Pengangguran terbuka dan setengah pengangguran di propinsi Lampung
Lindya Luckyta Sari, Drs. Sukamdi, M.Sc
2004 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGANPembangunan di negara-negara sedang berkembang banyak terhambat dikarenakan adanya ciri demografi yang kurang menguntungkan. Seperti di Indonesia misalnya, masalah kependudukan ditandai oleh jumlah penduduk yang cukup besar, tingkat pertumbuhan yang relatif masih tinggi, struktur umur penduduk yang relatif muda dan penyebarannya yang tidak seimbang. Bila pertumbuhan ekonomi rendah maka penyerapan angkatan kerja juga rendah yang diikuti dengan meningkatnya pengangguran dan setengah pengangguran. Demikian pula yang terjadi di Propinsi Lampung, pada masa krisis ekonomi jumlah angkatan kerja yang meningkat dapat menambah jumlah pengangguran, terutama angka setengah pengangguran. Berdasarkan hal tersebut perlu dikaji lebih lanjut tentang pengangguran menurut daerah kabupaten/kota. Hal ini penting untuk melihat bagaimana variasi pembangunan ekonomi di tingkat kabupaten/kota dapat menjelaskan variasi pengangguran dan setengah pengangguran. Jawaban atas pertanyaan tersebut penting untuk memahami kendala apa saja yang dialami untuk setiap daerah kabupaten/kota dalam memanfaatkan potensi andalan dan unggulan yang ada, dalam upaya memacu usaha ekonomi produktif berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan sumber data Susenas kor tahun 2002, dimana Susenas merupakan satu-satunya survei yang mencakup data ketenagakerjaan sampai tingkat kabupaten/kota. Selain itu juga digunakan data sekunder lainnya yang menginformasikan tentang kondisi dan perkembangan sosial ekonomi. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis tabel silang yang diolah dengan menggunakan program SPSS version 9.0. dengan analisis deskriptif dan kualitatif. Hasil studi menunjukkan bahwa angka pengangguran terbuka di Propinsi Lampung sebesar 5,4 persen. Jika dibandingkan antara kabupaten/kota, maka dapat diambil kesimpulan bahwa penduduk yang bertempat tinggal di kota Bandar Lampung dan Metro mempunyai angka pengangguran terbuka yang lebih tinggi dibandingkan 8 kabupaten lainnya, baik untuk jenis kelamin laki-laki maupun perempuan. Selain itu, angka pengangguran terbuka penduduk perempuan yang berpendidikan juga lebih besar di daerah kota dibandingkan daerah kabupaten. Hal ini menggambarkan ketidakseimbangan antara peningkatan jumlah angkatan kerja terdidik dengan kesempatan kerja yang tersedia. Penduduk kota lebih memilih untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan keahlian mereka dibandingkan dengan memilih pekerjaan seadanya. Demikian pula halnya dengan angka setengah pengangguran, dimana penduduk perempuan sebesar 52,1 persen, lebih tinggi dua kali lipat dari penduduk laki-laki yang hanya 26,9 persen. Dengan demikian, keadaan ini menunjukkan angka setengah pengangguran penduduk perempuan lebih tinggi daripada angka setengah pengangguran laki-laki baik di daerah kabupaten/kota. Tingginya angka setengah pengangguran pada penduduk perempuan dikarenakan sebagian besar dari mereka banyak yang bekerja sebagai pekerja keluarga baik dibayar maupun tak dibayar, atau mereka banyak yang bekerja pada sektor informal
-
Kata Kunci : Pengangguran terbuka,Setengah Pengangguran, Lampung