Analisis Spasial Prevalensi Diabetes Melitus dan Korelasi dengan Kemiskinan di Kabupaten Sleman Tahun 2022-2023
Yasmine Amelia Rahmawati, Muhammad Arif Fahrudin Alfana, S.Si., M.Sc.
2025 | Skripsi | GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN
Diabetes Melitus (DM) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat dan menjadi masalah kesehatan di Indonesia, termasuk di Kabupaten Sleman. Penelitian ini berujuan untuk mengidentifikasi pola persebaran spasial prevalensi DM dan kemiskinan di Kabupaten Sleman pada tahun 2022-2023 serta mengetahui korelasi antara prevalensi DM dengan jumlah keluarga miskin di wilayah tersebut. Analisis korelasi dilakukan karena status sosial ekonomi, khususnya kemiskinan, diduga berperan dalam risiko dan kejadian DM, serta untuk mendukung perencanaan itervensi kesehatan yang lebih tepat sasaran. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa nilai prevalensi serta persentase KK miskin di Kabupaten Sleman. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis Indeks Moran dan Local Indicators of Spatial Association (LISA) untuk mengkaji pola distribusi spasial DM dan persentase keluarga miskin. Selanjutnya, uji korelasi Spearman digunakan untuk menguji hubungan antara prevalensi DM dan persentase keluarga miskin.
Hasil penelitian menunjukkan penurunan prevalensi DM di seluruh kapanewon pada tahun 2023 dengan pola distribusi spasial yang cenderung acak dan autokorelasi spasial positif yang lemah (Indeks Moran 0,0547 tahun 2022 dan 0,0803 tahun 2023). Analisis LISA mengidentifikasi klaster hotspot DM hanya pada tahun 2023 di Kapanewon Minggir. Persebaran kemiskinan berbeda dengan konsentrasi tinggi di wilayah utara dan barat, sementara wilayah dengan prevalensi DM tinggi memiliki kemiskinan rendah. Uji korelasi Spearman menunjukkan hubungan negatif yang sangat lemah dan tidak signifikan antara prevalensi DM dan kemiskinan (p > 0,05), yang mengindikasikan bahwa kemiskinan bukan faktor utama yang mempengaruhi persebaran DM di Kabupaten Sleman.
Diabetes Mellitus (DM) is a non-communicable disease with a continuously increasing prevalence and has become a significant health problem in Indonesia, including in Sleman Regency. This study aims to identify the spatial distribution pattern of DM prevalence and poverty in Sleman Regency during 2022-2023, as well as to examine the correlation between DM prevalence and the number of poor households in the area. The correlation analysis was conducted because socioeconomic status, particularly poverty, is suspected to play a role in the risk and incidence of DM, and to support more targeted health intervention planning. This study utilized secondary data consisting of prevalence rates and the percentage of poor households in Sleman Regency. A quantitative approach was applied using Moran’s Index and Local Indicators of Spatial Association (LISA) to analyze the spatial distribution patterns of DM prevalence and poverty percentage. Furthermore, Spearman correlation test was used to assess the relationship between DM prevalence and poverty percentage.
The results showed a decrease in DM prevalence across all sub-districts in 2023, with a spatial distribution pattern tending to be random and a weak positive spatial autocorrelation (Moran’s Index of 0.0547 in 2022 and 0.0803 in 2023). LISA analysis identified a DM hotspot cluster only in 2023 in the Minggir sub-district. The distribution of poverty differed, with high concentrations in the northern and western regions, while areas with high DM prevalence had relatively low poverty rates. Spearman test indicated a very weak and non-significant negative correlation between DM prevalence and poverty (p > 0.05), suggesting that poverty is not a major factor influencing the distribution of DM in Sleman Regency.
Kata Kunci : Analisis Spasial, Diabetes Melitus, Indeks Moran, Kemiskinan, Kabupaten Sleman, LISA, Spearman