Laporkan Masalah

Peranan Kaum Sufi dalam Menjaga Stabilitas Negara Mesir Pasca Arab Spring

Muhammad Nur Hidayatulloh, Prof. Dr. Sangidu, M.Hum.

2025 | Tesis | S2 Sastra/Kajian Timur Tengah

Revolusi Musim Semi Arab (Arab Spring) pada 2011 meninggalkan lanskap politik Timur Tengah dalam gejolak mendalam, menyeret negara-negara seperti Libya, Suriah, dan Yaman ke dalam konflik berkepanjangan dan fragmentasi sosial. Namun, di tengah badai tersebut, Mesir menunjukkan resiliensi dan stabilitas yang relatif unik. Tesis ini berangkat dari pertanyaan mengenai faktor-faktor yang menopang keteraturan sosial Mesir pasca-revolusi, dengan fokus pada peran kaum sufi sebagai aktor sosial-keagamaan yang mengakar kuat dalam sejarah dan budaya bangsa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana tarekat-tarekat sufi di Mesir memainkan peran strategis dalam menjaga stabilitas, sekaligus membedah hubungan mereka yang kompleks dan seringkali ambivalen dengan negara di bawah rezim Abdel Fattah al-Sisi.

Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dan analisis wacana terhadap sumber-sumber kepustakaan, penelitian ini menemukan bahwa peran kaum sufi bersifat dualistik. Di satu sisi, melalui institusi zawiyah, perayaan mawlid, dan jaringan informalnya, tarekat sufi berfungsi sebagai jangkar sosial di tingkat akar rumput. Mereka meredam konflik lokal, mempromosikan kohesi sosial, dan menawarkan narasi Islam damai yang menjadi penyeimbang ideologi radikal. Di sisi lain, negara secara sadar memobilisasi sufisme dalam proyek “rekayasa keagamaan” (tajd?d al-khi??b al-d?n?) sebagai strategi untuk melawan ekstremisme dan memperkuat legitimasi politiknya. Kemitraan strategis ini, bagaimanapun, menciptakan sebuah paradoks krusial: antara penguatan peran publik sufisme dan risiko kooptasi yang menggerus otonomi moral serta otentisitas spiritual mereka.

Pada akhirnya, tesis ini menyimpulkan bahwa sufisme di Mesir bukanlah sekadar fenomena spiritual privat, melainkan sebuah kekuatan sosial-politik yang dinamis. Perannya sebagai penjaga stabilitas dinegosiasikan secara terus-menerus dalam medan tarik-menarik antara kebutuhan masyarakat akan harmoni dan kepentingan negara akan kontrol. Spiritualitas di tangan kaum sufi menjelma menjadi kekuatan kultural yang tidak hanya menawarkan pelarian dari realitas, tetapi juga secara aktif membentuk dan mengikat tatanan sosial dalam menghadapi krisis.

The 2011 Arab Spring left the political landscape of the Middle East in profound turmoil, dragging nations such as Libya, Syria, and Yemen into protracted conflict and social fragmentation. Amidst this storm, however, Egypt demonstrated a relatively unique resilience and stability. This thesis originates from an inquiry into the factors underpinning Egypt's social order post-revolution, focusing on the role of Sufis as socio-religious actors deeply rooted in the nation's history and culture. This research aims to analyze how Sufi orders (tarekat) in Egypt play a strategic role in maintaining stability, while also dissecting their complex and often ambivalent relationship with the state under the regime of Abdel Fattah al-Sisi.

Employing a qualitative-descriptive approach and discourse analysis of library-based sources, this research finds that the role of Sufis is dualistic. On one hand, through their zawiyahs, mawlid celebrations, and informal networks, Sufi orders function as grassroots social anchors. They mitigate local conflicts, promote social cohesion, and offer a peaceful Islamic narrative that counterbalances radical ideologies. On the other hand, the state consciously mobilizes Sufism within its "religious engineering" project (tajd?d al-khi??b al-d?n?) as a strategy to combat extremism and bolster its political legitimacy. This strategic partnership, however, creates a crucial paradox: between the strengthening of Sufism's public role and the risk of co-optation that erodes its moral autonomy and spiritual authenticity.

Ultimately, this thesis concludes that Sufism in Egypt is not merely a private spiritual phenomenon but a dynamic socio-political force. Its role as a guardian of stability is perpetually negotiated within the nexus of society's need for harmony and the state's interest in control. In the hands of the Sufis, spirituality is transformed into a cultural force that does not merely offer an escape from reality, but actively shapes and binds the social order in the face of crisis.

Kata Kunci : Sufisme, Stabilitas Politik, Mesir, Arab Spring, Tarekat, Kooptasi Negara, Religious Engineering

  1. S2-2025-485237-abstract.pdf  
  2. S2-2025-485237-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-485237-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-485237-title.pdf