Evaluasi Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau Publik di Kota Bekasi
Adelin Gusman Munir, Dr. rer. pol. Dyah Widiyastuti, S.T., M.C.P.
2025 | Skripsi | PEMBANGUNAN WILAYAH
Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik merupakan elemen penting dalam mewujudkan kota yang layak huni (livable city). Kota Bekasi sebagai bagian dari wilayah strategis Jabodetabek, menghadapi tantangan besar dalam penyediaan RTH akibat pesatnya pertumbuhan penduduk dan urbanisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketersediaan RTH publik di Kota Bekasi berdasarkan aspek jumlah, luas, distribusi dan capaian pemenuhannya berdasarkan luas wilayah dan jumlah penduduk. Penelitian ini juga menilai kualitas RTH dalam menjalankan fungsi intrinsik dan ekstrinsik. Metode yang digunakan adalah kuantitatif deduktif. Pengumpulan data diperoleh melalui instansional dan observasi yang disajikan menggunakan statistic deskriptif dan dianalisis secara deskriptif melalui pengukuran variabel-variabel yang dioperasionalkan dengan instrumen penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa capaian RTH publik di Kota Bekasi berdasarkan standar kebutuhan, baru mencapai 11% untuk luas wilayah dan 9% untuk jumlah penduduk. Artinya, ketersediaan RTH Kota Bekasi belum memadai baik dari jumlah maupun luasan, serta terdistribusi tidak merata diseluruh wilayah. Sementara itu, untuk segi kualitas RTH publik di Kota Bekasi secara umum tergolong cukup dengan fungsi ekologis berjalan baik berdasarkan gabungan aspek vegetasi dan KDH, meskipun jumlah vegetasi masih rendah, tetapi kondisi KDH menunjukkan kualitas tinggi. Fungsi sosial telah dimanfaatkan sebagai ruang interaksi, tetapi fasilitasnya belum merata dengan kualitas terbaik di Bekasi Utara dan Mustikajaya, serta terendah di Bantargebang dan Pondok Melati. Fungsi ekonomi berada pada kategori cukup, namun masih terpusat di Kecamatan Medansatria. Sementara itu, fungsi estetika dinilai cukup secara kualitas, tetapi masih terbatas dari segi jumlah dan persebarannya antar kecamatan.
Public Green Open Space (GOS) is a crucial element in realizing a livable city. As part of the strategic Jabodetabek metropolitan area, Bekasi City faces significant challenges in providing adequate public RTH due to rapid population growth and urbanization. This study aims to evaluate the availability of public RTH in Bekasi City in terms of quantity, area, spatial distribution, and its fulfillment based on land area and population-based standards. The study assesses the quality of RTH in performing its intrinsic and extrinsic functions. A quantitative-deductive method was used, with data collected through institutional sources and field observations. The data were presented using descriptive statistics and analyzed through measurements of operationalized variables using research instruments.
The results indicate that the availability of public RTH in Bekasi City has only reached 11% of the land area requirement and 9% of the population-based requirement, which suggests an inadequate provision of RTH in terms of both quantity and size, as well as uneven spatial distribution across districts. In terms of quality, public green open spaces (RTH) in Kota Bekasi are generally classified as adequate. The ecological function performs well based on the combined assessment of vegetation and green coverage (KDH), although vegetation quantity remains low while KDH conditions indicate high quality. The social function has been utilized as a space for community interaction, yet supporting facilities remain unevenly distributed, with the highest quality found in Bekasi Utara and Mustikajaya, and the lowest in Bantargebang and Pondok Melati. The economic function is categorized as moderate, though it remains highly concentrated in the Medansatria District. Meanwhile, the aesthetic function is considered sufficient in terms of quality, but still limited in both quantity and spatial distribution across districts.
Kata Kunci : RTH publik, ketersediaan, kebutuhan, kualitas