Pengetahuan Ekologi Tradisional: Studi Tentang Pengelolaan Dan Pemanfaatan Hutan Adat Wonosadi Oleh Masyarakat Beji, Yogyakarta
Aris Shihabuddin, Dr. Samsul Maarif dan Dr. Jonathan D. Smith
2025 | Tesis | S2 Agama dan Lintas Budaya
Tesis ini mengkaji tentang pengetahuan ekologi tradisional menjadi dasar
utama dalam praktik pengelolaan dan pemanfaatan hutan adat Wonosadi oleh
masyarakat Beji, Yogyakarta, sebagai bagian dari upaya pelestarian lingkungan.
Dengan menggunakan kerangka politik ekologi dan pengetahuan ekologi
tradisional, studi ini berupaya memahami permasalahan sekaligus memberikan
wawasan melalui rumusan pertanyaan penelitian: bagaimana masyarakat Beji
bernegosiasi dengan Sultan dalam pengelolaan hutan adat? Bagaimana pengetahuan
masyarakat Beji membentuk pemahaman, kepercayaan, dan praktik dalam upaya
melestarikan hutan adat Wonosadi? Serta bagaimana bentuk konsensus masyarakat
dalam menjaga keberlanjutan hutan adat? Penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan metode etnografi pada bulan November 2024 hingga Maret 2025 di Desa
Beji, Ngawen, Gunung Kidul, Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
akses masyarakat terhadap hutan diperoleh melalui instrumen legal-formal
seperti serat kekancingan, yang merepresentasikan pengakuan simbolik
dari Kesultanan Yogyakarta. Dokumen ini tidak hanya menjadi dasar hukum, tetapi
juga memperkuat posisi masyarakat dalam negosiasi politik atas ruang. Akses
terhadap hutan menjadi hasil dari upaya reproduksi kekuasaan yang dijalankan
melalui simbol budaya, nilai adat, dan hubungan historis yang dibangun dengan
institusi kesultanan. Kemudian, pengetahuan ekologis masyarakat membentuk cara
pandang terhadap hutan sebagai bagian dari kehidupan yang menyatu termanifestasikan
dalam perilaku keseharian masyarakat. Tradisi seperti ritual adat, hukum adat,
sejarah dan pengalaman menjadi landasan dalam mereproduksi kedaulatan ekologis
yang memperkuat ikatan dengan hutan dan ruang hidup mereka. Temuan ini menegaskan bahwa
integrasi TEK dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya memperkuat keadilan
ekologis dan sosial. Dengan tidak menjadikan sumber daya sebagai komoditas,
masyarakat Beji justru sedang mengafirmasi posisi mereka sebagai pelindung dan
pemilik atas ruang hidupnya serta menjaga nilai-nilainya.
This thesis examines traditional ecological knowledge as the main basis for the management and utilization of the Wonosadi customary forest by the Beji community in Yogyakarta, as part of environmental conservation efforts. Using the framework of ecological politics and traditional ecological knowledge, this study seeks to understand the issues and provide insights through the following research questions: how does the Beji community negotiate with the Sultan in the management of the customary forest? How does the Beji community's knowledge shape their understanding, beliefs, and practices in efforts to preserve the Wonosadi customary forest? And what form does community consensus take in maintaining the sustainability of the customary forest? This research was conducted using ethnographic methods from November 2024 to March 2025 in Beji Village, Ngawen, Gunung Kidul, Yogyakarta. The research findings indicate that community access to the forest is obtained through legal-formal instruments such as serat kekancingan, which represent symbolic recognition from the Sultanate of Yogyakarta. This document not only serves as a legal basis but also strengthens the community's position in political negotiations over space. Access to forests is the result of efforts to reproduce power through cultural symbols, customary values, and historical relationships built with the sultanate institution. Furthermore, the community's ecological knowledge shapes their perspective on forests as an integral part of life, manifested in their daily behaviors. Traditions such as customary rituals, customary law, history, and experience serve as the foundation for reproducing ecological sovereignty, which strengthens the bond with the forest and their living space. These findings confirm that the integration of TEK in the management and utilization of resources strengthens ecological and social justice. By not treating resources as commodities, the Beji community is affirming their position as protectors and owners of their living space and preserving their values.
Kata Kunci : Hutan Adat Wonosadi, Masyarakat Beji, Pengetahuan Ekologi Traditional