MENAVIGASI OTONOMI PENDIDIKAN ALTERNATIF: IDEALISME PERSONHOOD TENTANG KEBEBASAN DAN DISIPLIN DI SANGGAR KANIGARA
Karina Ita Apulina Br Bangun, Dr. Molly Fitzpatrick; Prof. Dr. Pujo Semedi Hargo Yuwono, M.A
2025 | Tesis | S2 Antropologi
Penelitian ini menginvestigasi implementasi kebebasan belajar dalam pendidikan alternatif, secara spesifik mengeksplorasi bagaimana Sanggar Kanigara menavigasi ketegangan antara prinsip-prinsipnya yang otonom dan didorong ideologi dengan tekanan standardisasi dari sistem pendidikan nasional Indonesia, menguji disjungsi budaya dalam cita-cita tentang personhood, kebebasan, dan disiplin.
Pendekatan studi kasus etnografi digunakan dalam penelitian ini untuk memahami bagaimana pendidikan alternatif, khususnya metode dan ideologinya, membentuk persepsi anak muda Indonesia tentang kualitas pendidikan.
Berbagai aspek kehidupan di Kanigara—mulai dari kurikulum hingga disiplin—secara kolektif menghasilkan efek "Sekolah dongeng" dan dilema-dilema yang menyertainya. Sanggar Kanigara adalah situs yang hidup dari negosiasi berkelanjutan di mana filosofi pendidikan akar rumput yang idealis terus-menerus berinteraksi dengan kepraktisan implementasinya dan tekanan dari sistem negara yang lebih luas. Resistensi Kanigara bukanlah sikap monolitik tetapi proses yang dinamis dan kontradiktif di mana idealisme berbenturan dengan pragmatisme, dan di mana upaya untuk membangun alternatif selalu beroperasi di bawah bayangan pengaruh budaya dominan. Meskipun Kanigara dengan mahir menanamkan nilai-nilai intinya tentang otonomi, relevansi lokal, dan kesetaraan melalui pedagogi yang terwujud dan keterlibatan komunitas, ia secara bersamaan bergulat dengan dilema internal, khususnya mengenai disiplin dan keseimbangan antara kebebasan individu dan tanggung jawab komunal. Terlepas dari tantangan-tantangan ini dan sikap kritisnya terhadap pendidikan arus utama, keselarasan Kanigara dengan prinsip-prinsip utama Kurikulum Merdeka memposisikannya sebagai "laboratorium hidup" yang unik—baik penantang maupun perintis yang tidak disengaja yang menawarkan wawasan berharga untuk reformasi pendidikan yang lebih luas.
This research investigates the implementation of learning freedom within alternative education, specifically exploring how Sanggar Kanigara navigates the tension between its autonomous, ideology-driven principles and the standardization pressures of Indonesia's national education system, examining the cultural disjuncture in ideals of personhood, freedom, and discipline.
An ethnographic case study approach was employed in this research to understand how alternative education, specifically its methods and ideology, shapes young Indonesians' perceptions of quality education.
Various aspects of life in Kanigara—from curriculum to discipline—collectively produce a "fairytale School" effect and its accompanying dilemmas. Sanggar Kanigara is a vibrant site of ongoing negotiation where an idealistic, grassroots educational philosophy continuously interacts with the practicalities of its implementation and the pressures of the wider state system. Kanigara's resistance is not a monolithic stance but a dynamic and contradictory process where idealism clashes with pragmatism, and where efforts to build alternatives always operate under the shadow of dominant cultural influences. While Kanigara adeptly instills its core values of autonomy, local relevance, and equality through embodied pedagogy and community engagement, it simultaneously grapples with internal dilemmas, particularly concerning discipline and the balance between individual freedom and communal responsibility. Despite these challenges and its critical stance toward mainstream education, Kanigara's alignment with key principles of the Merdeka Curriculum positions it as a unique "living laboratory"—both a challenger and an unintentional pioneer offering valuable insights for broader educational reform.
Kata Kunci : alternative education, learning freedom, discipline, personhood