between actual hospital expenses and standardized rates
persist. This study aims to analyze the direct medical costs of heart failure
treatment at RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, focusing on cost components,
influencing factors, annual and per-episode expenses, and their alignment with
INA-CBG tariffs.
This descriptive-analytic observational study,
conducted from the hospital’s perspective, retrospectively analyzed data from
81 heart failure patients (165 inpatient and 1,399 outpatient cases) treated
from January to December 2024. Cost components included medications,
procedures, diagnostics, and services.
The average inpatient cost per episode was IDR 39.1 million ± 51.5 million, primarily driven by medical devices (33.95%) and invasive procedures (14.36%). Outpatient costs averaged IDR 605,843 ± 757,646 per visit, dominated by medications (35.50%) and supporting services (26.06%). Annually, outpatient costs per patient averaged IDR 7.27 million. Factors significantly influencing costs included severity (NYHA class), comorbidities (CCI >3), and complications (p<0>
These findings highlight systemic under-reimbursement
in heart failure care, emphasizing the need for policy revisions and more
cost-reflective tariff structures.
Kata Kunci : Heart failure, direct medical cost, INA-CBG, case-based payment, hospital economics