Evaluasi Pelayanan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) untuk Deteksi dan Penanganan Malaria pada Balita di Puskesmas, Kabupaten Jayapura tahun 2025.
Maria Natalia Laro, Pembimbing 1: Dr. Drs. Abdul Wahab, MPH, Pembimbing 2: Dr. Fitrina M Kusumaningrum, SKM, MPH
2025 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Latar
Belakang:
Papua menyumbang 89% kasus malaria nasional, dengan 10% kasus terjadi pada
balita sebagai kelompok yang sangat rentan terhadap komplikasi dan kematian.
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) merupakan pendekatan komprehensif untuk
menurunkan morbiditas dan mortalitas balita termasuk malaria. Pada tahun 2023,
cakupan layanan MTBS di Kabupaten Jayapura 92%, namun hanya 42% yang diperiksa
malaria. Kondisi ini menunjukkan belum optimalnya deteksi malaria dalam layanan
MTBS.
Tujuan: Mengeksplorasi
hal-hal yang berkontribusi terhadap rendahnya cakupan deteksi dan penanganan malaria
dalam layanan MTBS di Kabupaten Jayapura.
Metode: Penelitian
deskriptif kualitatif dengan desain studi kasus tunggal dilakukan di Puskesmas
Sentani dan Harapan. Pengumpulan data dilakukan melalui
wawancara mendalam, observasi, studi dokumen dan lembar checklist.
Informan terdiri dari pembuat kebijakan 7 orang, pemberi layanan 7 orang dan penerima
layanan 13 orang. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber,
triangulasi metode, dan metode thick description.
Hasil: Penelitian menemukan empat tema utama yang menjadi
hambatan dalam implementasi layanan MTBS untuk deteksi dan penanganan malaria.
Pertama, keterbatasan dukungan dan infrastruktur menghambat pelaksanaan layanan
secara optimal. Kedua, terdapat kesenjangan antara kebijakan dan praktik di
lapangan yang berdampak pada rendahnya cakupan deteksi malaria. Ketiga, sistem
pelaporan serta monitoring dan evaluasi belum terintegrasi dengan baik,
sehingga menyulitkan pemantauan dan perbaikan layanan. Keempat, persepsi pasien
terhadap layanan MTBS dan terbatasnya dukungan eksternal turut memengaruhi
rendahnya pemanfaatan layanan.
Kesimpulan: Implementasi
layanan MTBS untuk malaria belum optimal, terutama pada komponen input,
aktivitas, dan output. Penguatan peran Dinas Kesehatan dan Puskesmas
diperlukan untuk meningkatkan efektivitas layanan MTBS sebagai strategi
pengendalian malaria dan penurunan kesakitan balita.
Background: Papua accounts
for 89% of malaria cases in Indonesia, with approximately 10% occurring in
children under five, a group highly vulnerable to complications and death. The
Integrated Management of Childhood Illness (IMCI) is a comprehensive strategy
to reduce child morbidity and mortality, including malaria. In 2023, 92% of
sick children in Jayapura District received IMCI services; however, only 42%
underwent malaria testing. This indicates suboptimal integration of malaria
detection within IMCI services.
Objective: To explore
factors contributing to the low detection and management of malaria within IMCI
services in Jayapura District.
Method: A qualitative
descriptive study using a single-case design was conducted at Sentani and
Harapan Health Centers. Data were collected through in-depth interviews,
observations, document reviews, and checklists. Informants included seven
policymakers, seven health workers, and thirteen service recipients. Data
validity was ensured through source and method triangulation, as well as thick
description.
Results: The study
identified four main themes hindering the implementation of MTBS services for
malaria detection and treatment. Firstly, limited support and infrastructure
hindered the delivery of optimal services. Secondly, a gap exists between
policy and practice in the field, resulting in low malaria detection coverage.
Thirdly, the lack of integration between reporting, monitoring, and evaluation
systems makes it difficult to monitor and improve services. Fourthly, patients'
perceptions of MTBS services and limited external support also contribute to
low utilisation of services.
Conclusion: The
implementation of IMCI for malaria management remains suboptimal, particularly
in terms of inputs, processes, and outputs. Strengthening the roles of the
District Health Office and primary health centers is crucial to improving IMCI
effectiveness in malaria control and reducing child morbidity.
Kata Kunci : evaluasi program, manajemen terpadu balita sakit (MTBS), malaria, balita sakit, studi kasus.