Dimensi Gender Dalam Ketahanan Pangan Rumah Tangga di Kabupaten Sleman
Intan Keysha Alia, Amesta Kartika Ramadhani, S.T., M.P.W.K.
2025 | Tugas Akhir | D4 PEMBANGUNAN EKONOMI KEWILAYAHAN
Ketahanan pangan tetap menjadi isu strategis yang melibatkan berbagai aspek kehidupan rumah tangga, termasuk akses terhadap pangan yang bergizi, aman, dan terjangkau. Berdasarkan data prevalensi ketidakcukupan pangan, Kabupaten Sleman memiliki angka sebesar 8,05?n masuk dalam kategori rentan pangan, yang mengartikan bahwa masih terdapat sebagian rumah tangga yang belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi pangan minimal secara berkelanjutan. Lebih jauh, aspek ketersediaan pangan di Sleman justru menunjukkan tren penurunan, hingga mencapai nilai terendah dibanding kabupaten/kota lain di DIY yakni 66,51 pada tahun 2023. Selain itu, Kabupaten Sleman juga menghadapi masalah sosial berupa tingginya angka perceraian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh gender kepala rumah tangga dan status pernikahan terhadap ketahanan pangan rumah tangga di Kabupaten Sleman pada tahun 2024, dengan menggunakan metode Structural Equation Modeling (SEM) berbasis Partial Least Squares (PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis berdasarkan gender menunjukkan bahwa hanya karakteristik sosio-ekonomi yang berpengaruh signifikan, dengan kepala rumah tangga laki-laki menunjukkan pengaruh negatif terhadap ketahanan pangan, sementara kepala rumah tangga perempuan menunjukkan pengaruh positif. Selain itu, status pernikahan tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap ketahanan pangan rumah tangga. Hasil ini mengungkap bahwa gender dalam pengelolaan pangan dipengaruhi oleh karakteristik sosio ekonomi seperti pendapatan dan akses air bersih serta layanan kesehatan.
Food security remains a strategic issue that involves
various aspects of household life, including access to nutritious, safe, and
affordable food. Based on food insecurity prevalence data, Sleman Regency has a
rate of 8.05% and is classified as food insecure, meaning that there are still
some households that are unable to sustainably meet their minimum food
consumption needs. Furthermore, food availability in Sleman shows a declining
trend, reaching the lowest value compared to other districts/cities in DIY at
66.51 in 2023. Additionally, Sleman Regency faces social issues such as high
divorce rates. This study aims to analyse the influence of household head
gender and marital status on household food security in Sleman District in
2024, using the Structural Equation Modelling (SEM) method based on Partial
Least Squares (PLS). The results of the study indicate that the analysis based
on gender shows that only socio-economic characteristics have a significant
influence, with male household heads showing a negative influence on food
security, while female household heads show a positive influence. Additionally,
marital status does not show a significant influence on household food
security. These findings reveal that gender in food management is influenced by
socio-economic characteristics such as income and access to clean water and
health services.
Kata Kunci : Kata Kunci: Ketahanan Pangan, Gender Kepala Rumah Tangga, Status Pernikahan Kepala Rumah Tangga, Sosio Ekonomi, SEM-PLS/Keywords: Food Security, Gender of Head of Household, Marital Status of Head of Household, Socioeconomic Status, SEM-PLS